Terdapat sebuah anggapan bahwa jika seorang perempuan mengajak seorang lelaki untuk berhubungan seks, tetapi ditolak oleh pihak lelaki, maka pihak perempuan akan tersinggung karenanya. Pihak perempuan akan mempertanyakan dirinya; “Apakah sebegitu tidak menariknya aku?”

Entah, apakah anggapan tersebut valid dalam realitas sosial di Indonesia yang tentu mayoritas penduduknya memegang teguh nilai moral untuk menentang pergaulan bebas. Lalu, mungkinkah anggapan tersebut valid ketika digunakan sebagai alat untuk menganalisis perempuan yang kebetulan bertempat tinggal di lingkungan di mana terdapat toleransi terhadap pergaulan bebas?

Sebenarnya ada sisi positif yang terkandung dalam anggapan tersebut bagi konstruksi kesadaran para lelaki agar dapat bersikap lebih bijak. Maksud dari bersikap lebih bijak ialah memaklumi dan tidak memandang rendah kecenderungan tersebut, bahkan meladeninya (bukankah para lelaki juga akan merasa jengkel ketika kebutuhan seksnya tidak terpenuhi padahal telah memiliki kekasih?).

Sedangkan sisi negatif yang terkandung dalam anggapan tersebut bagi konstruksi kesadaran lelaki ialah hancurnya konstruksi kesadaran yang dicita-citakan pergerakan feminis itu sendiri. Seperti apakah wujud konstruksi kesadaran yang dicita-citakan pergerakan feminis? Banyak macamnya. Namun, konstruksi kesadaran yang paling mendasar ialah tidak menganggap rendah para perempuan!

Apalagi yang mendapat informasi tentang anggapan tersebut adalah para lelaki yang kebetulan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan moral penentang pergaulan bebas. Maka para perempuan yang memiliki kecenderungan seperti halnya anggapan di atas, dalam kasus ekstrem bukannya mendapat simpati melainkan mendapati kasusnya sebagai bahan olok-olokan.

Namun, uraian di atas tidaklah berarti apabila anggapan di atas hanyalah mitos belaka. Kendatipun anggapan tersebut benar adanya tetap saja tidak membawa faedah. Terlebih, pembahasan mengenainya lebih cenderung menciptakan kesimpulan bias dan prasangka-prasangka. Siapa sih orang ceroboh yang menyebarkan anggapan tersebut? Membuat jengkel saja.

Sebenarnya tujuan utama saya menulis artikel ini ialah mengajak siapa saja yang tidak terlalu terikat oleh nilai moral penentang pergaulan bebas, agar berempati kepada para pemegang teguh nilai moral tersebut. Namun, tidak adil rasanya jika para pemegang teguh nilai moral penentang pergaulan bebas itu sendiri tidak mau berempati terhadap para pelaku pergaulan bebas.

Mengapa kita gemar menanam prasangka-prasangka terhadap pihak – yang secara nilai moral bertentangan – ke dalam konstruksi kesadaran kita sendiri? Mengapa gemar saling melemparkan olok-olokan? Tidak sadarkah dengan apa yang kita lakukan tersebut adalah bentuk represi dari kesadaran akan ketidaktahuan, dengan kata lain penyangkalan akan realitas?

Dengan bukti tersebut, maka tidak berlebihan untuk menarik kesimpulan bahwa sebenarnya kita masihlah labil. Tidak benar-benar yakin dengan kebenaran nilai moral yang sedang kita pegang teguh. Ah, alangkah malangnya kita!

Mengapa saya menjadi marah-marah begini? Seharusnya saya fokus menjelaskan alasan dibalik keharusan berempati terhadap para pemegang teguh nilai moral penentang pergaulan bebas. Itulah misi awal penulisan artikel ini. Jadi, ijinkan saya dalam tulisan ini untuk memihak para penentang pergaulan bebas.

Bagi penganut moral pergaulan bebas janganlah berkecil hati, karena saat ini sejatinya saya termasuk ke dalam kelompok kalian. Hanya saja penting bagi kita untuk berempati terhadap kelompok yang bertentangan dengan kita. Jika masih belum mengerti dengan tindakan saya dalam menulis artikel ini, maka saya sarankan untuk membaca novel Bumi Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy.

Novel tersebutlah yang menyadarkan saya untuk berempati terhadap para pemegang nilai moral penentang pergaulan bebas. Premis utama dalam cerita tersebut ialah perjuangan berat yang harus dilalui pemuda muslimin Indonesia untuk menjaga konsistensi ketaatannya terhadap perintah agama sebagai wujud pembuktian keimanannya, di negeri Rusia yang terkenal akan kebebasan pergaulannya.

Saya benar-benar merasakan ketakutan pemuda tersebut, bayangkan! Bayangkan keputusasaan yang harus dilalui karena perjuangan berdarah-darah untuk selalu bertindak konsisten selama puluhan tahun demi kebenaran yang diyakini hancur, karena tidak mampu menjaga konsistensi tersebut, padahal hanya satu kesalahan sekali dalam seumur hidupnya!

Dan itu semua terjadi karena faktor dari luar yang terus-menerus menggodanya, mengolok-oloknya, dan menariknya ke dalam lingkaran budayanya. Faktor dari luar itu adalah kita para pemegang nilai moral pergaulan bebas yang sama sekali tidak menghormati prinsip yang telah diperjuangkannya selama puluhan tahun!

Memang terdapat adegan yang saya tidak setujui dari usahanya mempertahankan konsistensi ketaatan terhadap ajaran agamanya.  Adegan di mana ia hampir tergoda untuk berhubungan seks. Jadi, ceritanya begini, pemuda tersebut karena desakan situasi harus bertempat tinggal satu apartemen dengan dua perempuan Rusia.

Kendatipun tinggal dalam satu apartemen, tetapi mereka masing-masing memiliki kamar tidurnya sendiri dan kamar mandi di dalamnya. Sayangnya salah satu dari kedua perempuan yang tinggal dengannya, entah mengapa tiba-tiba ingin berhubungan seks dengannya. Akhirnya perempuan itu memutuskan masuk ke dalam kamarnya dengan pakaian menggoda.

Jangan mengira pemuda beragama Islam tersebut tidak mengunci pintu kamarnya. Tentu saja ia selalu waspada dengan kemungkinan terburuk yang suatu waktu menghampirinya, oleh sebab itu ia selalu waspada. Namun, karena urusan membobol pintu adalah hal sepele bagi si perempuan, maka dengan mudah ia menerobos kamar pemuda tersebut.

Saat itu si pemuda sedang melaksanakan ibadah shalat, jadi ia tidak begitu menyadari kehadiran temannya itu – ya, meskipun si pemuda mengerti perangai si perempuan, tetapi ia tetap menganggapnya sebagai teman – dan setelah selesai melaksanakan ibadah ia terkaget-kaget mendapati kehadiran si perempuan dengan pakaian menggoda.

Hampir saja ia meladeni permintaan si perempuan untuk berhubungan seks, namun ia berhasil menolaknya dengan cara menotok si perempuan sehingga pingsan. Setelah pingsan, pemuda tersebut menyeret si perempuan keluar kamar, itulah adegan yang tidak saya suka.

Mengapa harus menyeretnya? Padahal perempuan tersebut juga manusia bukan karung goni! Namun, penulis novel Bumi Cinta seakan mengerti kemarahan saya ketika membaca adegan tersebut. Oleh sebab itu pada cerita selanjutnya ia memaparkan kejadian sejarah yang sangat sadis, menginjak martabat perempuan. Yaitu pembantaian Sabra dan Shatila 1982.

Karena itu saya sedikit insaf bahwa perlakuan si pemuda terhadap teman perempuan satu apartemennya yang mengajaknya berhubungan seks bukanlah apa-apa dibanding kekejaman pembantaian Sabra dan Shatila 1982. Lagi pula pemuda tersebut berbuat begitu karena kalut dan marah karena hampir saja menghianati prinsipnya yang dijaganya selama puluhan tahun.

Seperti saya yang marah dengan keputusannya untuk menyeret keluar teman satu apartemennya bagi karung goni. Tindakannya sangat bertentangan dengan prinsip kemanusiaan saya yang agak mengarah ke feminis, cie. Namun, ternyata saya lebih marah dan marah besar terhadap pembantaian Sabra dan Shatila 1982.

Catatan: Pergerakan feminis dimulai pada awal abad-19 hingga sekarang. Mayoritas menyepakati bahwa selama itu feminis memiliki empat gelombang, di mana setiap gelombangnnya memperjuangkan isu tertentu.

a. Gelombang pertama, memperjuangkan hak politik perempuan juga hak dalam ranah domestik;

b. Gelombang kedua memperjuangkan kesadaran bahwa kualitas perempuan sama hebatnya dengan laki-laki, sembari tetap memperjuangkan  tuntutan yang dibawa gelombang pertama;

c. Gelombang ketiga memperjuangkan  kesadaran bahwa selain meyakini kebenaran isu yang dibawa oleh gelombang-gelombang sebelumnya juga harus mengasihi kelompok yang termarginalkan dan tidak perlu membenci lelaki;

d. Gelombang keempat isu yang dibawanya sama dengan gelombang sebelumnya, hanya saja dengan media baru yaitu internet.

Selain itu, keempat gelombang di atas sama sekali tidak memfokuskan diri memperjuangkan pergaulan bebas (free seks). Jikalaupun ada penganut feminis yang juga menganut pergaulan bebas, itu hanyalah oknum tertentu. Karena agenda inti dari keempat gelombang di atas tidak lain hanyalah tuntutan untuk memperbaiki konstruksi sosial yang merendahkan martabat perempuan.