Dear Bung Tere Liye,

Apa kabar, Bung? Semoga Bung sekeluarga senantiasa sehat dan berada dalam lindungan Sang Maha Kuasa (apapun itu yang Anda percaya sebagai Maha Kuasa di atas sana).

Oh iya, Bung, terkait status Anda di salah satu media sosial pada hari ini yang mengatakan:

Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan- yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh-tokoh agama lain. Orang-orang religious beragama.

Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.

Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.

Ini bagi saya menarik sekali, karena jika merujuk pada sejarah bangsa, sependek yang saya tahu mereka-mereka yang Bung tuduh sebagai orang komunis, pemikir sosialis, atau pendukung liberal justru berperan aktif dalam membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan. Walau sebelumnya diri ini tertarik dengan terminologi Bung terkait beberapa kelompok yang Anda sebutkan di atas.

H.O.S Tjokroaminoto

Saya akan mulai dengan Tjokroaminoto. Adalah sosok yang menjadi peletak dasar benih-benih perlawanan terhadap penjajah. Beliau digelar Raja Jawa Tanpa Mahkota (De Ongekroonde van Java) oleh penjajah. Ini karena sikap beliau yang sepenuhnya menolak untuk tunduk pada penjajah. Di rumah beliau ini juga lahir calon pemimpin bangsa kita, salah satunya Ir. Soekarno, yang merupakan presiden pertama bangsa Indonesia.

Tahukah Bung jika beliau ini juga secara tidak sadar mengilhami anak-anak muda yang pada saat itu kebetulan menempati beberapa kamar di rumahnya untuk indekos? Beliaulah yang banyak mengilhami orang-orang seperti Alimin, Musso, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Darsono hingga Soekarno.

Salah satunya karena beliau memiliki kharisma dalam berpidato. Selain itu, melalui tangan dingin beliau akhirnya lahir sebuah artikel yang pada saat itu cukup mengguncang penjajah: Islam dan Sosialisme.

Tahukah Bung jika istilah sama rasa terlepas dari perbedaan agama pernah dilafazkan oleh beliau dalam kongres Sarekat Islam (SI) 1917 di Batavia?

Menurut Bung Tere Liye, ini maksudnya apa? Atau, tanpa bermaksud mendahului Bung, bisa jadi beliau meminjam istilah Karl Marx sebagai salah satu pemikir Sosialisme paling popular abad ini yang memimpikan terciptanya masyarakat tanpa kelas.

Mungkin Bung dan pihak-pihak yang (masih) mengalami Fobia Komunisme yang merupakan salah satu warisan Orde Baru untuk negeri ini, bisa berdalih bahwa akhirnya beliau menarik garis keras ketika terjadi perpecahan SI Merah dan SI Putih.

Namun apapun itu, setidaknya beliau banyak mengilhami terciptanya masyarakat tanpa kelas dalam menjalankan organisasi SI, yang di saat bersamaan merupakan salah satu upaya melawan praktek Kolonialisme itu sendiri.

Soekarno

Tokoh lain yang saya akan singgung lagi adalah Soekarno. Besar keyakinan saya bahwa Bung sangat paham tentang beliau, setidaknya dari buku-buku sejarah yang berkembang di dunia pendidikan kita. Kali ini saya tidak akan berbicara tentang tanggal lahir atau penggantian nama beliau yang bagi sebagian orang akhirnya berdampak besar terhadap perkembangan beliau ke depannya.

Tapi, apakah Bung tahu, masa paling berpengaruh dalam diri Soekarno yang mendapat gelar Bung Besar ini, adalah ketika tergabung dalam pemondokan di kediaman H.O.S Tjokroaminoto, bersama Alimin, Musso, dan Kartosuwiryo.

Karena selain banyak dipengaruhi oleh Tjokroaminoto, Soekarno muda juga dipengaruhi oleh Musso yang pada saat itu dipanggil Abang oleh beliau. Melalui Abang inilah akhirnya Soekarno bersentuhan dengan buku-buku Sosialisme.

Dalam ruang yang sangat sempit dan hanya diterangi oleh lentera di rumah Tjokroaminoto itulah akhirnya Soekarno muda ini membaca Das Capital, karya monumental Karl Marx dan Angels. Di dalam ruangan itu pulalah akhirnya Soekarno muda banyak berdiskusi dengan Abang, walau hanya untuk lebih memahamkan diri terkait paham Sosialisme tadi. Ini nantinya menjadi salah satu fondasi dari berdirinya partai Marhaen

Dan lagi-lagi, jika akhirnya Bung beserta kelompok yang mengalami Fobia Komunisme kemudian berkilah dengan berkata, toh akhirnya kawan-kawan yang tergabung dalam PKI juga akhirnya vis a vis dengan Musso pada pemberontakan PKI 1948.

Lagi-lagi di sini lain soalnya, karena kondisi sebelum mereka vis a vis dan sesudahnya adalah dua kondisi yang berbeda. Karena antara kondisi sebelum dan sesudah, kita harus melihat konteks yang melatarinya.

Maksud saya, sebelum kejadian itu posisi Soekarno muda belum menjadi pemimpin negara. Begitu pula sebaliknya, Musso muda juga belum melakukan pemberontakan. Dengan kata lain, bisa jadi keputusan untuk melakukan pemberontakan saja belum terlintas di kepala Musso muda pada saat itu.

