Salam sejahtera untuk kita semua.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang baik, sampean semua pasti sepakat bahwa KPU dan rakyat Indonesia baru saja menyelesaikan sebuah tugas konstitusional dan demokratis, yakni Pemilu. Ini adalah rangkaian Pemilu serentak yang paling besar dan rumit di dunia. Menelan ratusan korban jiwa petugas.

Rasa terima kasih harus kita berikan kepada segenap pihak yang bekerja keras mewujudkan hajatan akbar ini, baik kepada KPUD, panitia, aparat keamanan, tim sukses, maupun kaum cebong dan juga kampret; kepada warga yang sudah memilih salah satu dari sampeyan; juga yang sudah mencoblos gambar sampean berdua; bahkan warga yang tak ikut memilih sampean berdua dan memilih jalan-jalan.

Kita harus menghormati cara masing-masing orang dalam menyatakan hak politiknya. Hormat kepada kaum golongan putih (Golput) yang memilih keduanya, juga golongan hitam (Goltam) yang memilih piknik. Semua sama. Golongan hitam dan golongan putih itu sama-sama menolak calon yang dipilihkan oleh elite dan partai politik, tetapi cara mengungkapkan saja yang berbeda.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang sangat nasionalis, rendah hati, dan membela kepentingan bangsa, kami, dua kelompok bernama Golput dan Goltam, mengusulkan agar bapak berdua jalan-jalan bersama—Pak Jokowi naik sepeda, Pak Prabowo naik kuda—sambil ngobrol tentang spoiler "Avengers: Endgame".

Tentu akan keren jika sambil menyamar sehingga bisa menyaksikan betapa seusai pemilu rakyat masih tetap bergelut sendiri dengan masalah sehari-hari. Yang punya utang tetap harus memikirkan cara membayar. Yang miskin tetap berutopia menjadi kaya dadakan. Yang bodoh tetap akan ditipu orang. Yang sakit tetap dipusingkan oleh biaya pengobatan. Mereka tetap akan diisap oleh kapitalisme.

Rakyat Indonesia sangat bersyukur diperkenalkan dengan sampean berdua. Jadi tahu apa itu curiga, jadi mengerti apa itu maido.

Dengan memilih salah satu dari sampean, atau memilih keduanya, atau tak memilih, rakyat Indonesia sudah bisa bangga dengan sebutan "ikut menentukan masa depan bangsa".

Kaum Golongan Hitam lebih beruntung. Mereka tak pernah diberi stigma tak bertanggung jawab. Sedangkan Golongan Putih harus berjibaku menyusun argumen rasional maupun irasional yang membenarkan tindakan mereka.

Dua golongan itu diberi hak oleh konstitusi untuk memilih pemimpin, dan akhirnya memilih untuk tak dipimpin oleh siapa-siapa kecuali nilai-nilai kemanusiaan, dirinya sendiri dan kata hati—menempatkan sikap sebagai pemimpin diri.

Lebih jauh lagi, Golput dan Goltam telah merebut kembali kedaulatan politik sebagai warga negara yang selama ini hanya dianggap sebagai digit angka di papan penghitungan suara.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang rendah hati dan dinaungi keberkahan Gusti, di tangan kaum Golput dan Goltam inilah tugas berat pascapemilu menunggu. Golput dan Goltam harus bersatu ikut menjaga keutuhan bangsa dan merukunkan para pendukung bapak-bapak politisi yang sibuk memikirkan bangsa dan negara.

Berharap pada politisi, tokoh-tokoh, apalagi sampean berdua untuk kerja "remeh temeh" ini sama halnya memberi garam pada lautan. Karena para politisi, akademisi, tokoh-tokoh, dan bapak berdua memiliki tugas yang sangat berat, jauh lebih berat dibanding menjaga kerukunan berbangsa.

Bukankah Pak Jokowi harus menyiapkan pesta bagi pendukung, dangdutan, misalnya, atau membagi kursi kabinet, membagi sumber daya alam kepada kawan-kawan yang membantu?

Belum lagi menyiapkan argumen fakta dalam film mas Dhandy Laksono "Sexy Killer" itu. Benar kata opung Luhut Binsar Panjaitan bahwa pembuat film itu kurang kerjaan. Atau ucapan opung itu sebagai pengakuan kalau di Indonesia memang susah cari kerjaan, ya?

Pak Prabowo juga tak kalah sibuk. Karena Pak Prabowo juga sudah mendeklarasikan kemenangan, yang tentu juga harus menyediakan nasi bungkus atau makan siang juga setiap hari untuk pesta kaum pendukung. 

Belum lagi kesibukan menyiapkan pos-pos menteri pada nama-nama yang pernah disebutkan saat pidato kebangsaan di Surabaya. Jangan berharap pada Mas Sandiaga Uno, karena beliau juga tak kalah sibuk berfoto selfie dengan emak-emak, menghitung merosotnya saham Saratoga, kerokan karena masuk angin, dan lain-lain.

