Single Parent
3 bulan lalu · 1275 view · 5 min baca menit baca · Budaya 50209_91661.jpg

Surat Romy, Sebuah Dokumentasi Nasib Aib

Aib ternyata memiliki nasib sendiri. Nasib aib yang pertama adalah banyak disingkiri dan banyak disembunyikan. Hingga nasib aib itu akan menemu takdirnya, memunculkan dirinya sendiri, seperti mereka yang gemar selfie dan memamerkannya.

Celakanya, nasib aib yang disembunyikan itu akan semakin kebangetan dan malah didokumentasikan. Nah, nasib yang bertransformasi menjadi takdir ini, ketika menunjukkan eksistensinya dan muncul, akan menjadi kehebohan dan oleh sebagian kalangan langsung dinilai sebagai azab.

Dalam perjalanan dari Semarang ke Muntilan saat berada di jalan tol, tiba-tiba ada sosok imajiner di mobil saya. Namanya imajiner, tentu tak nyata. 

Celakanya, sosok itu berwajah persis seperti baliho yang terpasang di pintu masuk tol Ungaran menuju Semarang; titik yang sudah jauh berada di belakang saya; sosok yang mirip Romi.

"Berwisatalah. Lihatlah nasib aib level terbawah itu. Aib harus dihindari karena hidup manusia harus bermartabat. Aib ini salah satu yang akan menjadi slilit martabat paling nyata. Maka hidup yang berujung pada aib adalah hidup yang tidak diperintahkan," kata sosok itu.

Lagu "Wegah Kelangan" dengan notasi khas Banyuwangi yang terlantun di mobil dengan aransemen koplo mellow menjadi samar-samar saja. Saya lebih memperhatikan pesan bijak sosok imajiner itu.

"Jujur aku isih sayang, wegah kelangan. (Jujur aku masih sayang, takut kehilangan)," lantunan suara Nella Kharisma seperti mengusik. Hakikatnya, manusia memang selalu takut kehilangan, terutama kehilangan muka akibat aib terbongkar. Kehilangan martabat karena berkubang aib.

Sebenarnya level menghindari aib adalah fase paling ideal. Celakanya, itu sangat berat bagi sebagian orang, politisi utamanya. Semesta kemudian menyiapkan fase selanjutnya, yakni fase masuk akal.

Yang dimaksud fase berikutnya adalah keyakinan bahwa aib cukup disembunyikan. Bolehlah memiliki aib, asal bisa disembunyikan. Ruang persembunyian itu akan dikelilingi dinding bernama rahasia. Itulah dinding sekuat-kuatnya dinding. 

Rahasia adalah dinding yang berlapis-lapis. Level tertinggi rahasia akan dilindungi dinding supertebal dengan lapisan dinding sangat banyak.

"Dinding inilah pelindung manusia berderajat mulia. Pribadi jenis ini lebih banyak dibicarakan prestasi hidupnya. Orang tak akan tega membicarakan aibnya, seluruh aibnya hanya berkelas remeh. Bisa dimengerti kalau fase dua perlakuan aib ini boleh terjadi, asal bisa disembunyikan," tambahnya.

Tiba-tiba saya ingat novel gothic anak saya karya Mary Shelley, Frankeinstein. Ia akan selalu menanyakan siapa ayahnya dan akan terus mencari. Pun dengan aib, ia juga akan terus bertanya siapa yang melahirkannya.


Buruknya, seperti sinetron-sinetron kita, pertemuan aib dengan sang induk selalu terjadi ketika prestasi sang penyandang aib sedang menjulang tinggi. Keberuntungan sedang tertumpah ruah padanya. Atau, aib akan menemu induknya justru ketika sang induk sedang berada di akhir masa kejayaannya. Ibaratnya tinggal pensiun dan istiqomah, eh masuk penjara.

Aib-aib kategori ini adalah aib yang kehilangan perlindungan kadarnya sudah menjijikkan. Dinding pelindung berlapis dan sangat tebal itu akan tetap jebol.

"Parahnya, seperti saya ini, ketika dinding aib saya keterlaluan dan jebol, eh didokumentasi pula. Saya menjadi tontonan sekaligus hiburan yang menyuguhkan kemuakan. Nama saya dibicarakan dan orang lupa perjuangan saya menggapai level sekarang, prestasi saya yang sudah ada langsung hilang," katanya.

Pembuatan album aib itu makin masif setiap harinya. Para politisi terus berbohong, agar tampak arif, bijaksana, cerdas, dan sangat peduli manusia lain. Sementara, di sisi lain, ia dan lingkungannya terus merekam dan mengumumkan capaian-capaian duniawi yang dibiayai dari korupsi. 

