Selamat kepada kawan-kawan yang baru saja menyelesaikan masa putih abu-abu. Masa yang penuh kenangan dan perasaan cinta. Tentunya, ada cerita yang terpotong karena kelulusan kalian tidak dirayakan dengan corat-coret atau pawai karena pandemi yang melanda negeri ini.

Kini kalian berada di gerbang menuju perguruan tinggi. Kalian mungkin sudah memilih perguruan tinggi yang telah kalian idam-idamkan sekian lama. Sebentar lagi kalian akan menyandang gelar mahasiswa.

Gelar yang tidak diberikan serta-merta. Tapi sejarah telah menyematkan bahwa tak sedikit perubahan terjadi karena mahasiswa.

Bagi kalian yang masih punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan itu. Kalian adalah satu dari sekian banyak orang-orang beruntung yang masih bisa merasakan bangku perguruan tinggi.

Perhatikan di sekelilingmu, ada banyak teman sebayamu yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke ranah perguruan tinggi karena persoalan ekonomi. Bukan barang baru bahwa pendidikan kita hari ini makin menjadi jadi. Seolah pendidikan memang bukan untuk orang miskin.

Makanya jangan heran jika nantinya kalian akan menemui pamflet atau coretan-coretan dinding yang bertuliskan “TOLAT UKT, CABUT UUPT atau STOP LIBERALISASI PENDIDIKAN TINGGI”. Karena itu adalah realitas. Itu adalah bentuk protes dari mahalnya biaya pendidikan tinggi.

Perjalanan kalian di dunia kampus akan diawali dengan kegiatan Masa Orientasi Mahasiswa Baru atau Ospek. Di beberapa kampus, kegiatan semacam perploncoan atau bullying masih sah untuk dilakukan. Alasannya pun cukup klise, yaitu untuk membangun mental dan kedisiplinan mahasiswa baru.

Itu hanyalah pembenaran atas pembodohan yang dilakukan oleh senior-senior kalian dan itu didukung oleh birokrasi kampus untuk membuat kalian menjadi generasi yang patuh.

Kegiatan semacam ini juga menjadi ajang pamer dan unjuk taji bagi senior-senior kalian agar dijunjung bak dewa dan tidak ingin disalahkan untuk membuat kalian tunduk dan patuh.

Ingat, senioritas itu hanyalah sampah zaman. Ya, kebanyakan senior-senior kalian hanya akan garang di depan mahasiswa baru tapi ciut di hadapan birokrasi kampus.

Setelah merasakan bangku perkuliahan, lambat laun kalian akan disibukkan dengan tugas yang menumpuk dan jadwal kuliah yang sangat padat. Terkesan, itu adalah salah satu cara bagi birokrasi kampus untuk membuat kalian fokus pada kuliah, lulus cepat lalu mendapat pekerjaan yang layak.

Padahal saat sekarang ini, semua tak semudah yang dibayangkan. Bisa jadi, setelah kalian lulus dan menyandang gelar sarjana, kalian hanya akan memperpanjang barisan pengangguran dari sebuah sistem yang senang melihat banyak pengangguran dan memaksa kalian untuk tetap hidup di bawah garis kemiskinan.

Di kampus kalian akan diajari untuk menjadi pengusaha supaya bisa menciptakan lapangan kerja, bukan menjadi pekerja dengan alasan agar nantinya bisa mengatasi persoalan pengangguran dan kemiskinan.

Itu semua hanyalah ilusi, karena meskipun ada segelintir orang yang berhasil sukses karena kerja keras, tapi semua itu tidak mengubah apa-apa selain mengubah dirinya sendiri.

Dengan sibuknya kalian dengan kuliah, alhasil suara kalian diredam di ruang-ruang perkuliahan, kalian akhirnya buta dan tidak lagi peduli dengan masalah-masalah sosial yang ada di sekitar kalian.

Pengangguran di mana-mana, penggusuran atas nama keindahan kota, biaya pendidikan yang semakin mahal, buruh yang di-PHK, petani yang berjibaku mempertahankan tanahnya, semuanya luput dari pandangan kalian dengan alasan sibuk mengerjakan tugas kuliah.

Kuliah memang penting, akan tetapi bukan itu yang menjadi penentu dari masa depan kalian kelak.

Terus asah potensi diri, perbanyak jejaring dan bangun relasi. Ada banyak organisasi baik internal maupun eksternal yang bisa kalian pilih. Di situ kalian bisa membentuk ideologi, menambah wawasan dan membangun relasi yang bisa menjadi bekal untuk kehidupan di masa mendatang.

Jangan beranggapan bahwa belajar itu hanya sekadar penggugur kewajiban kalian agar bisa mendapat nilai bagus. Tapi dengan belajar, seharusnya kalian bisa membaca realitas sosial dengan jernih lalu bergerak untuk mengubahnya.

Di dunia perguruan tinggi, kalian akan menemukan banyak problematika. Pembungkaman ruang-ruang demokrasi salah satunya.

Pelarangan diskusi atau bedah film yang berbau kiri dengan alasan berideologi komunis, mahasiswa dilarang gondrong dengan dalil tidak menunjukkan ciri seorang akademisi, dilarang berorganisasi dengan alasan akan mengganggu akademik.

Bahkan birokrasi kampus tak segan-segan memberi sanksi drop out atau skorsing kepada mereka yang melawan atau melakukan demonstrasi karena menuntut kebijakan kampus yang sama sekali tidak berpihak kepada mahasiswa.

Problematika seperti itu akan kalian dapatkan didunia yang bernama kampus. Ruang gerak kalian sebagai mahasiswa akan dipertaruhkan. Sisa kalian memilih, duduk nyaman dan tenang di ruangan atau bergerak dan menyuarakan suara-suara perlawanan?

Teruntuk kawan-kawan yang sebentar lagi akan menjadi mahasiswa, ubahlah pemikiran yang sempit menjadi sedikit terbuka, kritis dan memiliki empati terhadap segala permasalahan yang melanda bangsa ini.

Pekalah terhadap lingkungan sekitar, jangan hanya mengejar IPK tinggi hingga akhirnya lupa akan tanggung jawab yang lebih besar. Yakni tanggung jawab sosial, keilmuan dan masyarakat.

Yakinlah, kalian berada di kampus dan menjadi mahasiswa hanyalah sementara. Maka buatlah perubahan terhadap sesuatu yang kalian inginkan.

Dan ketahuilah, banyak orang besar, cendekiawan, sastrawan dan yang lainnya tidak lahir dari sikap penakut, melainkan semangat berapi-api yang terus berkobar laksana perjuangan akan perubahan semesta yang harus kalian rebut.