Dalam pemahaman saya, surga dan neraka sifatnya berlaku umum atau universal, diperuntukkan bagi siapapun, tidak mengenal latar belakang apapun, bahkan termasuk agama. Karena setahu saya, baik surga maupun neraka disediakan oleh Yang Maha Esa bagi hamba-hambaNya yang berbuat baik dan mendapat rahmat-NYA.

Ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa masuk surga atau neraka karena motif agama, maka akibatnya akan terjadi model "kapling" terhadap kedua tempat tersebut. Dugaan saya, orang cenderung memilih kapling surga dibanding neraka. Kenapa? Karena sejak jaman baheula sudah ada doktrin yang menyebut jika surga tempat yang indah dan menyenangkan.

Saya berpikir "tengil", jika surga dan neraka hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beragama berarti orang mati atau orang yang sedang mempersiapkan mati perlu membawa "KTP" sebagai bentuk jaminan ketika ditanya penjaga alam kubur, apa agamamu? Maka dengan mudah dia menunjukkan KTPnya.

Dalam hati kecil saya, tentu saya lebih menyukai membicarakan surga. Karena surga dianggap sebagai tempat paling enak, menggiurkan sekaligus menggoda terutama bagi orang yang merasa yakin akan keberadaan surga sebagaimana yang selama ini dikabarkan oleh kitab suci dan (terumata) para pemuka agama.

Sah-sah saja jika seseorang yg beragama memiliki pengharapan masuk surga, namun tidak ada larangan juga jika ada yang bertanya kepada kita (untuk tidak menyebut orang yg beragama)  memangnya kamu pantas masuk surga? Mau jawab apa coba kalo ditanya begitu. Sungguh serba tidakak enak. Pingin jawab pantas tidaklah etis, mau jawab tidak pantas lha kok seperti tidak optimis dan seperti tidak memiliki keyakinan (iman) kepada yang Maha Kuasa. 

Dalam kerangka berpikir teologis, surga merupakan jaminan yang disediakan oleh Tuhan bagi hambaNya yang bebrbuat baik menurutNYA, bukan baik menurut manusia atau makhluk fana lainnya. Bagi saya, sang pencipta adalah satu-satunya pemilik otoritas tunggal dalam hal melakukan penilaian terhadap perbuatan manusia. Jika Tuhan menghendaki masuk surga atau masuk neraka bukankah hal tersebut sama-sama kehendak Tuhan? Mengapa musti risau dengan kehendak-NYA jika memang benar-benar beriman? 

Lalu bagaimana agar kita bisa menjadi pribadi yang senantiasa berbuat balik (salih)? Menurut saya, perlu terus menerus belajar dan berproses serta berupaya menjalankan apapun secara ikhlas, yaitu belajar membersihkan (bersih, jernih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi ataupun immateri). 

Penulis memahami hal ini tidaklah gampang, membutuhkan energi yang luar biasa, namun saya meyakini dapat dibiasakan.  Bagi penulis, dengan ikhlas boleh jadi akan mampu melihat segala sesuatu dengan pandangan yang terbuka, jujur atau bahkan dengan legawa. Meminjam istilah dari Nadirsyah Hosen, ikhlas adalah wujud lengkap keyakinan pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah kepasrahan, bukan mengalah, malah kalah. Ikhlas adalah sanggup membawa berlari, melawan dan mengejar, namun tetap memilh patuh.

Dari sini tidaklah terlalu berlebihan jika penulis menyebutkan bahwa sebagai manusia kita hendaknya berperilaku yang wajar-wajar saja, tidak perlu terlalu serius atau "bringasan" ingin memperoleh surga, karena seperti kita ketahui bahwa surga bukanlah kepunyaan manusia, melainkan milik Tuhan. Terus terang, saya agak khawatir jika terlalu serius menginginkan surga, bisa jadi hidup jadi spaneng (tegang), rentan marah dan menganggap yang lain salah atau bahkan kafir. Menurut saya, ya terserah Tuhan siapa yang boleh masuk surga. 

Ada terjemahan sebuah hadis yang populer di kalangan penceramah dan kerap kali diperdengarkan dalam berbagai forum keagamaan. Kurang lebih berbunyi seperti ini;  “Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah”.(HR. Muslim).

Sementara, ada juga ayat dalam kitab suci al-Qur'an yang menerangkan bahwa amalan salih atau perbuatan baik adalah sebab seseorang masuk surga. Sekali lagi amalan salih, bukan agama. Karena agama menurut pendapat saya berfungsi sebagai panduan melakukan amalan salih bukan sebagai penentu kesalihan seseorang.

Jika agama dianggap sebagai penentu kesalihan atau kebaikan seseorang lalu bagaimana dengan orang-orang yang memilih tidak beragama namun terus menerus berbuat baik? Bukankah ada ajaran yang menyebutkan bahwa jika Tuhan sebagaimana prasangka hambaNYA? Jika kita berprasangka baik saya yakin Tuhan akan mengetahuinya, kita tidak berprasangka saja Tuhan pasti tahu apa yang terlintas dalam hati dan pikiran.

Sebagai catatan penutup, bagi saya kita tidak perlu terlalu risau apakah masuk surga atau neraka. Sebaliknya, sepatutnya kita malah perlu khawatir jika tidak pernah berbuat baik. Meminjam istilah Gus Miftah yang viral di media sosial menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia pasti ada salahnya, namun sejelak-jeleknya manusia harus ada baiknya. Artinya, tugas kita ya hanya berbuat baik dengan segala kemampuan yang kita miliki. Karena berbuat baik beragam jenis dan bentuknya, bahkan hanya senyum saja ketika bertemu dengan teman sudah termasuk berbuat baik. Wallahu a'lam.