“Terus gimana bersihinnya?” Saya bertanya pada suami saat makan malam.

Beberapa jam sebelumnya ia menelepon ibunya. Kucing mereka dikabarkan akan segera mendapat perawatan. Bukan karena sakit. Sekedar perawatan rutin membersihkan gigi. Saya sempat mengulang kata-kata terakhir.

Perawatan membersihkan gigi kucing dilakukan secara profesional di dokter hewan langganan mereka. Lalu terlontarlah pertanyaan itu dari mulut saya. Spontan. Karena tak pernah terpikir sebelumnya. Bagaimana membersihkan gigi kucing?

“Ya dibius dulu kucingnya..,” suami menjawab santai.

“Hm, ada-ada aja,” saya bergumam.

“Lha, memangnya kamu pikir kucing tak butuh makan enak? Manusia aja butuh rutin ke dokter gigi supaya bisa makan enak,” suami tiba-tiba nyolot.

“Ya.. Tapi itu kan orang. Bukan kucing. Lagian kucing-kucing sini makannya udah cukup enak. Makanan khusus buat kucing. Lembut. Tanpa duri apalagi tulang. Harganya juga gak murah-murah amat. Bukan makanan sisa,” batin saya.

Tentu saja gerutuan itu hanya saya simpan dalam hati. Daripada makan malam kami saat itu jadi pahit gara-gara ribut soal kucing :)

***
Saya tak suka binatang peliharaan. Keluarga saya pun rasa-rasanya tak pernah ada yang tergila-gila hewan tertentu untuk dirawat. Waktu kecil dulu kami memelihara ayam. Saya kira lebih karena alasan pragmatis saja saat itu memelihara ayam. Daging dan telurnya bisa dikonsumsi.

Nenek saya pun pernah punya sapi dan kambing. Tapi lagi-lagi saya kira lebih karena alasan mutualisme simbiosis saja nenek memelihara binatang-binatang itu. Tenaga dan susunya bisa dikonsumsi. Lagipula harga jual mereka juga tinggi menjelang hari raya.

Keluarga suami saya pemelihara serius kucing. Semuanya. Bapak-ibunya. Anak-anaknya. Sampe tante dan om-nya. Sangking seriusnya mereka merawat kucing sampai saya pikir tarafnya hampir sama dengan “gila”.

Mereka memperlakukan kucing selayaknya bayi. Bila para anggota keluarga itu lama tak jumpa atau saat bertelepon, salah satu pertanyaan yang tak pernah luput adalah apa kabar si A atau B, nama kucing mereka. Saat berpisah pun mereka akan menitip salam pada si kucing.

Saya tak tahu dari mana asal kegilaan mereka pada kucing. Yang pasti bukan karena mendengar ceramah ustaz tentang teladan Rasulullah yang menyayangi kucing, tentu saja, hakul yakin!

***
Sejak tinggal dan bergaul dengan orang-orang di negeri empat musim ini banyak betul hikmah hidup yang saya pelajari. Semua itu saya dapat tanpa perlu mendengar ceramah-ceramah para juru dakwah.

Saya sering tertegun-tegun dengan perlakuan orang-orang yang sering dianggap kafir ini terhadap makhluk hidup di muka bumi. Bukan hanya hewan peliharaan, tapi juga-juga hewan liar yang hidup di alam bebas.

Pemerintah-pemerintah lokal misalnya, serius memikirkan bagaimana bebek-bebek dan angsa liar tetap bisa asik berenang di sungai-sungai yang mengalir di kota atau kampung mereka.

Mereka punya program serius menjaga air dan lingkungan sungai tetap sehat sebagai habitat para hewan untuk tetap hidup dan beranak pinak. Tanpa pernah diusik. Bahkan haram hukumnya nyolong telur-telur mereka.

Di banyak tempat juga akan mudah ditemui perkumpulan berisi orang-orang yang secara suka rela membangun pagar pembatas di hutan-hutan lokal setempat. Pagar pembatas itu dibuat agar kodok-kodok yang biasa nyanyi di empang dan rawa-rawa di hutan lokal tidak nyasar, “ujug-ujug” nyebrang jalan dan mati terlindas kendaraan yang lewat.

Saya pernah nonton acara televisi yang membahas bagaimana persiapan menjelang musim dingin agar landak-landak dan tupai yang berkeliaran di kebun tidak mati kedinginan.

Mereka mencontohkan bagaimana membangun shelter-shelter alam yang terdiri dari ranting-ranting dan tumpukan daun-daun yang banyak rontok di musim gugur sebagai tempat perlindungan hewan-hewan liar ini.

Burung-burung yang terbang bebas di udara pun tak kalah mendapat perhatian. Tidak, bukan dengan dikurung di sangkar dan digantung di pekarangan rumah. Tapi membuat rumah-rumah kecil yang digantung di atap atau pepohonan untuk tempat singgah para burung sebelum mereka terbang bebas entah ke mana.

Rumah-rumah alam burung ini biasanya diisi dengan biji-bijian dan air sebagai pakan burung. Bila musim semi tiba biasanya akan banyak terdengar kicauan burung yang mampir makan-minum di bilik-bilik asmara para burung ini :)

Bila terhadap hewan liar saja mereka sebegitu perhatiannnya, bisa dibayangkan bagaimana seriusnya mereka merawat hewan peliharaan. (Khusus di Jerman, orang malah dikenakan pajak bila memelihara anjing. Toh aturan ini tak menyurutkan warganya untuk punya anjing di rumah-rumah mereka).

Bukan saja saat hewan-hewan ini hidup tapi juga urusan saat mereka tak lagi bernyawa. Sebuah berita lokal di televisi pernah menurunkan berita tentang perlunya membuat area khusus untuk pemakaman anjing-anjing dan hewan peliharaan warganya.

Orang-orang ini saya percaya tak perlu muluk-muluk memikirkan bagaimana kehidupan dan tinggal di surga yang entah seperti apa bentuknya di alam sana. Tak perlu mengkhayalkan keberadaan bidadari.

Surga ada di bumi. Di tempat kita tinggal saat ini. Gambaran sungai-sungai yang jernih mengalir bukan khayalan semata. Mereka ciptakan sendiri tempat yang nyaman bukan saja untuk manusianya tapi juga para hewan dan makhluk lain di alam semesta ini.

Bidadari? Who cares?