Kepada yang terhormat,

Bapak ibu guru kami, orang tua kami, dosen-dosen, kakak-kakak kami, dan siapa pun yang menyoroti keikutsertaan kami.

Kepada yang mulia,

Bapak Presiden dan Wakil Presiden, Bapak Ibu anggota DPR RI, dan seluruh pejabat negara.

Sebelum melanjutkan surat terbuka ini, kami hendak memohon maaf jika bergabungnya kami dalam gelar unjuk rasa menolak pemberlakuan UU KPK hasil revisi diam-diam dan juga revisi UU yang lain membuat bapak-ibu tidak nyaman.

Kami ingin mengklarifikasi tindakan kami.

Bahwa kami adalah sekumpulan anak muda atau remaja, itu tak bisa dimungkiri. Kami mengakui hal itu. Namun kami tidaklah terorganisasi seperti yang bapak ibu perkirakan. Kami tak suka diikat-ikat hanya karena kesamaan kegelisahan.

Meskipun di usia yang sama, dahulu Soekarno, Hatta, Syahrir, Soe Hok Gie, dan banyak tokoh yang mewarnai perjalanan sejarah bangsa juga sudah ikut aktif bergerak. Karenanya, salahkah jika kami ikut bergerak?

Kami datang dan bergabung bukan tanpa sebab. Kami bergabung dengan kesadaran penuh akibat tensi politik yang menekan kehidupan kami sebagai remaja yang masih sangat gemar berekspresi.

Pendapat bahwa kami tak tahu isu, tak tahu tujuan kami mengikuti aksi, tentu akan makin membuat kami sakit hati karena kami memang sudah sangat tertindas setiap harinya. Barangkali bergabungnya kami juga tak bersifat laten seperti jenderal tentara yang setiap suhu politik memanas dia yang ambil peran. Bukan, mungkin kami hanya sesaat saja, namun percayalah jika kami butuh itu.

Bapak ibu yang sangat kami sayangi, sekali lagi maaf yang sebesar-besarnya.

Kami tahu, ketika kami beraksi banyak tudingan ada kelompok yang menunggangi kami. Yakin? Percayalah kami bergabung bukan karena ada yang menyuruh. Kami bergabung karena kami memang butuh jalanan sebagai satu-satunya ruang kebebasan kami. Kami juga sadar ruang kebebasan itu sangatlah sementara, tapi kami harus ambil jika tak ingin menjadi robot bernama siswa STM.

Ketahuilah, wahai bapak ibu,

Hidup kami setiap hari sudah ditindas oleh sistem pendidikan yang tak memanusiakan kami. Kami tak pernah punya ruang menjadi diri kami sebagai manusia. Belum lagi kami selalu di-bully; eh, di-bully bahasa Indonesianya apa sih? Perundungan ya? Pokoknya itulah.

Saat kami belajar, selalu ada ucapan-ucapan teror mengenai kompetisi jalanan yang bernama dunia kerja. Masih belum cukup, tiba di rumah, kami masih mendapat tekanan lagi untuk belajar, mengerjakan tugas sekolah, belum lagi kewajiban menjalankan perintah agama.

Tahukah bapak dan ibu bahwa lingkungan kami mayoritas adalah masyarakat miskin? Apa yang disuguhkan kepada kami setiap hari? Selalu saja angka-angka yang menyebut penurunan jumlah kemiskinan yang membuat kami makin pusing. Celakanya, angka-angka itu hanya menjadi angka saja, tak ada satu pun yang kami lihat faktanya.

Paklik Martono masih saja jualan cilok keliling. Mang Dirman masih keliling dengan produk andalannya kredit panci yang dibayar harian. Lalu di mana turunnya angka kemiskinan?

Anak-anak STM, sangatlah identik dengan sekolahnya orang-orang miskin. Orientasinya lulus langsung kerja dan tak ada harapan menyandang status mahasiswa dan berpacaran dengan mahasiswi cantik nan wangi.

Kami adalah korban. Korban apa? Struktur masyarakat dan negara menindas kami. Salahkah jika kami melawan?

Jangan kemudian menganggap kami tak layak melawan hanya karena kami berpikir out of the box dalam memilih bentuk perlawanan itu. Gusti Allah sendiri sudah menganugerahi kami kreativitas sehingga bentuk perlawanan kami mungkin saja sangat berbeda dengan lainnya.

Hanya karena berbeda dengan 'standar' perlawanan yang ada di pikiran polisi, politisi, pejabat negara, dan orang-orang tua generasi baby boomer, maka kami dianggap tak layak melawan, gitu ya? Ayolah, kita berdialog tentang konsep ini.

