Dear, Qz.

Ini adalah surat pertamaku untukmu. Dan kemungkinan, aku akan sering-sering mengirimimu surat untuk kali berikutnya. Entah kau nanti bakal bosan apa tidak, aku tidak peduli. Yang terpenting, kau dan aku harus tetap terhubung. Walau raga kita terpaut jauh, tetapi batin kita harus tetap terus bertali satu.

Hai, Qz. Sebenarnya, di surat ini dan mungkin di surat-surat berikutnya, aku---di setiap surat itu---mungkin cuman ingin sekedar bercerita, atau menumpahkan keluh-kesah, atau bahkan menertawakanmu, lalu kemudian menegurmu jika ada kesalahan yang kau lakukan di luar sana. 

Kau mungkin akan tersipu malu ketika aku begitu peduli padamu. Tak mengapa, karena memang begitulah faktanya. Sebab asal kau tahu, Qz. Kau itu sahabat terbaikku, dan kau adalah bagian dari diriku. Sebab itulah aku begitu peduli dan ingin selalu berkomunikasi denganmu.

Qz, kali ini aku ingin bercerita tentang memurajaah al-Qur'an. Aku tidak mengerti apakah surat ini berisi cerita atau keluh kesah. Yang terpenting, meskipun kau kini tengah sibuk dengan hiruk-pikuk kegiatanmu di luar sana, aku ingin kau tetap membaca penuh tadabbur terhadap suratku ini.

Qz, kau tahu, bisa menghafalkan Al-Qur'an adalah kenikmatan luar biasa yang tidak bisa tergantikan. Siapa pun pasti 'kan mengamini itu. Hanya saja, begitu banyak fakta yang kita temukan di sekeliling kita atau bahkan di luar sana, kerap sekali orang-orang sangat berambisi menghafalkan al-Qur'an, tetapi setelahnya ia tidak berantusias lagi di saat memurajaahinya.

Menurutmu apa yang terjadi dengan orang itu? Apakah dia bisa kita katakan sebagai ahlul Qur'an yang mendapat kedudukan tertinggi di pandangan Tuhan? Atau jangan-jangan---semoga tidak---dia adalah orang yang sedang dilaknat al-Qur'an karena telah bersikap remeh-temeh dengan tidak memurajaahinya? Aku tidak ingin menghakimi lebih jauh tentang orang ini, Qz. Yang aku inginkan, kasus ini jangan sampai terjadi pada diri kita.

Aku ingin bertanya: Apakah kau tahu bagaimana cara mengatasi persoalan tersebut, Qz?

Aku ingat, dulu kau pernah bilang bahwa ketika kita ingin mencintai sesuatu. Kita tidaklah cukup hanya memberi rasa cinta semata. Harus ada sikap setia yang juga kita haturkan kepadanya. Bagaimana mungkin ada cinta jika tidak diikuti dengan sikap setia? Kita adalah makhluk terhormat, Qz, yang pantang sekali bermain dengan kata cinta.

Fakta penerapannya juga begitu kan, Qz. Terhadap al-Qur'an pun sebenarnya, seperti yang sudah kau jelaskan, kita ini sudah mencinta. Setelah cinta, kita harus menciptakan sikap setia. Dan kau tahu, Qz? Setia tidak ujug-ujug tiba begitu saja, ia itu: diupayakan, bahkan mesti mati-matian jikalau itu diperlukan.

Lalu bagaimana maksud cinta dan setia pada al-Qur'an? Bagus sekali analogi yang dulu pernah kau buat, Qz. Cintai al-Qur'an dengan menghafalkannya. Lalu bersikap setia lah dengan selalu memurajaahinya.

Namun Qz, yang terjadi saat ini, kebanyakan orang hanya bisa mencinta tanpa mendatangkan rasa setia. Aku tidak tahu apakah mereka memang tidak mau setia atau terjadi kendala dalam mencoba setia kepadanya? Aku lebih ingin ber-husnuzzan dengan memilih yang kedua, Qz.

Mencintai al-Qur'an itu, menurut pengakuan orang-orang, perkara yang mudah, Qz. Tapi untuk setia dengan memurajaahinya, itu yang rada-rada susah. Seringkali orang terlena untuk meninggalkan, karena di kepalanya suka tercampur-campur, terbelit-belit, tertumpuk-tumpuk dengan ayat yang lain, dan rentetan ayat yang telah dihafalkan---jikalau enggan menyebut yang telah dilupakan---itu tidak terstruktur dengan baik.

Dan tahukah kau, Qz? Hal itulah yang terjadi padaku saat ini. Masalahnya: aku hanya bisa cinta namun sulit untuk setia. Aku hanya bisa menghafalkannya tapi sulit dalam memurajaahinya. Bukannya aku tak memurajaah, Qz. Bukan. Jangan salah paham dulu. Aku murajaah, tapi hafalan itu tidak lengket, Qz. Tidak lengket.

Sedangkan aku terlalu perfeksionis agar hafalan itu menguat dalam pikiranku. Iya, kau benar. Aku memang egois dengan menginginkan kesempurnaan itu, tetapi aku tidak sanggup menyediakan waktu yang lama untuknya. Aku terlalu idealis untuk mutkin, tetapi tidak realistis bahwa waktu untuk mendapatkan itu tidaklah sebentar. Sederhananya: aku ingin cepat-cepat.

Aku juga baru ingat, bahwa kau dulu juga pernah cerita. Ketika kita diberi kesulitan dalam memurajaah al-Qur'an, itu sebagai pertanda dari Tuhan, bahwa Dia ingin menghapus segala dosa-dosa kita dengan bacaan ayat suci itu, Qz. Iya aku baru ingat, dulu kau juga menyampaikan bahwa ketika kita merasa kesulitan untuk melengketkan hafalan al-Qur'an, itu pertanda bahwa al-Qur'an itu masih ingin berlama-lama di dekapan kita. 

Qz, aku hanya ingin: di saat masalah ini tengah menimpaku, itu pertanda bahwa Allah masih sayang padaku, Qz. Aku berharap bahwa Allah ingin menghapuskan dosa-dosaku dengan bacaan ayat suci itu. Sehingga, jika semakin sering membaca, maka semakin sering pula dosaku terkikis musnah. Dan jika dosaku semakin meniada, maka semakin terbuka pula lah jalanku menuju Allah yang Maha Esa. Nikmat manalagi yang lebih indah selain daripada ini, Qz? Semoga saja ekspetasiku ini betul-betul terjadi, ya.

Ah sudahlah. Aku minta maaf, Qz. Aku terlalu cerewet kalau sudah bercerita. Aku pun khawatir jika kau menepikan tiba-tiba surat ini sebelum selesai membacanya sampai tamat. Tetapi, asal kau tahu, inilah isi hatiku saat ini, Qz. Aku ingin kau maklumi itu. 

Aku tidak berharap apa kau 'kan membalas suratku ini atau tidak. Sekali lagi, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bercerita. Tok. Itu saja yang aku butuhkan, Qz. Saat ini raga kita memang terpaut jauh, namun aku yakin kau dan aku 'kan terus menaruh. Saling mengingatkan. Saling menumpahkan. Dan menurutku, hal semisal ini adalah meditasi yang nyaris sempurna, Qz.

Salamku,

Sahabat terbaikmu.