Saya suka menonton sepak bola, apalagi jika kedua tim yang bertanding menyajikan permainan indah. Semalam saya tidak sengaja menyaksikan pertandingan di ajang Piala Asia antara Suriah melawan Palestina. Di saluran lain, saya tidak mendapatkan pertandingan yang menarik karena Madrid kalah di kandang sendiri oleh Real Sociedad.

Walaupun saya bukan pendukung Real Madrid, saya tidak kuat menonton pertandingan ini dan mengganti saluran lain. Ternyata saya baru tersadar bahwa antara kedua tim yang bertanding di Piala Asia itu adalah negara yang sedang mengalami perang.

Saya memutuskan menyaksikan Piala Asia sampai selesai yang kick off-nya sudah dimulai sebelum Madrid bermain. Suriah bermain cukup rapi, sedangkan Palestina bermain asal menghalau bola; dan begitu mendapat peluang, langsung tembak ke gawang lawan padahal jaraknya masih dua puluh meter. Pertandingan berlangsung keras terutama dilakukan oleh para pemain Palestina. Pada akhirnya, pemain mereka, Mo Saleh (bukan Mo Salah), terkena kartu merah. 

Lalu saya heran bagaimana bisa mereka berlatih sepak bola di tengah perang? Pertanyaan ini saya tujukan ke tim Suriah yang bermain lebih rapi dan menguasai jalannya pertandingan. Mereka mendapatkan lebih banyak peluang walaupun gagal mencetak gol ke gawang Palestina dan pertandingan berakhir dengan skor kacamata.

Pendukung kedua kesebelasan banyak berdatangan di Stadion Shahraj yang berada di Uni Emirat Arab sebagai tuan rumah Piala Asia. Jumlah penonton yang datang mencapai 8.471 orang. Jumlah penonton ini hanya kalah banyak dari pertandingan yang melibatkan tuan rumah. Namun dibandingan pertandingan lain, jumlah ini dua kali lipat lebih banyak. 

Berdasarkan catatan BBC yang berjudul Syiria: Football on the frontline pada bulan Maret tahun lalu, bermain ataupun menonton sepak bola, bagi masyarakat Suriah, sangatlah sulit dilakukan walaupun mereka sangat mencintai sepak bola.

Masyarakat harus memprioritaskan keselamatan mereka dari serangan teroris, setelah itu mereka juga harus memenuhi kebutuhan dasarnya karena makanan, air bersih, listrik, dan lain-lain tidak tersedia. Untuk bermain dan mendukung tim sepak bola yang bermain di luar negeri juga sulit dilakukan karena visa tidak mudah didapatkan dalam kondisi yang seperti itu. Hal itu saya yakin juga terjadi di Palestina.

Namun apa yang dilakukan para pendukung dalam pertandingan ini tidak menunjukkan bahwa di negara mereka terjadi perang. Setidaknya itulah yang bisa saya lihat di layar kaca. Yel-yel dan nyanyian mereka lantunkan dengan alat musik tradisional juga tarian. Saat turun minum, terdengar seorang mengajak bernyanyi kedua pendukung melalui pengeras suara yang ada di stadion. Suasana menjadi meriah.

Melalui catatan tersebut, juga terungkap bahwa sejak bulan September 2017, Timnas Suriah berlatih dan bertanding di Malaysia. Waktu itu mereka ingin tampil di Piala Dunia yang berlangsung di Rusia pada 2018 dengan menjalani laga kualifikasi di negara lain. Sebuah langkah maju demi mempertahankan keutuhan sepak bola mereka. 

Kondisi yang tidak memungkinkan jika mereka bermain di negara sendiri. Baku tembak dan dentuman bom selalu menemani saat mereka melakukan pertandingan. Bahkan terkadang seorang wasit bisa saja menghentikan pertandingan lalu Ia berganti seragam menjadi tentara untuk terjun di medan perang.

Sepak bola dan olahraga lainnya sejatinya adalah hiburan. Ia menghibur para pemain dan penonton di tengah kehidupan yang dijalaninya. 

Bagi rakyat Palestina dan Suriah yang kehidupan sehari-harinya dihiasi dengan perang, sepak bola adalah oase. Makanya kita sering melihat di foto yang tersedia di internet saat mereka bermain sepak bola di tengah reruntuhan perang. Sepak bola bisa menenangkan sejenak para korban perang. Walaupun ketika semua itu berakhir, rasa cemas dan waswas kembali hadir untuk keluarga mereka yang ditinggalkan di medan perang.

Sepak bola adalah alternatif melupakan ketakutan akan perang. Banyak para korban perang Suriah yang melarikan diri dari negara mereka tetapi malah berakhir mengenaskan di pantai-pantai timur Eropa. Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa Suriah dan Palestina tetap mengikuti Piala Asia. Bukan persoalan memenangkan pertandingan atau mendapatkan tropi juara, tetapi memberikan peran di dalam kerja sama antarnegara. 

Piala Asia bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang paling berkuasa di Asia, tetapi menunjukkan solidaritas antar-sesama bangsa Asia. Sepak bola adalah kenduri. Semua orang berhak merayakan dan berpartisipasi di dalamnya. Mereka menunjukkan perannya, juga memperlihatkan bahwa mereka baik-baik saja walaupun sebenarnya terluka. Kita semua harus angkat topi untuk mereka.

Ada sebuah pelajaran yang dapat dipetik dari situasi ini. Jika kita belum mampu berprestasi dalam kompetisi sepak bola atau tidak memiliki kemampuan yang memadai di dalam lapangan, setidaknya kita memiliki peran di dalamnya.

Contoh situasi lain, Jepang sebagai wakil Asia di Piala Dunia Rusia 2018 memberikan peran kepada dunia tentang pentingnya kedisiplinan dan merawat lingkungan. Sikap mereka membersihkan stadion seusai pertandingan nyatanya dapat membuka mata dunia, bahkan mereka ditiru oleh bangsa lainnya. Walaupun Jepang tidak memiliki prestasi cemerlang di sana, masyarakat dunia menaruh rasa hormat setinggi-tingginya kepada mereka. Begitulah seharusnya sepak bola melatih kedewasaan para pemujanya.