Oh iya, Bung, apakah Anda ingat dengan paham NASAKOM yang digembar-gemborkan oleh Soekarno sebagai spirit dalam menyusun Pancasila dan UUD 1945?

Sutan Ibrahim Malaka

Tokoh ketiga yang akan saya singgung dan berperan aktif dalam membebaskan Indonesia dari genggaman penjajahan adalah Sutan Ibrahim Malaka. Bung kenal dia? Untuk itu saya masih ragu. Terutama setelah Orde Baru, dengan berbagai upaya menanamkan Fobia Komunisme pada bangsa ini selama 32 tahun, akhirnya menghapus nama beliau dalam peta sejarah bangsa ini. Walau sebelumnya Ir. Soekarno telah menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional melalui Kepres RI. No. 53 tanggal 23 Maret 1963.

Sutan Ibrahim Malaka, yang kemudian dikenal dengan sebutan Tan Malaka, menurut saya adalah salah seorang yang paling berpengaruh dalam pergerakan bangsa ini. Pria kelahiran Pandan Gading, Sumatera Barat, 19 Februari 1896 ini sebetulnya menempuh juga pendidikan formal yang mumpuni, setelah sebelumnya dibekali pendidikan agama oleh kedua orang tua beliau.

Melalui pergulatan pemikiran yang beliau alami ketika menempuh pendidikan di Belanda-lah yang menjadikan beliau terlibat aktif dalam masa pergerakan kemerdekaan Indonesia pada waktu itu. Dengan bekal informasi perkembangan Indonesia dari Belanda dan hasil diskusi dengan pemuda-pemuda Belanda yang revolusioner, akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti meneruskan pendidikan dan pulang kembali ke tanah air.

Sepulangnya ke Indonesia, beliau kemudian tidak memilih untuk bergabung dengan kelompok elit pada masa itu, tapi justru terjun langsung ke lapisan masyarakat paling bawah untuk sekedar merasakan berbagai penderitaan masyarakat sebagai korban dari kolonialisme itu sendiri. Adalah di tahun 1919, saat baru menginjak umur 18 tahun, beliau bergabung dengan para buruh di perkebunan Deli sebagai guru.

Bagi beliau, untuk lebih memahami kondisi masyarakat di lapisan paling bawah pilihan satu-satunya adalah berada di tengah-tengah mereka. Melalui kesempatan itu pula akhirnya beliau merasakan segala bentuk penderitaan yang dialami Kaum Buruh akibat perlakuan timpang dari tuan tanah.

Kondisi ini pula yang akhirnya membuat beliau memutuskan bertemu dengan Semaun di Semarang untuk mendiskusikan persoalan bangsa ini dan mulai terjun di kancah politik secara aktif. Sekedar catatan buat Bung Tere Leye dan kawan-kawan yang mengalami Phobia Komunism, umur beliau ketika bertemu dengan Semaun adalah 21 Tahun.

Dan apakah Bung tahu, di umur yang sangat muda itu beliau sudah diangkat menjadi pemimpin PKI pada kongres di tahun 1921. Walau begitu, beliaulah orang pertama yang menolak upaya pemberontakan tahun 1926/1927 yang dilakukan oleh Musso dan kawan-kawan.

Meskipun ini akhirnya menggoyang posisi beliau di partai paling revolusioner saat itu. Sehingga akhirnya beliau mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok tahun 1927. Sekedar catatan (lagi) buat Bung dan kawan-kawan yang mengalami Phobia Komunisme, pada waktu itu, untuk menyebutkan kata Republik Indonesia saja masih sangat tabu, terutama di telinga para Penjajah.

Sehingga, tidak berlebihan jika beliau kemudian disejajarkan dengan orang serevolusioner Jose Rizal dari Filipina atau Ho Chi Minh dari Vietnam. Ini karena konsistensi beliau dalam memperjuangkan Indonesia bebas penjajah selama 30 tahun, walau harus berpindah-pindah dari Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, hingga Penang.

***

Nah, dari tiga tokoh di atas, kira-kira bagaimana menurut Bung dan kawan-kawan yang mengalami Phobia Komunisme?  Apakah pantas peran mereka kemudian dilupakan hanya karena ideologi mereka yang menurut Bung dan kawan-kawan yang mengalami Phobia Komunisme adalah Komunis?

Ingat Bung, ketiga orang yang saya sebutkan di atas memiliki pengetahuan agama yang sangat mumpuni, entahlah apakah sepadan jika dibandingkan dengan Bung.

Surat ini saya layangkan bukan karena tingkat pengetahuan saya yang berhubungan dengan Kiri sudah sangat maksimal. Ini semata-mata bertujuan memberikan informasi kepada Bung dan kawan-kawan yang mengalami Phobia Komunisme untuk lebih fair dalam memberi makna pada fenomena berbangsa dan bernegara. Sehingga tidak terjebak dalam kondisi penghakiman sepihak tanpa melalui proses verifikasi.

Walau sebenarnya, menurut saya, terdapat suatu hubungan antara ketiga tokoh di atas dengan Bung. Yakni, sama-sama sebagai Penulis. Cuma bedanya, mereka menulis dengan hati, pikiran dan tenaga. Sementara Bung menulis dengan apa, saya tidak tahu!!