Socrates, di mana pun kau berada.

Awalnya hanya ingin menulis untuk mengubur hidup-hidup kesepianku. Akhirnya saat aku baca tentang kisah-kisahmu tadi malam, aku jadi teringat akanmu dan menulis surat ini untukmu. Kerinduanku benar-benar mencekam padamu.

Ada harapan yang tidak lagi tersembunyi saat menulis surat untukmu, sama dengan mengingatkan dan mengajari diri sendiri. Saat membicarakan pemikiran dan kisah-kisahmu untuk diresapi dan dijadikan pelajaran hidup.

Dunia ini butuh banyak teladan termasuk sosokmu. Karena mencari orang-orang yang setia pada kebenaran sepertimu di jamanku sekarang sulitnya minta ampun, bagaikan sebuah tantangan untuk menentukan siapa di antara penumpang kereta api yang duduk tanpa karcis. 

Kiriman suratku ini bisa dibilang tiba-tiba. Meskipun di jamanku sudah ada layanan pos surat bahkan surat elektronik sekalipun, aku tidak akan menitipkan surat ini lewat mereka. Karena aku tahu kau tidak berada di mana.  

Kita tak pernah saling berjumpa, tapi aku memberanikan diri untuk mengirim surat untukmu. Anggap saja ini sebagai manifestasi dari  rasa terima kasih dan kekagumanku padamu.

Tahu tidak, aku tidak bisa menahan tawa saat mendengar orang-orang membicarakanmu. Katanya tubuhmu gemuk pendek, hidungmu pesek. Pokoknya sangat tidak pas buat peran ksatria rupawan yang gagah perkasa untuk pertunjukan seni drama di Athena.

Meskipun kita tidak pernah bertatap muka, tapi aku mengenalmu dari Plato, muridmu. Dia mengutip banyak hal darimu. Bergelimang pelajaran hidup dan kebijaksanaan ia catat. Sepertinya dia layak jadi sosok teladan tentang kesetiaan dan penghormatan seorang Murid pada sang Guru.

Ironis, di jamanku tepatnya di negeri tempatku merebah, logika dan estetika lebih diminati pelajar dan mahasiswa daripada etika.

Aku sempat mendengar Oracle dari Delphi membicarakanmu dan menunjukmu orang paling bijaksana di dunia. Mungkin kau dianggap bijaksana karena keraguanmu terhadap orang-orang yang mengaku paling pintar dan bijaksana. Apalagi kerendahhatianmu tentang kesadaran menjalarnya ketidaktahuanmu seiring bertambahnya pemahamanmu. 

Izinkan aku memuji dan tertarik dengan Metode Socratic yang diadopsi dari Dialektika yang kau gunakan untuk meragukan segala bentuk klaim kebenaran yang kontradiktif dan kerancuan berpikir kaum Sofis di masamu. Saat itulah kau menamai dirimu dengan philosophus, pecinta kebijaksanaan.

Kau akan mempertanyakan, dan mempertanyakan lagi, lagi, dan lagi. Bukan untuk menjatuhkan, namun untuk menguji buah pikir mereka dan mempertanggungjawabkan ucapan-ucapan sok tahu dan gelap mata. 

Ternyata ada kesamaan antara kaum Sophis di masamu dengan politikus, hakim, agamawan, dan kaum skeptis di negeriku. Mereka pandai bersilat lidah dan memanipulasi argumentasi dengan penyangkalan dan pembenaran-pembenaran hanya untuk membela kepentingan mereka sendiri. Mereka menindas orang-orang yang sadar maupun tak sadar saat dikibuli

Pernah suatu ketika kubaca  tuturan tentang dirimu. Lagi-lagi Plato yang mempublikasikannya. Kau menceritakan tentang keadaanmu yang selalu berada dalam bimbingan suara Ilahi. Sembahyang kontemplasimu konon sangat lama seperti sembahyangnya nabi-nabi. Dan terbukti juga, untaian nyanyian kebijaksanaan bergiliran keluar dari mulutmu yang dibasahi sejuk embun waktu subuh.

Bolehkah aku bertanya, mengapa saat kau dituduh bersalah tidak meminta keringanan hukuman yang hampir pasti akan dikabulkan? Bukankah hal itu bisa menyelamatkan hidupmu dari hukuman mati? Tapi kau tidak melakukannya.

Kau berpikir melakukan itu sama saja dengan mengaku salah dan kau menyadari bahwa dirimu tidak bersalah. Itu kan maksudmu? Akhirnya kau terkapar beberapa saat setelah meminum racun itu. 

Ketika aku yakin bahwa aku tidak bersalah kepada siapa pun, aku pasti tidak akan menyalahkan diriku sendiri dengan mengakui bahwa aku pantas menderita dan memohon keringanan hukuman. Haruskah aku melakukannya? Melarikan diri dari hukuman yang dijatuhkan Milethus?  (Plato, The Apology of Socrates. page. 52)

Kau memilih untuk tidak mendua dari kebenaran, meskipun tidak menyenangkan buat dirimu sendiri. Aku yakin kau betul-betul paham atas resiko ini. Penolakanmu untuk bertekuk lutut betul-betul atas kesadaran dan keberanian daripada sebatas ketidaktahuan.

Itulah caramu untuk memastikan pemikiranmu tetap hidup, kau harus mati untuknya. Kebersamaan dengan jasadmu hanya 71 tahun, namun esensi kedirianmu masih hidup 2500 tahun lamanya.

Surat ini juga kutulis dengan tinta kegelisahan untuk menuntut jawabmu sampai kapan waktu yang tepat untuk bertindak, memilih dan memutuskan, meskipun tidak akan pernah ada jawaban yang memuaskan.

Apabila aku harus menanti sampai segalanya terang dan apa adanya tentang keraguan dan kemungkinan-kemungkinan yang kutetapkan, jika aku menunggu mengumpulkan pengetahuan lengkap dan sempurna, data-data dan saling keterkaitan sebelum melakukan tindakan, maka aku tidak akan melakukan apa-apa sama sekali.

Kau sendiri yang menginspirasi kata philosophy yang bermakna cinta pada pengetahuan dan kebijaksanaan. Tetapi pemerintah dan masyarakat tidak akan menjadi bijaksana saat memilih untuk diam selain hanya meragukan, mempertanyakan dan meminta pertanggungjawaban filosofis atas segala hal.

Bukankah seseorang harus menambal ban. Seseorang harus bertani di sawah, menjahit pakaian, atau beternak dan memeras susu sapi, yang mungkin tidak bisa berbuat banyak ketika menghadapi cecaran pertanyaan darimu.

Ada waktu untuk mempertanyakan, ada pula waktu untuk bertindak. Masing-masing, dengan cara terbaik, akan membentuk, mendidik, dan membuat diri dan orang lain bijaksana.

Hari sudah siang, aku harus mencuci baju. Izinkan aku meminta diri untuk mengakhiri surat ini. Sangat terhormat bisa menulis surat ini untukmu. Terima kasih, Soc.

Salam Hormatku,
AAP