Kasih, selamat menjejaki tangga yang kian menipis menjadi sanggah dalam hidup itu. Jangan takut, aku akan memegang erat jemari kecilmu yang kian kasar dimakan waktu. Hidup barangkali semakin reot dimakan pikiran, belum lagi ditambah ucapan orang-orang sekitar yang semakin membatu. Tapi tenanglah, kau adalah dirimu dalam semestamu. Kau hanya perlu berdiri dan menjajaki kepala mereka dengan atau tanpa tahu. 

Kasih, namamu adalah manis yang tidak diselimuti rasa. Ia hanya sebuah kata yang tersemat tanpa aroma, namun barangkali perkara dirimu adalah hal yang membuatnya berbuah. Ia berbuah kasih dari orang-orang yang menyayangimu tanpa kalimat tanya. Kau dengan namamu, serta hidup yang menjadikannya makna.

Kasih, barangkali obrolan kita tak lagi sama seperti dahulu. Tidak lagi bergema seperti remaja yang cintanya bertemu dalam malu. Tidak, kasih, percakapan kita tak lagi seperti masa-masa itu. Bahan yang mulai menipis, kata yang tak kasat mata, jangka waktu yang berlalu, dan masa yang bertambah sebagai penentu. Tetapi, kasih, kau tetaplah gadis yang dahulu aku cintai dengan mimpi yang sama di setiap malamnya. Kau tetaplah gadis yang selalu hadir dalam pekat gelap, hadir ketika purnama meramu dalam sekat-sekat bintang yang mengerumuninya. 

Kasih, serta mulia dalam ketidakabadian. Tak apa, meski begitu, umur ini adalah belu-belai yang paling tidak bisa kita nikmati dengan masa singkat di antara masa yang mengabu. Aku akan tetap berada di sisimu dalam kebaikan. Aku akan menjelma panggung, menurutimu agar degup harap itu berdetak dalam keniscayaan.

Kasih, aku mencintaimu bagai cemara yang tumbuh di tengah hujan berkalih kemarau. Panas meracik luka, air mata yang mengiris perut, kata-kata yang menebang akar rumput di sekitarnya. Cemara tersebut kian cemas. Angin menjadi musuhnya, matahari adalah petaka, sedang air mengejeknya. Cemara tumbuh di antara cemooh, tapi ia menyayangi sekitarnya. Ia mencintai dedaunan yang tumbuh melekatnya, walau di musim gugur ia jatuh, ia kembali dengan senyum yang sama. Kau adalah dedaunan yang jatuh itu. 

Kasih, kepada yang Maha Esa namamu kusebut dalam kebaikan yang ada. Namamu adalah harap yang kupinta dalam setiap laju langkah. Di tempat ibadah, di rumah, di kantor, bahkan di tengah macet Jakarta serta klakson yang menjadi teman karibnya. Aku mendoamu, dalam tabah yang tidak hadir dalam kata, dalam hening yang tak terpatri di kening.

Kasih, anganku adalah memelukmu dalam hidup. Menemanimu disaat umur kian bertambah tua, mendengarkanmu tanpa perlu mengindahkan kawula. Aku ingin menelusuri jalanan dengan pelukmu dan celoteh soal banyak peristiwa. Tentang paus yang meramal cinta, pesawat yang membawa damai, mobil-mobil berserak sedih, serta motor yang membelah hutan pinus. 

Kasih, meski hujan tak merintikmu ramai, debu pasir tersapu jejak kaki musafir, aku akan membisikkan sisa-sisa obrolan di lain hari, obrolan yang kita tanam saban hari di dekat pohon mata sembari menikmati langit luar ditelan malam hari. Aku akan menghujanimu dengan tanya agar kau tak padam, aku akan menyekap sisa jejak telapak kaki untukmu bergesa abadi. 

Kasih, aku kirimkan salam melalui semesta yang ada di dekat meja kerjamu. Yang tercampur debu dan keringat, tertanam emosi meledak tawa. Bau Kalani yang masih tersisa di sprei boleh juga kau anggap, ia adalah semesta barumu yang menggemaskan, aku memikirkannya sembari menuding matahari. Aku sampaikan pada semestamu itu, aku memintanya agar kau menghela depan bersandar masa. 

Kasih, seperti halnya puisi Sapardi. Dalam doaku. Kau adalah puisi yang bernafas itu, puisi yang mengusut di tangan dalam masa semu, yang terpanggil di ruang tunggu. Aku membacanya dengan menyebut nama Tuhan, yang memberi cinta lewat mata dan telinga, juga hati untuk raba dan terka. 

"Dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang

semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening

siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening

karena akan menerima suara-suara


Ketika matahari mengambang diatas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk pucuk cemara yang

hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya

mengajukan pertanyaan muskil kepada angin

yang mendesau entah dari mana


Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung

gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu

bunga jambu, yang tiba tiba gelisah dan

terbang lalu hinggap di dahan mangga itu


Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang

turun sangat perlahan dari nun disana, bersijingkat

di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya

di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku


Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit

yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia

demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi

bagi kehidupanku."


Kasih, selamat ulang tahun. "Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu."