Tulisan ini hadir untuk merespons setiap penindasan yang sudah sering kali dialami oleh para mahasiswa baru setiap tahunnya, termasuk sebuah video yang viral baru-baru ini mengenai OSPEK yang dilakukan salah satu kampus negeri yang terletak di Sulawesi.

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai eksploitasi yang sering kali dilakukan oleh para oknum “senior” ketika kedatangan para mahasiswa baru di sebuah kampus, tulisan berasal dari seseorang yang pernah mengalami penindasan sekaligus menjadi penindas.

Seperti yang kita tahu bersama bahwa zaman perbudakan sudah terlewati dan sangat tidak relevan dipakai pada zaman seperti sekarang ini. Hal ini juga sesuai dengan undang-undang penghapusan perbudakan pada tahun 1883 (3 & 4 Will. IV c. 73) yang ditetapkan oleh parlemen Britania Raya dan telah diakui dunia.

Undang-undang tersebut secara gamblang menyatakan bahwa tak akan ada lagi perbudakan di atas dunia ini. Selaras dengan hal tersebut, Indonesia juga secara tegas menyatakan dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia ini.

Hal tersebut sudah tertuang dalam UUD 1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.” Begitulah dengan jelas Indonesia menyatakannya dalam sebuah undang-undang negara.

Namun, sebagai seorang mahasiswa, yang di pundak kita masing-masing terpikul sebuah harapan besar dari para pendiri dan pendahulu bangsa ini, juga di tangan kita tergenggam tanggung jawab untuk merawat dan kelak memimpin negara ini, pernah kita merenung bahwa sebenarnya hal–hal di atas adalah sebuah janji yang harus kita tunaikan?

Mari kita menengok ke belakang mengenai apa yang telah terjadi sepanjang tahun ini kepada bumi pertiwi. Peristiwa-peristiwa berdarah ini menjadi sebuah pukulan telak yang ditujukan kepada cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam sebuah undang-undang dasar negara.

Sebagai mahasiswa yang disebut-sebut sebagai agen perubahan, pernahkah kita bertanya dan peduli mengenai penderitaan pedih yang dialami rakyat Indonesia pada hari ini? Pernahkah kita merenung berapa tetes keringat yang kita peras setiap harinya untuk menjalankan pendidikan kita hari ini?

Apakah kita sudah berbuat sesuatu yang berarti untuk mengganti nyawa para buruh yang melayang akibat huru-hara, hanya untuk membuat kita kelak menjadi seorang manusia yang berharga dan kelak memiliki kemampuan untuk meneruskan cita-cita bangsa ini?

Harus kita akui bahwa mental jajahan masih sangat melekat pada diri kita. Tak perlu menengok jauh. Tanpa kita sadari, kita semua ini adalah para korban jajahan. Sering kali dalam kehidupan sehari-hari kita melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitar lingkungan kita. Bahkan acap kali pula kita melihat hal tersebut terjadi di dalam kampus.

Seperti contohnya, tirani sistem dan birokrasi yang mengekang kita di dalam sebuah kampus, yang secara tidak langsung memaksa dan memperalat kita untuk menjadi bawahan dari para atasan.

Seberapa sering langkah kita dihentikan oleh sebuah kebijakan yang terasa sangat tidak adil untuk kita semua? Mulai dari pemberangusan pikiran sampai larangan menyatakan pendapat yang juga merenggut kebebasan berekspresi.

Kemudian kampus terus menggiring, bahkan cenderung memaksa para mahasiswanya untuk tamat secepat mungkin, namun tidak diiringi dengan kemajuan fasilitas penunjang. Tak lama kemudian, kita juga menjadi sapi perah lembaga, untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dan program, yang pada akhirnya hanya memberikan keuntungan kepada para birokrat kampus.

Secara nyata, kita menjadi bagian dari sebuah kemajuan yang didapatkan kampus, namun para birokrat tak pernah menganggap dan tidak menghargai kehadiran kita sebagai mahasiswa. Tentu saja karena semua keberhasilan yang diraih seakan–akan adalah kerja keras para petinggi kampus.

Jika hal-hal di atas terjadi di kampus teman-teman sekalian, maka sudah saatnya teman-teman berpikir ulang, bahwa ada yang sedang tidak beres terjadi di kampus kita masing-masing. Ada sesuatu yang salah dengan situasi dan kondisi yang terjadi di kampus kita masing-masing.

Jika teman-teman melihat bahwa kampus tak lebih dari sebuah industri berkedok pendidikan, maka sudah saatnya kita mengutarakan pikiran-pikiran dan dengan keberanian penuh mempertanyakannya.

Maka dari itu, meski jejak penjajahan masih tinggal dalam benak bangsa ini, maka tugas kita sebagai mahasiswa untuk mengubah itu semua, maka tugas kita untuk memutus rantai penjajahan yang telah berlangsung lama, maka jangan pula kemudian muncul kembali para mahasiswa bermental penjajah akibat penjajahan yang dilakukan orang-orang terdahulunya.

Sudah saatnya untuk kembali kepada jati diri mahasiswa sesungguhnya. Sudah saatnya kita menghargai jasad yang ada di bawah sana, yang setiap hari kita injak sebagai pijakan untuk menghadapi dunia. Sudah saatnya kita tanggalkan kesombongan kita sebagai mahasiswa dan mulai melihat penderitaan yang dialami oleh rakyat hari ini.

Mari kita hilangkan egoisme-egoisme pecundang yang merasa tinggi dengan gelar “senior” yang sudah kita dapatkan. Mari berlaku adil sejak dalam pikiran, seperti yang dikatakan Pram.

Teruntuk para senior, jangan pandang juniormu seperti anak ingusan yang baru mengenal dunia luar. Jangan perlakukan dia seperti udak dengan alasan pendidikan yang kau, padahal nyatanya itu adalah jajahan.

Jangan memaksakan kehendakmu agar mereka juga merasakan apa yang kau dapatkan dulu. Mari sambut hangat dia seperti kawan, yang nantinya akan membantu kita dalam banyak kegiatan dan memberikan kita pujian saat kelulusan.

Teruntuk kepada para junior, letakkan rasa hormat kepada seniormu bukan rasa takut, meski tak sepenuhnya benar. Setidaknya mereka lebih dulu tahu dan lebih dulu mengerti tentang yang kalian pelajari. Mari menjadi teman baik, tapi jangan lupa saling menghargai.

Sesekali pula kita perlu duduk bersama, untuk membahas isu-isu terkini, ikut merasakan penderitaan rakyat, ikut memikirkan nasib bangsa ini ke depannya.

Mari bersatu sebagai mahasiswa Indonesia, bersinergi bersama-sama hanya untuk kemajuan bangsa ini. Mari bersaing secara sehat untuk melakukan inovasi-inovasi, maka kita tak akan dikerdilkan lagi sebagai mahasiswa ingusan, apalagi produk gagal bikinan zaman.