Biarlah tugas menjaga kerukunan itu dikerjakan kaum Golput dan Goltam saja. Daripada mereka juga ikut-ikutan ribut mempersoalkan angka suara?

Para cebong dan kampret, tentu saja, juga tak sempat mengurusi perdamaian. Bos-bos mereka akan berupaya menjaga agar ada permusuhan terus, supaya rekening tetap terisi. 

Mengharapkan polisi, tentara, satpol PP? Makin nggak mungkin. Bukankah mereka masih sibuk waspada jika ada peperangan antara cebong dan kampret?

Hanya ada tiga pihak yang bisa diharapkan mau mengerjakan tugas sepele ini. Pertama adalah kaum Golput; yang datang ke TPS, tetapi tak memilih salah satu dari sampean berdua. Kedua, Goltam yang memilih pergi piknik atau main game seharian, atau bahkan masak-masak seharian tanpa mendatangi TPS. Dan ketiga adalah para ulama, kiai, rohaniwan, biarawan-biarawati, pastur, pendeta, dan para dukun.

Untuk yang kelompok ketiga ini, plis jangan diganggu gugat karena mereka tugasnya berdoa dan memohon kepada Gusti Allah agar negeri ini senantiasa damai. Cara mereka berdoa tentu berbeda-beda: ada yang doa aktif lewat laku, ada yang doa konvensional, ada juga doa yang dilakukan dengan imbauan.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang baik, kaum Golput dan Goltam meyakini bahwa bapak berdua sangatlah sportif.

Pak Prabowo, mbok ya nggak usah menuding kalau KPU curang, Pak Jokowi curang. Bukankah semua sudah dilakukan transparan?

Saking transparannya, sistem penghitungan suara di website KPU yang salah memasukkan data berulang kali itu bisa sampean lihat. Bahkan kartu-kartu suara yang sudah dilubangi sebelum pencoblosan juga bisa dilihat. Kurang transparan apa? Seperti kataPak Jokowi, "Kalau curang, curangnya di mana?"

Kepada Pak Jokowi, hormat sepenuh jiwa kami sampaikan dengan kebesaran hati sampean yang meminta agar hitung cepat jangan jadi patokan. Tetapi sebaiknya sampean juga menahan euforia pendukung. Wong nyatanya Pak Prabowo berani deklarasi kemenangan kok. Tentu beliau punya dasar.

Pak Jokowi, jika memang meyakini memenangi kontestasi ini, sebaiknya terbuka saja menunjukkan siapa-siapa pendukung sampean yang menjadi koruptor, penjahat lingkungan, penjahat HAM, dan lain-lain.

Akan halnya petugas KPPS yang sakit dan meninggal dunia karena kelelahan, sampean nggak perlu bertanggung jawab karena menandatangani UU Pemilu. Langkah sampean sudah benar, menyematkan gelar pahlawan demokrasi. Setidaknya keluarga yang ditinggalkan merasa lebih ayem.

Pak Prabowo, kami meminta sampean untuk jangan mempolitisasi kematian petugas KPPS itu dengan menyebut kasihan tenaga mereka terkuras kalau hanya bermuara pada kecurangan. Mereka meninggal dunia murni karena kelelahan menghitung suara. Tujuannya jelas, agar hasilnya benar.

Pak Jokowi dan Pak Prabowo yang baik, saling berbaik sangkalah. Pak Prabowo harusnya menerima utusan Pak Jokowi, yaitu opung Luhut, buat bertemu. Silaturahmi itu memperpanjang usia lho. Kalau usianya panjang, bukankah bisa jadi presiden lebih lama?

Tetapi, sebaliknya, Pak Jokowi, kalau memang ingin ngobrol dengan Pak Prabowo, nggak usah gengsi. Datang saja sendiri, nggak usah mengutus opung yang serbabisa itu. Bawakan krasikan atau onde-onde berwijen genap. Saya yakin Pak Prabowo nggak akan menembak sampean, kan sama-sama cowok. Pak Prabowo masih normal kok.

Nah, karena surat ini untuk sampean berdua, baiknya dibaca bersama-sama sambil ngeteh panas atau ngopi mandailing. Lebih enak lagi kalau dilengkapi pisang goreng. Tugasi saja opung Luhut untuk membaca. Karena serbabisa, opung pasti bisa akting dan bermonolog. Saya membayangkan suasana itu kalau disiarkan langsung seluruh TV nasional, masyarakat kita akan adem.

Begitu saja, ya, bapak berdua. Surat ini saya sudahi karena saya harus mencuci pakaian sendiri, masak buat anak, dan juga bekerja cari nafkah. Kalau saya terlalu memperhatikan sampean berdua, yang ngasih makan anak saya, bayar listrik, dan lain-lain siapa coba?

Gitu, ya.

Salam sejahtera untuk kita semua.