Jabatan yang dibeli dengan suap menjadi begitu membanggakan keluarganya. Dan ketika aib itu menemu takdirnya untuk tampil, maka mengubah citra menjadi manusia yang sangat santun, humanis, sayang keluarga mulai dimunculkan.

Berhenti di sebuah warung, saya terpekur. Mencermati surat terbuka dari Romy yang difoto dan dikirimkan ke gawai saya. Saya biarkan imajinasi saya mengembara. 

Berkali-kali saya baca surat itu:

1. Saya ingin memulai dengan pepatah arab: musibah yang menimpa suatu kaum akan menjadi manfaat dan faidah untuk kaum yang lain.

2. Saya merasa dijebak dengan sebuah tindakan yang tidak pernah saya duga, saya pikir, atau saya rencanakan bahkan firasat pun tidak. Itulah kenapa saya menerima sebuah permohonan silaturahmi di sebuah lobi hotel yang sangat terbuka dan semua tahu bisa melihatnya. Ternyata niat baik ini menjadi petaka.

3. Dengan adanya informasi pembuntutan saya selama beberapa pekan bahkan bulan sebagaimana disampaikan penyelidik, inilah risiko menjadi juru bicara terdepan sebuah koalisi yang menginginkan Indonesia tetap dipimpin oleh nasionalisme-religius yang moderat.


4. Kejadian ini juga menunjukkan inilah risiko dan sulitnya menjadi salah satu public figure yang sering menjadi tumpuan aspirasi tokoh agama atau tokoh-tokoh masyarakat dari daerah

5. Kepada rekan-rekan TKN Jokowi-Amin dan masyarakat Indonesia, saya mohon maaf atas kejadian menghebohkan yang tidak diinginkan ini. Inilah risiko pribadi saya sebagai pemimpin yang harus saya hadapi dengan langkah-langkah yang terukur dan konstitusional dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah. Mohon doanya.

6. Kepada warga PPP di seluruh pelosok tanah air; rekan-rekan pengurus DPP DPW, DPC, PAC dan Ranting, saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas seluruh persepsi dan dampak akibat kejadian yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak ini.

Jangan kendurkan perjuangan karena waktu menuju pemilu hanya tinggal hitungan hari. Saya sudah keliling nusantara dan meyakini PPP lebih dan mampu untuk melewati ambang batas parlemen. 

Saya akan segera mengambil keputusan yang terbaik untuk organisasi, setelah bermusyawarah dengan rekan-rekan fungsionaris DPP dan DPW dalam keterbatasan komunikasi yang saya miliki saat ini.

7. Kepada kakak, adik, keluarga besar, terkhusus istri dan anakku tercinta, Ayah mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesedihan , kerepotan dan perasaan yang kalian terima. 

Dengan seluruh perasaan Ayah yang masih tersisa saat ini, dengan segala ketulusan Ayah, mohon keyakinan kalian bahwa apa yang sesungguhnya terjadi tidaklah seperti yang tampak di media. Ikhlaskanlah takdir yang menimpa Ayah sebagai pemimpin saat ini.

Anakku, permataku dan pembuat senyumku, engkau harus tetap belajar rajin karena UN sudah dekat. Tak usah kau pedulikan apa kata orang jika mereka membully-mu, karena inilah risiko menjadi pemimpin politik seperti yang selalu Ayah bilang. Ayah doakan semoga engkau tetap menjadi yang terbaik seperti biasanya di sekolahmu. Peluk cium ayahmu dari jauh yang selalu mencintaimu.

Istriku, belahan nyawaku,

Engkaulah kekuatanku. Aku yakin kita terus saling menguatkan, menghadapi badai ini agar cepat berlalu. Aku merasakan begitu besarnya cinta dan kesungguhan serta pengorbananmu mendampingiku. Terima kasih untuk terus mempercayaiku. Karenanya, izinkan aku untuk terus mencintaimu. Titip cium untuk anak kita setiap hari. 


Hingga kali ketujuh saya baca berulang, saya belum menemukan pesan lain dari surat itu, kecuali etalase album aib Romy yang makin terbuka. Saya tak bisa menemukan kejujuran dalam surat itu. Tapi saya juga tak mau berdoa meminta Tuhan agar mengajari saya untuk percaya Romi. 

Alih-alih berterus terang mengakui, Romi justru mencari kesalahan seakan KPK bisa didikte oleh mereka yang disebut Romy sebagai kelompok yang menginginkan Indonesia dipimpin nasionalis-religius moderat dalam poin 3 surat itu.

Entahlah. Sebaiknya saya mulai berpikir lain saja.

Artikel Terkait