Bagi orang yang baru belajar agama,  tentu kampanye ala Novel Bamukmin (NB) yang mengatakan bahwa yang memilih Prabowo akan masuk surga membuatnya manggut-manggut dan mendengarkan dengan hikmat. Maklum, namanya juga baru belajar agama. Tetapi bagi yang belajar agama tidak prematur, memiliki pengetahuan agama secara mendalam dan komprehensif, maka pernyaatan dan ajakan NB itu dinilai tidak bisa dinalar, tanpa logika mungkin juga ngawur

Ajakan yang menghebohkan publik itu disampaikan dalam acara deklarasi  perempuan mendukung Prabowo. Sebelum berdoa, NB menyampaikan tentang kunci masuk surga, yakni pinta sama Allah, pinta sama Rasulullah, pinta sama Prabowo, pinta sama Sandiaga Uno. Untuk menegaskan dan meyakinkan seruannya, NB menyelipkan kata "Betul? Takbir,  Insyaallah masuk surga," kata Novel (12/10/18)

Tentunya tim kampaye kedua kontestan itu mengedepankan ide dan gagasan agar Indonesia semakin sejahtera. Menjadikan agama sebagai alat legitimasi dan meraih simpati publik agar berdampak pada elektoral menandakan akan miskinnya ide dan kreativitas. Agama diseret dalam ruang kontestasi hanya untuk meraih kekuasaan. Perilaku lacur yang mengatakan kubu lawan kafir dan tidak akan masuk surga menjadi pertanda bahwa strategi kurang beradab dengan menjelek-jelekkan kubu lawan dilakukan bagi orang yang malas berpikir.

Sungguh tidak bisa dinalar argumentasi yang disampaikan NB bahwa yang memilih Prabowo itu masuk surga. Sementara kubu Jokowi itu dihuni orang-orang kafir, PKI. NB menjadi orang yang memiliki otoritatif untuk menilai siapa yang masuk surga dan siapa saja yang masuk neraka. 

Padahal jika kita baca pesan tokoh-tokoh sufi, salah satunya adalah Sultonul Aulia Syekh Abdul Qodir Jaelani yang mengatakan bahwa jangan suka menghakimi  orang lain lebih buruk dari kita. Ia menegaskan, "Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah dalam  hatimu, aku tidak tahu bagamana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya  dia memeluk Islam dan beramal sholeh, dan mungkin boleh jadi diakhri usia diriku kufur dan berbuat buruk."

Politik kekuasaan yang menyeret agama terlibat dalam relung politik dengan justifikasi surga bagi golongannya dan politik takfir bagi rival politiknya sungguh mencerminkan dangkalnya pemahaman agama. Agama yang mengajak terhadap perilaku santun dan damai dan saling menghargai luluh lantah lantaran nafsu berkuasa menguasai akal dan nuraninya. Dan pada gilirannya membutakan mata hati dan batinnya.

Kontestasi kekuasaan dalam gelanggang pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden tahun 2014 lalu dengan menampilkan berbagai isu yang menyudutkan rival politiknya adalah bukti bahwa budaya politik yang beretika dan beradab jauh panggang dari api. Isu PKI, memihak asing dan aseng mewarnai kontestasi tahun 2014 lalu. Tampaknya tahun 2019, politik yang menyudutkan pihak lawan akan terulang kembali, bahkan lebih alot ketimbang tahun 2014.

Kapan budaya politik beranjak semakin dewasa yang mendepankan ide, gagasan, dan program sehingga kontestasi jauh dari hujatan dan caci maki? Jika kontestasi dimaknai sebagai panggung untuk berlomba-lomba dalam memajukan Indonesia semakin sejahtera dan dihargai di mata dunia, maka politik yang mengedepankan keadaban dan pandangan jauh ke depan menjadi cara politik yang ditampilkan ke dalam ruang publik

Maka menjadi aneh jika ajakan dan model kampanye NB untuk menambah elektabilitas dan popularitas  Prabowo-Sandi (PS) harus menyeret agama dan relung kekuasaan politik. Seolah-olah jika tidak memilih PS maka ia kelak tidak akan masuk surga.

Tentu tidak ada yang menyalahkan jika nilai-nilai agama yang universal itu menjadi pijakan dalam berpolitik. Keadilan, kejujuran, menjunjung tinggi moralitas dan sikap santun terhadap sesama adalah doktrin semua agama. Jika dalam kontestasi politik kekuasaan dibalut dengan nilai-nilai itu, maka keadaban politik akan tercipta. Tetapi amat disayangkan, agama hanya dijadikan kuda troya untuk nafsu kekuasaan semata

Tampaknya menjadi renungan kita bersama dengan apa yang disampaikan Jokowi saat mengumpulkan Tim Kampanye Nasional (TKN) di Bogor. Jokowi memastikan dan menegaskan kepada TKN untuk tidak melakukan blunder dalam komunikasi politik, salah satunya adalah politik kebohongan. Jokowi menginginkan timnya harus mencerdaskan masyarakat. Jokowi sering menyampaikan adu ide, gagasan, program, prestasi, rekam jejak. Dengan demikian, maka masyarakat semakin cerdas dan semakin matang dalam politik, bukan politik kebohongan (22/10)

Terlalu berharga nilai sebuah bangsa jika harus pecah belah lantaran kontestasi pilpres 2019. Sesama anak bangsa yang menghirup udara dan meminum air dari bumi Indonesia harus berantem dan terjebak dalam ritual lima tahunan ini. 

Tentu setelah 20 tahun reformasi ini para elite politik dan semua anak bangsa semakin dewasa dan santun dalam politik. Bukan zamannya politik tipu daya semata-mata untuk meraih kekuasaan yang sementara itu. Politik gagasan menjadi salah satu cara agar masyarakat yang acuh tak acuh bahkan cenderung hilangnya kepercayaan kepada partai politik diakibatkan karena politik yang dilakukan bukan politik yang berkeadaban

Kita merindukan kontestasi politik yang menyejukkan. Bergembira dalam kontestasi politik menjadi harapan semua anak bangsa. Politik tak lagi diwarnai dengan membajak nilai-nilai dan pesan sakral agama. Menempatkan agama sebagai ruh dan bingkai dalam laku politik menjadi niscaya.