Aku selalu mencari cara mengeluarkan kau yang telah lama terjebak dalam hura-hura. Sebelum segala dendam menumpuk seperti gunung es yang kemudian meledak diguguri kemarau. Lalu kau berakhir mencaci-maki aku yang melarat.

Hidup seperti kolase yang tak pernah dilirik oleh pengunjung. Sekalipun masa silih berganti dan zaman semakin edan, derita tetap berlaku sama dan tak pernah laku dijual di pasar malam.

Tak ada yang bisa menawar sebuah jatuh cinta, apalagi mengobati luka-luka dengan lelucon, mustahil.

Kita pernah menaruh seikat mawar di pemkaman tua yang telah lama kehilangan nisan dan tak lagi pernah diziarahi. Di sana kita saling menatap tanpa berkata-kata, kebisuan membuat kita tabah memeluk diri-sendiri yang kelak juga akan mati, kemudian dilupakan.

Hujan selalu turun mendahului ibu-ibu yang terjebak macet di jalan raya sehingga lupa mengambil cuciannya hingga basah kuyup, lalu memaki suaminya karena lalai. Selalu ada pelampiasan pada sesal yang terpupuk tapi tak tumpah di dada, atau terbelah di kepala.

Hujan memberi pembenaran pada manusia yang kekurangan banyak hal, terutama cinta. Juga pada mereka yang menggigil demam, menyalahkan musim sebagai sebab.

Pada banjir dan tanah longsor, pada gempa bumi dan tsunami, orang merasa peduli karena masih bisa menggalang bantuan untuk berbagi pada korban, tetapi lupa pada sebab-sebab hukum alam yang bekerja tak lepas dari kerakusan manusia yang kehilangan hati.

Dahulu kita pernah terjerembab di tengah-tengah tumpukan mayat dengan lautan darah, oleh teriak dan jerit tangis manusia.

Kita hadir membantu mereka, memberi makan dan minum, serta pakaian. Lalu tiba-tiba kepedulian itu sekejap membuat kita merasa nyaman dan saling jatuh cinta.

Setelah semua yang sekejap selesai, walau sesat terasa sesaat kembali menghantui. Tak ada yang bisa dirayakan pada hidup yang tak pernah mendapatkan apa-apa, hanya kebosanan yang hadir di antara aktivitas yang itu-itu saja.

Cinta yang dimakan dari hulu segar ke laut menjadi asin hanya direbut badai lalu dinikmati nelayan. Semua yang habis diupayakan tak lagi bisa disebut, tuntutan untuk tidak berkata apa-apa tentang cinta adalah ketulusan, bukan?

Selama kebisuan masih menjadi sesuatu yang abstrak dan kata-kata hanya guyonan belaka, kehidupan harus lekat menyatu dalam bahasa tubuh masing-masing. 

Itulah mengapa manusia-manusia kekurangan cinta terlahir, sebab menolak persetubuhan yang tidak disertai dengan kemewahan materi.

Mentari masih memuncak dari Utara hanya untuk kembali tenggelam di Barat. Aku berpikir suatu kehidupan yang menolak keseragaman dan pola yang sama, seperti bebek yang berenang juga bisa terbang seperti elang, atau semacam cinta dan benci yang tak menuai perpisahan.

Tetapi hidup selalu sama, tak pernah bisa memisahkan tangis dengan mata, kopi dari pahitnya atau melepas kau dari peluknya.

Kita masih terjebak dalam satu pola hidup yang penuh basa-basi. Memaksakan kehendak untuk tetap bertahan dengan alasan yang tak masuk akal. 

Pembelaan selalu berlaku magic untuk hal-hal receh yang membodohi, menjadi penenang sebelum dikenang karena berakhir tragis oleh luka dalam.

Tak pernah berhasil aku menyelinap keluar. Lalu menertawaimu yang masih terperangkap layu dalam cengkraman dunia yang penuh tipu-tipu.

Barangkali hidup juga seumpama jalur berliku yang memperlambat perjalanan, atau jalan lurus yang kian mempercepat tetapi rentan dan penuh bahaya juga rawan kecelakaan.

Kita lalu menebak, manakah yang lebih bahagia, sepasang kekasih yang menikmati malam ataukah mentari yang sedang beristirahat?

Tetapi tak ada kepuasan pada tebakan semata. Orang yang kehilangan mentari tetap akan kesal lantaran sesuatu dalam dirinya masih melembab menjadi alasan untuk tidak menghadiri pesta dansa yang penuh kehangatan.

Aku kembali mengulang-ulang ingatan, berpikir cara menghadirkan masa lalu dalam ingatan, sesulit mendatangkan masa depan untuk merenggutnya secepat mungkin.

Menyesal adalah pilihan terakhir, sebagai manusia-manusia pasrah yang telah lama kehilangan doa. Aku memilih menulis surat-surat ini entak untuk siapa.

Banyak orang suka membaca, menulis, berpuisi dan bernyanyi. Beberapa orang lainnya menulis hanya untuk menghindari pertanyaan, mencurahkan isi hati tanpa harus terlibat percakapan.

Berakhir kebingungan, aku lalu panik mencari huruf-huruf yang sibuk menjahit dirinya-sendiri demi keutuhan sebuah nama. Nama yang tidak begitu penting. Tetapi demi keistimewaan yang lain, beberapa nama memilih dibuang atau tidak pernah digunakan.

Ada orang begitu mengerti tentang makna kehidupan, rela menyelamatkan seekor semut yang terjebak dalam genangan kopinya demi harapan di hari kemudian agar ada yang membantunya terbebas dari siksa neraka.

Demikian seorang pemuda yang rela menembus badai demi menaklukkan puncak tertinggi di sebuah negara hanya untuk menancapkan bendera kebanggaan bangsanya.

Tetapi aku hanya ingin sedikit hal; bagaimana manusia hidup dengan warnanya sendiri dan sadar bahwa pelangi itu indah karena perbedaan, meskipun monokrom juga memiliki nilai estetika dan diminati banyak orang sebagai perenungan terakhir atas hal-hal abstrak yang lekas jadi pudar.