Arini seketika terisak ketika ia baru membuka pintu kamar di sebelah kanan kamarnya. Suara khas yang dikeluarkan dari daun pintu yang dibuka itu terasa begitu berbeda. Jika sebelumnya ia begitu sumringah, kali ini ia merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Tak ada lagi sosok periang bersemayam di ruangan itu.

Tidak ada lagi pria yang bisa ia ajak curhat dan becanda di waktu yang bersamaan. Tak ada lagi sosok hebat yang selalu memberinya kekuatan dan aura positif ketika ia ada di dekatnya. Seorang pria tangguh yang selalu ceria ketika di hadapannya. Sedikit pun tidak pernah terlihat sedih dan tampak sedang dalam masalah.

Arini menggerakkan kakinya satu langkah ke depan. Matanya mengarah ke seluruh penjuru ruangan, memastikan secara detail benda yang lewat dalam pandangannya. Sampai akhirnya, matanya terpaku ke sebuah lemari dengan cermin yang hanya tinggal menyisakan beberapa bagian kecil di pintunya.

Arini kemudian menghampiri dan membukanya. Memerhatikan secara seksama dari atas sampai bawah hingga matanya tertuju pada sesuatu di bawah tumpukan baju beralaskan koran. Benda yang tampak tidak asing. Begitu tipis. Sebuah kertas lusuh bersembunyi di balik amplop berwarna cokelat tua.

Arini menarik kertas putih itu secara perlahan dan menemukan surat dengan tulisan tangan yang buruk. Ia tahu persis siapa penulisnya. Hanya ada satu orang di rumahnya yang tulisannya tidak lebih baik dari siswa taman kanak-kanak.

Jakarta, 3 Maret 2017

Surat ini saya buat ketika saya sudah bangkit dari keterpurukan kemarin. Setidaknya sampai saya berani melangkah dengan lebih santai, tanpa mempunyai beban menjadi pesakitan di pundak. Walaupun trauma itu masih ada, dan perasaan yang belum sepenuhnya hilang. Tapi satu capaian yang bisa saya banggakan. Ikhlas.

Entah kapan surat ini akan sampai ke tanganmu dan dibaca olehmu. Karena sejujurnya, surat ini hanya sekedar curahan hati tentang apa yang saya rasakan dan perubahan sikap yang saya yakini pasca pengalaman traumatis kemarin.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang kamu tunjukan ke saya. Kurang lebih 20 bulan kita terlibat dalam sebuah hubungan yang berlandaskan kesamaan rasa. Bukan waktu yang singkat saya kira.

Teringat ketika pertama kali saya mempunyai ketertarikan padamu. Saya selalu berbicara bahwa kamu adalah cerminan wanita Jawa. Cantik, anggun, dan ramah. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan gambaran wanita seperti itu. Sampai akhirnya saya bisa jadi pemenang untuk mendapatkan wanita itu. Tentunya itu kamu.

Malam itu, di bawah atap bintang-bintang berlantai bambu yang disusun bertingkat, saya menyatakan perasaan saya ke kamu. Tidak pernah direncanakan sebelumnya. Jika pembicaraan tentang siapa orang yang saya suka tidak pernah ditanyakan olehmu, tentu sejarah akan jadi berbeda.

Kedekatan kita waktu itu memberikan kebahagiaan baru dalam hidup saya. Saya merasa menemukan orang yang tepat untuk berbagi dan menghabiskan waktu bersama. Hari-hari saya lalui bersamamu tanpa sedikit pun pernah merasa bosan. Menghabiskan malam di bawah lampu Kota Satria, atau meluncur pada sore hari di tempat yang kamu sebut Jalan Cinta.

Saya ingat betapa bahagianya kamu ketika kita meluncur bersama. Sambil kamu merentangkan tangan seolah burung yang sedang terbang. Matahari seolah menjadi saksi bahagia kita kala itu. Ia terlalu baik untuk mengeluarkan panasnya, hingga membiarkan awan menutupi sinarnya.

