Dear Kak Grace,

Selamat ulang tahun semoga Tuhan selalu memberkati kesehatan dan merawat niat tulusmu membangun Indonesia yang kita cintai ini.

Kak, aku tidak akan melupakan malam itu, malam saat kau mengatakan “Apalah arti batas teritori Sabang - Merauke, apalah guna bala tentara yang kuat, sejarah yang panjang dan ekonomi yang makmur, jika kemudian kita tidak diikat oleh sebuah rasa toleransi. Bangsa kita sudah ditakdirkan menjadi bangsa yang dijahit dari berbagai warna suku, agama, kebudayaan, adat istiadat dan sumber daya alam“

Sejak saat itu aku jatuh cinta padamu

Kak Grace,

Andai rindu itu bernama Indonesia kau seperti samudra yang memeluk ribuan pulau mempersatukan gugusan rindu jutaan anak muda akan perubahan. Senyum manismu memantik perlawanan kami terhadap ketidakadilan social, korupsi dan intoleransi, dan tentu saja wajahmu nan rupawan membuat ruang-ruang diskusi kami lebih hangat dan bersemangat

Aku dan jutaan anak muda Indonesia, tidak sudi tercatat dalam lembaran kelam sejarah di republik ini sebagai anak muda yang tidak punya keberanian untuk melakukan perubahan. Bukankah Pram pernah bilang kalau pemuda tanpa keberanian adalah ternak? Kami bukan ternak kak! Juga kami tidak mau digiring kesana kemari seperti hewan ternak oleh para politisi dungu, kami punya sikap!

Percayalah kak, andai idealisme itu lautan, aku dan jutaan anak muda akan menyelaminya dengan keberanian demi cinta kami kepada tanah air Indonesia. Walau pun kita tahu diluar sana banyak yang nyinyir dan dengan congkaknya mengatakan, hari gini ngomong idealisme? Ah jangan hiraukan mereka kak, mereka hanya cemburu pada kita.

Kak Emma eh Kak Grace,

Di negeri yang kita cintai ini sudah banyak anggota DPR perempuan, pemimpin parpol perempuan dan juga kepala daerah perempuan, tapi maaf mereka belum mampu membangkitkan libido perlawanan kami terhadap ketidakadilan sosial. Bagi kami anak muda, mereka adalah para pesolek yang berlindung dengan make up demokrasi.

Yakinlah kak, pernyataan ini bukan berarti aku tidak berprespektif gender atau tidak mendukung afirmasi politik kaum perempuan. Kak, aku lebih baik menghormati Ibu-ibu dari pegunungan kendeng yang memperjuangkan tanah kehidupannya dari kerakusan korporasi semen, mereka lebih terhormat!

Tahu kamu kak? Sebelum aku menjatuhkan pilihan ke hatimu, banyak godaan datang bertubi-tubi. Ada  Kak Fahira Idris. Tahukan siapa diakan? Senator Jakarta, ratu hestek, juga tukang boikot produk-produk kafir. Tapi saya tolak kak, karena dia selingkuh dengan ormas intoleran dan melarang non muslim jadi pemimpin. Rasa keindonesiaanku hancur kak, ketika seorang senator yang disumpah untuk setia kepada Pancasila dengan seenaknya mengkhianatinya.

Ada juga dari Ibu Megawati, tapi sudahlah aku sudah tutup buku dengan Ibu itu. Bantengnya sudah limbung, tua dan lembek, mengaku kampiun demokrasi tapi penakut menghadapi penganggu demokrasi, mengaku penjaga konstitusi tapi tak berkutik melawan penginjak konstitusi, mengaku benteng NKRI tetapi membiarkan gerombolan intoleran merusak kebhinekaan. Mungkin dia sudah lelah kak.

Dan godaan terberat datang dari si bunga penutup abad, Chelsea Islan! Paras dan senyumnya mampu membangkitkan semangatku dan jutaan anak muda tapi sayang dia belum mampu menggerakkan anak muda untuk masuk partai politik. Tapi jangan berkecil hati kak, kau punya Tsamara Amani, perempuan dengan sepasang mata terindah di dunia, kedipan matanya menggelorakan hati jutaan anak muda yang sudah patah hati dengan parpol pemberi harapan palsu, mereka bangkit kembali menyatukan semangat solidaritas.  

Kak, aku memilihmu karena,

Kau memilih anak muda untuk menjadi bagian dari hidupmu, aku yakin seribu orang macam Fahri Hamzah dan sejuta Fadli Zon yang meminangmu, kau tidak akan sudi menerimanya, karena aku yakin kamu sedang tidak diet. Makanlah seperti biasa kak jangan terganggu dengan dua wajah yang tidak enak dipandang itu, energimu dibutuhkan jutaan anak muda Indonesia untuk memotong generasi politik tua yang brengsek, korup dan menyebalkan.

Pintaku sederhana kak, tetaplah konsisten dalam berjuang untuk negeri ini, jangan seperti Jendral Gatot berpuisi tentang sawah yang bukan milik petani lagi tetapi mengangguk saat pasukannya terlibat penggusuran sawah untuk bandara. Jangan seperti Gubernur yang  berahlak mulia tetapi doyan uang suap, dan juga jangan seperti wakil rakyat di senayan, mengaku wakil rakyat tetapi melumpuhkan institusi penyelamat uang rakyat. Pokoknya jangan kak!

Kak Grace,

Kita tahu, banyak yang meremehkan dan merendahkan kekuatan cinta yang kita bangun, mereka lupa bahwa cinta bisa menumbuhkan semangat solidaritas. Aku menyadari pinangan ini tidak mungkin dibaca oleh tujuh juta umat, disiarkan setiap menit seperti mars Perindo, dan juga tidak akan menjadi sebuah percakapan rahasia yang bisa menggerakkan revolusi dari Arab Saudi. Pinangan ini terbuka kak, seperti hatimu yang cakrawala, membentang seluas bumi, bumi yang datar dan kuat bak Gaj Ahmada.   

Pegang tanganku kak, dan aku akan berjanji, aku akan setia padamu, setia dengan janjiku untuk membangun rumah yang kita impikan, rumah Indonesia yang penuh kebhinekaan, toleransi, persamaan hak dan keadilan sosial dengan pondasi solidaritas.

Salam penuh cinta dan solidaritas,

Dari aku yang meminangmu