Pemerhati Sosial
1 tahun lalu · 276 view · 2 menit baca · Hiburan 31816.jpg

Surat untuk Tuhan

Bisakah surat yang dikirim dan ditujukan untuk Tuhan, sampai ke tangan Tuhan? Surat itu pasti tidak tertera dengan jelas alamat yang dituju. Itu problemnya. Bagi tukang pos, terutama. Ia pasti dibuat bingung.

Bagaimana surat itu dikirim ke Tuhan? Apakah surat itu sampai ke tangan Tuhan? Bagaimana ceritanya seseorang berkirim surat kepada Tuhan? Tulisan sederhana ini bercerita tentang itu. Anda penasaran? Silakan lanjutkan membaca.

Dulu pernah viral di media daring tentang seorang pigur imajiner yang bernama Mukidi. Ia digambarkan sebagai sosok yang jenaka, lucu dan polos. Sehingga saat itu banyak cerita lucu dan menghibur dari Mukidi atau sesekali menyentil realitas yang sedikit banyak dapat mencairkan suasana, atau sekadar membuat tertawa dan tersenyum mesem.

Bagi Anda yang kangen Mukidi dengan cerita-cerita lucu yang menghibur, mungkin di tengah suasana memanasnya atmosfer politik gegara pilkada DKI, atau sekadar menemani santai anda sembari menyeruput secangkir kopi atau teh hangat Anda. Berikut salah satu cerita Mukidi itu.

*****

Hari itu Mukidi benar-benar galau. Tatapan matanya kosong. Ia duduk sambil melamun bersandar ke dinding rumahnya. Mukidi benar-benar galau lantaran ia tidak punya uang sama sekali, padahal besok adalah hari terakhir ia harus melunasi tagihan listrik sebesar Rp 30.000. Kalau tidak, maka listriknya bakalan diputus oleh PLN.

Dalam kegalauan itu, Mukidi tiba-tiba terpikir. Dalam benaknya, terbesit ide dan ia bergumam, "Kenapa aku tidak meminta saja langsung uang Rp 30.000 itu pada Tuhan?" Karena selama ini ia meyakini bahwa Tuhan itu Maha Pemberi, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan harapan Tuhan pasti memberinya uang tersebut.

Akhirnya Mukidi beranjak dari tempat duduknya, tangannya mengambil pulpen dan secarik kertas. Ia menulis surat yang akan dikirim dan ditujukan kepada Tuhan. Mukidi menulis surat itu seperti ini:

"Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Memberi. Tuhan, saya benar-benar bingung. Saat ini saya tidak punya uang sepeser pun, sedangkan besok, saya harus membayar tagihan listrik sebesar Rp 30.000, dan kalau saya tidak bisa bayar, maka listrik saya akan diputus oleh PLN. Bagaimana ini Tuhan? Makanya saya memberanikan diri menulis surat ini. Memohon pada-Mu, Tuhan, please beri saya uang Rp 30.000 itu. Hormat saya, Mukidi".

Setelah selesai menulis surat itu, Mukidi memasukkannya ke amplop dan bergegas ke kotak pos yang tidak jauh, hanya sekitar 50 meter dari rumahnya. Dengan yakin ia masukkan surat itu ke kotak pos.

Dan tidak lama berselang, muncullah tukang pos. Ia langsung membuka kotak pos, mengeluarkan dan membaca satu per satu surat kepada siapa dan ke mana ditujukan. Tiba-tiba, seperti tidak percaya, kaget, agak aneh dan sambil ketawa sendiri tukang pos itu, ketika matanya membaca satu surat yang ditujukan kepada Tuhan. Pikirnya, ini orang bener-bener stres, masa Tuhan dikirimi surat. Ia lemparkan surat itu begitu saja. Tukang pos pun berlalu.

Sebentar kemudian, muncul pak RT lewat ke situ. Ia melihat surat itu dan mengambilnya. Tidak banyak pikir, dia langsung menyobek dan membacanya. Sambil tersenyum sendiri, pak RT itu langsung paham bahwa surat itu berasal dari Mukidi. Tangannya merogoh uang Rp 20.000 dan memasukkannya ke amplop surat itu. Lalu bergegas menuju ke rumah Mukidi. Sampai di rumah Mukidi, tidak lupa ia pun mengucap salam.

Pak RT : "Assalamu'alaikum".

Mukidi : "Wa'alaikum salaam".

Pak RT : "Ini saya mau menyampaikan surat dari Tuhan untuk pak Mukidi".

Mulidi : "Oh, surat dari Tuhan? Terima kasih, pak RT".

Tidak sabar Mukidi langsung membuka amplop itu. Ia benar-benar senang melihat uang Rp 20.000 di dalamnya. Tuhan ternyata mengabulkan permintaannya. Hanya saja ia agak kecewa, kenapa Tuhan menitipkan uang itu pada pak RT?

Dalam hatinya ia bergumam, "Tuhan, nanti kalau bisa tidak perlu dititip lagi pada pak RT deh, tahu sendiri RT. Ini saja mestinya saya dapat Rp 30.000, malah ia tilep yang Rp 10.000- nya". RT....RT...!