Pendakian gunung dan pengembaraan hutan rimba memerlukan persiapan yang harus matang dan memenuhi standar keselamatan. Mulai dari kekuatan fisik, mental hingga pengenalan sumber-sumber kalori, air, antioksidan dan vitamin C yang sangat diperlukan ketika bekal makanan mulai menipis hingga sudah habis.

Tentunya pengenalan biologi hutan sangat penting untuk mendukung keahlian survival kalori, air dan vitamin C di atas. Biologi hutan erat hubungannya dengan pengenalan vegetasi endemik atau tumbuhan asli atau lokal wilayah pendakian. 

Riset kecil-kecilan mengenai lokasi, pemetaan tumbuhan endemik yang menjadi sumber kalori, air dan vitamin C merupakan langkah awal dari sebuah pendakian yang aman dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.

Kemampuan untuk mengenali tumbuhan-tumbuhan yang bisa dimakan di gunung dan hutan merupakan kunci untuk bertahan jika bekal habis ataupun dalam keadaan tersesat. 

Sebagai bekal pengetahuan, tak ada salahnya untuk belajar mengenali vegetasi khususnya yang endemik di gunung dan hutan. Pengalaman penulis yang sering terjadi ketika melakukan summit attack atau pencapaian puncak gunung, bekal otomatis menipis bahkan habis. 

Bukan karena salah manajemen logistik maupun kemampuan pengaturan waktu tempuh, namun banyak faktor yang membuat cadangan logistik kita meleset.

Mulai dari cuaca yang sulit diprediksi, gairah altruisme atau beramal ketika melihat saudara sependakian kehabisan bekal, asupan gizi untuk yang sakit, hingga rusaknya bahan makanan. 

Salah satu vegetasi endemik yang banyak dijumpai di area puncak gunung dan tebing bahkan lembahan adalah vegetasi endemik cantigi ungu (Vaccinium varingiaefolium).

Cantigi adalah flora Indonesia khas tumbuh mendominasi sekitar kawah pegunungan. Vegetasi endemik yang tahan terhadap cekaman lingkungan ini mempunyai nama yang bermacam-macam sesuai dengan kearifan lokal. 

Ada yang menyebutnya sebagai mentigi, manis rejo, delima montak, brenganyi, kalimuntiang, sikil, suwagi dan hop bush

Cantigi merupakan vegetasi endemik yang berupa pepohonan kecil yang selalu hijau sepanjang tahun dengan pucuknya yang berwarna merah-ungu. Cantigi juga masuk ke dalam kelompok tanaman perdu atau terrestrial dengan memiliki batang kayu yang keras khas vegetasi pegunungan tipe Sub-Alpin atau di kisaran ketinggian 1500-3300 mdpl (meter di atas permukaan air laut).

Cantigi mampu tumbuh di punggung bukit, batu-batu, lereng berbatu, dan di sekitar kawah dengan paparan sulfur atau gas belerang (H2S) dan solfatara yang tinggi sekalipun.

Cantigi ungu atau cantigi gunung (Vaccinium varingifolium) (Bl.) Miq. (Ericaceae) adalah flora endemik sebagian besar gunung-gunung di Indonesia yang masih berkerabat erat dengan bilberry, huckleberry, blueberry, cranberry. 

Bersama dengan beberapa anggota Vaccinium lainnya, seperti V. bancanum, cantigi ungu tumbuh di Pulau Jawa secara alami dan hanya di kawasan pegunungan tinggi (di atas 1500 mdpl). 

Suatu pemandangan yang khas muncul ketika mendekati daerah kawah adalah dominasi pepohonan kecil yang selalu hijau sepanjang tahun dengan pucuknya yang berwarna merah-ungu. 

Backer & Bakhuizen van den Brink (1965), mengungkapkan bahwa tumbuhan ini dapat ditemui di seluruh pulau Jawa pada ketinggian antara 1500-3300 mdpl.

Tumbuhan ini memiliki bunga dan buah yang dapat dijumpai sepanjang tahun (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1965). Daun, buah, dan batangnya sangat bermanfaat bagi kebutuhan survival pendaki. 

Daun tumbuhan ini dapat dimakan sebagai lalapan. Buah cantigi ungu yang berwarna kehitaman memiliki rasa manis dan juga dimakan. Batang cantigi ungu biasa digunakan untuk dibuat arang (Heyne, 1987; Ogata, 1986) ataupun sebagai bivak alam para pendaki. 

Batang-batangnya yang kokoh dengan akar yang sangat menghunjam ke tanah, sangat cocok sebagai anchor atau tambatan dalam keadaan genting yang dialami pendaki. 

Karena kedekatannya dengan tumbuhan bilberry yang telah dikenal di kalangan oftalmologis sebagai tumbuhan obat yang dapat berperan dalam kesehatan mata, maka cantigi ungu pun juga mempunyai khasiat yang sama untuk kesehatan mata.

Antioksidan pada buah cantigi ungu dapat membantu memelihara kesehatan mata dan berpotensi mengobati katarak (Carey et al., 2011; Varma et al., 2012).

Menurut data farmakologi klinis WHO tahun 2005, senyawa antosianin pada bilberry berperan besar dalam mengobati gangguan kesehatan mata (glukoma dan katarak). Senyawa ini juga ada pada ekstrak buah cantigi ungu. 

Senyawa flavonoid yang terkandung di dalam ekstrak buah cantigi ungu juga memiliki peran penting dalam aktivitas antioksidan. Senyawa antosianin juga mampu menangkap radikal bebas (Chen, Chan, Ho, Fung, & Wang, 1996; Rice-Evans, Miller, & Paganga, 1996).

Sedang aktivitas antioksidan Vitamin C dan tablet ekstrak bilberry lebih kuat dibanding ekstrak buah cantigi ungu. 

Selain itu, didukung oleh penelitian (Yulyana, et al., 2016), menyatakan bahwa kandungan kimia pada daun cantigi ungu adalah senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan di antaranya saponin, flavonoid, tanin, steroid, dan triterpenoid.

Kandungan steroid alami pada buah cantigi ungu dapat membantu pemulihan keletihan otot pendaki. 

Warna yang dimiliki oleh buah cantigi ungu yaitu biru-hitam/ungu-hitam merupakan ciri-ciri yang mudah diamati dari tumbuhan yang mengandung antosianin. 

Senyawa ini merupakan golongan senyawa flavonoid yan penting dalam aktivitas antioksidan.

Itulah data farmakologi cantigi ungu yang sangat penting diketahui untuk bekal survival para pendaki. Mulai dari daun, buah hingga batang pohonnya sangat berguna di saat keadaan darurat. 

Kehebatan tumbuhan cantigi ini diabadikan oleh novelis asal Bandung, E. Rokajat Asura dalam novelnya, Serat Cantigi.

Tumbuhan cantigi ungu sangat melimpah sekali di area puncak hingga lembahan. Untuk daunnya perlu diketahui hal-hal sebagai berikut jika digunakan sebagai bahan makanan saat survival.

Pertama, ambilah daun cantigi ungu yang agak jauh dari area kawah. Hal ini untuk mencegah iritasi pada tenggorokan saat dimakan. 

Daun cantigi ungu yang dekat dengan kawah mendapat paparan belerang yang tinggi sehingga mulut daunnya atau stomata lebih banyak daripada mulut daun cantigi ungu yang jauh dari area kawah.

Kedua, untuk buahnya yang dekat dengan paparan belerang sebaiknya diusap dahulu sebelum dimakan. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan lapisan uap belerang yang menempel di kulit buah.

Selamat bersurvival!