Juga halnya dengan kehadiranmu ketika saya sakit. Jika dokter umum memberikan obat, tidak dengan dokter cantik saya ini. Hanya dengan kepedulian dan cara dia memperlakukan pasiennya mampu menjadikannya obat paling mujarab. Ketika seperti itu, saya kira obat generik hanya menjadi sebuah permen dalam sakit saya.

Ada satu kenangan tentang kamu dan saya yang cukup menggelitik ketika pertama kalinya kita berlibur bersama. Ketika kamu tidur di atas motor yang sedang melaju kencang, tanpa pegangan sedikit pun. Layaknya orang biasa ketika dibonceng. Entahlah, saya juga terheran kemampuan apa yang kamu miliki sampai bisa melakukannya. Saya yakin kamu akan tertawa ketika mengingat ini.

Sudah terlalu banyak kenangan indah yang kita lewati berdua. Sampai saya tidak tahu lagi harus menceritakan seperti apa dalam surat ini. Cukuplah itu menjadikannya sebagai sisa-sisa kenangan manis di antara kita berdua. Terima kasih atas semuanya.

Pada bagian ini, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas sikap saya setelah kita tak lagi jadi satu.

Mohon maaf saya harus pergi dari hidupmu. Bukan karena kemauan pribadi. Tapi karena ketidakmampuan diri ini menahan rasa kecewa yang mendalam.

Ketika surat ini ditulis, saya masih punya perasaan yang sama ketika saya dulu mengajak kamu untuk menjalani hubungan. Bedanya, kali ini perasaan tersebut diselimuti rasa kecewa. Sehingga perasaan saya yang dulu tidak lagi mampu menampakkan diri.

Soal ini, saya kira kamu paham betul mengenai saya ketika dihadapkan dengan kekecewaan. Sedikit pun tidak pernah bisa saya tutupi dari mimik muka saya, juga sikap dingin saya. Maaf saya cukup keras untuk hal yang sifatnya prinsip. Tapi inilah saya.

Satu noda kecil saja sudah cukup untuk membuat baju putih terlihat tidak menarik. Bagaimana dengan noda yang besar, dan cukup banyak? Secarik kain putih tidak lagi menjadi putih.

Saya paham bahwa saya yang sekarang bukanlah saya yang dulu. Bukan saya yang kamu kenal sebagai kekasihmu. Yang memberikan perhatian, kepedulian, dan memanjakanmu lagi.

Melepasmu itu berat. Tapi saya tidak bisa terus menerus dalam keterpurukan.

Saya sadari dalam diri manusia, ada hal yang bisa dikendalikan diri sendiri. Ada juga hal yang tidak bisa dikendalikan diri sendiri. Membiarkanmu bahagia dengan kehidupan barumu adalah salah satunya. 

Saya memilih untuk menjauh. Hanya ini yang bisa saya lakukan, mengendalikan diri sendiri dengan tidak lagi membiarkan kenangan pahit itu masuk ke dalam hidup saya.

Maaf atas segala janji yang belum sempat saya tepati. Atau mungkin tidak akan pernah bisa saya tepati. Tak usah risau, kali ini mental saya sudah cukup kuat untuk menghadapi konsekuensi dari ucapan yang tidak pernah saya wujudkan.

Tapi percayalah, saya selalu ingin melihatmu bertambah tua dengan anak-anak lucu yang terus ada di sampingmu dan menyayangimu. Sekalipun itu harus kamu wujudkan dengan pria lain.

Semoga dengan surat ini cukup memberikan penjelasan mengapa saya jadi berbeda. Itu pun jika kamu bertanya-tanya tentang apa yang terjadi setelah hari kelam waktu itu. Tapi jika tidak, surat ini hanya menjadi tulisan yang kelak akan dimuseumkan. Kita selalu punya cara untuk bahagia dengan jalannya masing-masing.

Sekian.

Semoga kebahagiaan dan kesuksesan selalu menyertaimu.

Arini diam sejenak. Kali ini ia menutup mulutnya dan kembali membiarkan kelopak matanya digenangi oleh air mata.