Bapak dan ibu polisi yang terhormat,

Ingat bukan setiap kali mendapati kami sedang tawuran, maka tindakan bapak dan ibu polisi adalah menangkap, menghukum secara fisik, menggunduli kami? Ketahuilah, itu sangat menambah tekanan kepada kami.

Jika bapak dan ibu polisi menggunakan cara-cara yang sama menghadapi kami, tentu yang perlu belajar adalah bapak dan ibu, bukan kami. Kami memang dianggap anak-anak di bawah umur, tapi kami manusia yang juga memiliki hak hidup sebagai manusia pula.

Kami tak memiliki koordinator aksi, tak punya koordinator lapangan. Kami bergerak bebas dan sangat cair. Itu bentuk perlawanan kami.

Bapak dan ibu guru yang sangat kami sayangi,

Ketika bapak dan ibu dihadirkan oleh polisi untuk menceramahi kami, meminta kami pulang ke rumah, sadarkah bahwa itu sesungguhnya yang menunggangi. Polisi meminta tolong atau tepatnya menyuruh dan memanfaatkan bapak dan ibu untuk menceramahi kami.

Kami sudah kenyang tiap hari diceramahi. Kami sudah sangat hafal isi ceramah bapak dan ibu. Jadi masih yakin dengan isi ceramah itu? Hahahaha, barangkali kami akan sedikit kasihan dan pura-pura mendengarkan tapi tak akan sampai ke hati.

Kami biasa tawuran, berantem. Kami lakukan itu karena kami harus melawan sistem yang merampas ruang kami menjadi manusia. Meski hanya sebentar, tapi kami sangat menikmati yang sesaat itu, lepas dari struktur yang menidas kami. Gitu ya, bapak dan ibu guru yang kami sayangi.

Nasihat-nasihat yang disampaikan sambil menangis, entah akting entah bukan, hanya akan menambah rasa ketertindasan kami. Jika ingin mengalahkan kami, mudah kok. Cukup tinggalkan kami dan jangan pernah menganggap kami sebagai lawan. Apalagi dengan kekerasan.

Jika kami dan hanya kelompok kami yang ada di jalanan, nanti kami akan bubar dengan sendirinya. Siapa pun yang merasa terganggu, jangan melawan dan biarkan saja.

Bapak polisi yang terhormat,

Nggak usahlah bicara penegakan hukum, bicara anti-kekerasan. Setiap hari mata kami melihat sangat banyak pelanggaran hukum yang jelas diketahui namun dilindungi. 

Silakan diperiksa, adakah iuran-iuran di luar hubungan dengan sistem pendidikan dengan mengatasnamakan Komite Sekolah sebagai penanggung jawab? Adakah uang-uang suap agar kami mendapatkan bangku untuk bisa bersekolah?

Jika kami melempar satu dua mobil atau ada bangunan yang rusak, bukankah itu bangunan fisik yang bisa segera dibangun lagi atau diganti karena pemiliknya pasti punya duit banyak?

Tapi pernahkah berpikir bahwa praktik-praktik yang diperagakan ketika orang tak bersalah dipaksa masuk penjara, tanah warga dirampas dan pemiliknya diteror secara fisik? Atau yang mudah saja, pernahkah berbaik sangka bahwa anak-anak STM taat hukum ketika berkendara sehingga tak perlu menginterogasi bagaimana kami memiliki SIM? Nggak pernah, kan?

Kepada yang terhormat,

Bapak ibu guru kami, orang tua kami, dosen-dosen, kakak-kakak kami, dan siapa pun yang menyoroti keikutsertaan kami.

Kepada yang mulia,

Bapak Presiden dan Wakil Presiden, Bapak Ibu anggota DPR RI dan seluruh pejabat negara.

Sebagai penutup, kami ingin menyampaikan bahwa orang-orang yang benar cinta kepada negara ini dan juga menjadi korban penindasan struktur akan lebih bangga melihat perlawanan kami. Mereka akan merasa diwakili dalam melawan. Lebih bangga daripada melihat para priyayi di lembaga-lembaga negara, para anggota DPR dari pusat sampai daerah, para ASN, para polisi, tentara, dan semua lembaga negara yang berlaku korup namun dibiarkan.

Mereka resah. Jadi diizinkan atau tidak, kami akan melawan agar kami menjadi manusia.

Salam Hormat,
Anak STM

*****

Surat ini ditulis di atas kertas HVS 60 gram. Ia melayang dari langit, dan tercebur di sebuah kolam. Buru-buru saya memungutnya dan mengeringkannya agar bisa membaca.