Researcher
2 bulan lalu · 28 view · 3 min baca menit baca · Pendidikan 85246_76478.jpg
Hard Rock FM

Surat Tak Berbalas dan Intimasi Generasi Prainternet

Kakek saya pernah bercerita di masa mudanya yang sering berkirim kabar lewat surat kepada pujaaan hati. Hidup di waktu ketika korespondensi tertulis masih lazim dilakukan jamak kawula muda membuatnya terkadang girang bukan main. Ia tak pernah melewatkan sehari tanpa menunggu di depan rumah ketika siang masih terik.

Menunggu orang berbalas surat cinta membuat kakekku hobi membeli kertas kuarto bergaris, pensil, dan rautan tiap bulan. Konsumsi alat tulis ini tentu mengeluarkan kocek yang cukup lumayan. Apalagi statusnya waktu itu masih pelajar di sebuah sekolah menengah atas negeri di pinggiran Kota Yogyakarta.

Kakek menulis surat kepada seseorang yang tinggal di Solo, seorang kenalan yang ditemuinya sejak duduk di kelas sepuluh. Ia mengenal gadis berambut pendek—barangkali mirip gaya rambut Nike Ardilla—tatkala mengikuti lomba nasional di Jakarta. Pertama kali berjumpa dalam kompetisi karya ilmiah bergengsi tersebut, kakek tak pernah pikun mengingat paras ayu perempuan itu.

Usai lomba, tuturnya, ia tak lupa minta alamat perempuan itu. Bukan main senangnya ketika gayung bersambut. Alamatnya kakek catat di buku tulis bermerek Sinar Dunia (Sidu). 

Selang beberapa hari, mereka saling berkirim kabar, cerita, dan cinta lewat Pak Pos. Barangkali itu cinta pertama kakek, meski secara fisik tak pernah berjumpa lagi. Angan-angan sejoli itu terpaut erat.

Cinta kakek bisa dikatakan nahas. Surat demi surat ia tulis, puluhan balasan diterima, tetapi hanya sebatas itu. Ia tak pernah diizinkan orang tuanya untuk pergi ke Solo menemui gadis itu. Mungkin kisah cinta di masa silam memang dianggap tabu untuk diekspresikan. Sekalipun hasrat hendak bertemu, tentu saja tak pernah diizinkan.

Surat-surat cinta itu masih disimpan kakek. Ia masukkan ke kotak kayu jati berwarna cokelat yang sengaja disembunyikan di gudang belakang rumah. Kakek sudah beristri dan memiliki anak sembilan. Anak ketiganya adalah ayah saya.

Kakek merasa kandas, tak pernah bisa meminang gadis pujaan hatinya itu. Hal sepele seperti terpaut jauh jarak di antara mereka membuat orang tua kakek tak pernah meneken iktikad lamaran. 


Dalam tradisi Jawa, barangkali khusus sepengalaman kakek, jodoh berada di tangan orang tua. Tanpa boleh bernegosiasi, alih-alih resistensi, jodoh harus ditentukan atas kuasa orang tua.

Relasi hegemonik inilah yang membuat pilu kakek. Ia pernah menulis surat khusus, kabar terakhir, untuk dikirimkan kepada pujaan hatinya. Surat itu sampai sekarang tak pernah dibalas. Mungkin gadis itu kecewa.

Tak heran bila ia enggan membalas supaya hubungan di antara mereka putus begitu saja. Namun, putus sedang sayang-sayangnya itu, bagi kakek, adalah luka yang mustahil disembuhkan. Mengingat peristiwa menyedihkan itu, luka di hati kakek bagai diguyur air garam.

Bagi saya pribadi, cerita kakek, ketambah surat-surat cintanya yang boleh saya baca, adalah bukti autentik bagaimana intimitas dapat dianalisis. Saya membaca surat demi surat yang ditulis kakek dengan kekhasan tulisan tangan bersambung itu dengan penuh getir sekaligus bangga. Kakek mewarisi memori yang bagi saya berwujud “posmemori” yang bisa dirasakan nuansa batinnya, terutama bagi pembaca.

Surat itu diamplopi dengan disegel cap lilin berbentuk hati, berikut tempelan perangko dan bubuhan alamat. Melalui kertas-kertas inilah hasrat akan kasih sayang kandas karena ketidaksetujuan sekaligus kekolotan orang tua dapat terbaca implisit.

Memori kertas, bagi kakek, adalah sejumput kenangan yang telah meyejarah. Cucunya hanya menepuk bahu kakek dan mengucapkan bahwa tak apa-apa meski alur cinta mustahil ditebak. Bukankah kakek sekarang sudah bahagia dengan kahadiran kasih sayang dari istri, anak, dan cucunya?

Barangkali apa yang dirasakan kakek setarikan napas dengan para eks-tapol yang di-PKI-kan oleh Orde Baru tanpa diadili secara konstitusional. Para eks-tapol itu kemudian di-Pulau-Buru-kan tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya. 

Mereka dipaksa naik ke kapal secara massal dan baru dapat mengabarkan keadaan setelah beberapa tahun. Itu pun, surat-surat yang ditulis, entah apakah bisa tersampaikan kepada keluarga atau tidak.

Saya baru saja menyelesaikan buku Memoar Pulau Buru (2004) karya Hersri Setiawan dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1988) karya Pramoedya Ananta Toer. Yang pertama adalah kumpulan kisah seorang tapol di Pulau Buru dan bagaimana kehidupan di sana. Sedangkan yang kedua adalah antologi surat-surat Pramoedya kepada anaknya. 

Baca Juga: Pengantin Kertas

Pada bagian pendahuluan buku itu, Pramoedya menulis, “Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu—kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru.”

Tulisan-tulisan Hersri dan Pramoedya bisa tersirat luas kepada sidang pembaca hari ini setelah keduanya dibebaskan. Ketika di Pulau Buru, mau seberapa banyak surat-surat diproduksi dan dikirimkan, para sipir yang galak tak pernah berniat membantu menyampaikannya kepada Pak Pos.

Kedua penulis favorit saya ini tentu berbeda pengalaman dengan kakek saya, sebagaimana telah diuraikan jelas di atas. Tetapi ada satu hal yang sama, yakni bagaimana kertas berisi narasi kasih sayang dapat tertuangkan. 

Kertas membuat intimasi tentang cinta, rindu, dan pilu. Ia merupakan memori yang tak lekang oleh waktu. Seberapa banyak dibaca, seberapa banyak kenangan itu tertular kepada sidang pembaca.

Artikel Terkait