Sudah terhitung lebih dari 100 hari penyelidikan oleh pihak polisi, masyarakat belum mendapat kabar baik tentang siapa dan apa motif di balik peristiwa itu. Hingga pada 31 juli 2017, Presiden Jokowi meminta Kapolri untuk menghadap terkait perkembangan kasus tersebut. Angin segar mulai berhembus tatkala Kapolri memberikan pernyataan perihal keikut-sertaan peyidik KPK dalam penanganan kasus kriminalisasi terhadap Novel Baswedan.

Namun, apakah ini akan benar-benar memberikan angin segar atau malah menjadikan kasus ini semakin dilupakan karena memberikan kenyamanan publik terkait tim pencari fakta yang melibatkan KPK?

Saat diwawancara, Novel menunjukkan sepucuk kertas surat rahasia yang berisi tentang nama penyidik KPK yang termasuk juga dirinya, alamat rumah, sampai rute perjalanan pulang, hingga nomor ponsel. Hal ini disampaikan Novel kepada Najwa Shihab, pembawa acara "Mata Najwa" pada Rabu, 26 Juli 2017.

Kejadian ini mengingatkan kita pada film-film laga Hollywood yang menceritakan pembunuhan berencana oleh sekelompok mafia yang dirancang dengan sangat apik. Lalu, siapakah mafia dalam kasus ini? Polrilah yang berkewenangan menjawab atas semua pertanyaan ini.

Komisi Pemberantasan Korupsi adalah sebuah lembaga yang selalu membuat telinga para pelaku korupsi gatal hingga merah merona bak buah jambu yang siap dipetik. Untuk bekerja di lembaga ini, memang harus dibutuhkan nyali seperti prajurit yang siap ditugaskan di medan perang.

Bagaimana tidak, teror dan ancaman dari pihak lawan harus selalu diemban dalam setiap langkah selama masih beridentitas di lembaga yang indipenden ini. Belum lagi, tuntutan menghadapi jurus-jurus yang digunakan oleh pihak lawan untuk melemahkan bahkan melumpuhkan.

KPK adalah lembaga yang memang rajin memberikan surat kepada siapa saja yang terkait dengan korupsi. Namun, bukan surat cinta seperti kisah muda-mudi tahun 90’an. Tentunya surat pemeriksaan, entah itu sebagai saksi maupun tersangka. Wajar saja, padahal ini adalah era digital di mana seseorang bisa mengirim pesan lewat chatting online lalu KPK masih saja mengirimkan undangan melalui surat.

Catatan pilu kembali terukir dalam sejarah KPK, yakni pada selasa, 11 April 2017. Di mana penyidik seniornya Novel Baswedan mengalami penyiraman air keras yang mengakibatkan ia harus menjalani perawatan intensif di Singapura. Entah apa maksud orang yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya tersebut mengguyur air keras ke wajah seseorang yang sebagian pihak mungkin mengganggapnya adalah sosok yang teramat ngeselin.

Barangkali tujuaannya hanya bergurau, atau mungkin memberi kejutan ulang tahun? Rasanya malam itu bukan tanggal dan bulan di mana ia lahir. Lalu, apa sebenarnya motif dari pelaku?

Banyak pihak yg menduga pelaku penyiraman air keras kepada Novel Baswedan adalah terkait kasus E-KTP di mana dirinya sebagai Kasatgas penyidik. Selain itu, ada pihak yang juga beranggapan ini adalah bagian dari rangkaian yang tak terputus dari upaya menyingkirkan sosok Novel Baswedan dari KPK, Karena ia sudah lama dianggap duri dalam daging bagi korps lamanya.

Di tambah dengan adanya keterangan dari Novel bahwa ada Jendral Polisi yang berperan dalam penyerangan terhadap dirinya, tentu saja hal ini membuat spekulasi publik semakin liar tak terkendali.

Kasus seperti ini bukan kali pertama terjadi. Hal serupa pernah juga dialami oleh Tama Satrya Langkun, yakni Koordinator Hukum dan Monitoring Peradilan ICW. Di mana ia mendapat perlakuan teror di tahun 2010 lalu dan mengakibatkan 29 jahitan di kepala.

Saat itu, ia sempat dibesuk oleh Presiden masa itu, yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, hingga 7 tahun berlalu, harapannya untuk tahu siapa di balik aksi teror terhadap dirinya belum juga ditemukan. Lalu, apakah janji penuntasan kasus teror akhirnya hanyalah sekadar janji semata?

Segala kemungkinan dapat terjadi. Moment inilah di mana mata publik terus tertuju pada Polri, dan pada moment ini pulalah kredibilitas Polri semakin dipertaruhkan di mata masyarakat.

Institusi Polri adalah lembaga tempat kami sebagai masyarakat menyandarkan harapan dalam penegakan hukum di negara yang majemuk ini. Jangan biarkan kami terus berspekulasi terlalu jauh. Kami butuh penegasan bahwa hukum memang tak pernah pandang bulu dalam pengungkapannya.

Kepada Bapak Kapolri Jendral Tito Karnavian yang kami hormati, kami sangat mengerti kondisi yang sedang bapak alami saat ini. Pak Kapolri mengemban jabatan di saat negara ini sedang menghadapi “krisis moral”. Belum lagi keterpilihan bapak menuai kontroversi pada saat itu.

Apakah istilah “Bagai buah simalakama” juga sedang Bapak hadapi saat ini? Di mana tuduhan terhadap petinggi-petinggi lembaga yang bapak pimpin menjadi pembahasan publik. Hanya bapak yang bisa menjawabnya.

Perlu Pak Kapolri ketahui, pihak yang selalu benci dengan sikap Polri hanyalah sebagian kecil dari masyarakat yang kebetulan terekspos oleh media, hanya karena mereka lebih aktif bersuara di media sosial. Di samping itu, kami adalah sebagian dari banyak masyarakat yang terus ada di belakang bapak untuk mendukung penuh kinerja bapak sebagai Kapolri.

Kami masih percaya bahwa di tangan bapaklah citra baik Polri akan terselamatkan. Kami sangat menyadari betul bahwa bapak sangat mendukung penuh dan terus membantu lembaga KPK dalam memberantas korupsi di negara ini.

Kami sebagai masyarakat Indonesia berharap agar tidak ada lagi kriminalisasi terhadap pegawai di KPK atau lembaga antikorupsi lainnya. Berikanlah jaminan kepada meraka selama mereka bekerja untuk lahirnya bangsa yang lebih baik, bangsa yang maju, bebas dari korupsi. Insititusi Polri adalah aparatur negara yang kami percaya mampu menjadi tameng paling depan perlindungan terhadap jalannya pemberantasan terhadap para koruptor oleh KPK.

Sekali lagi, kami meminta kepada Bapak Kapolri yang kami cintai untuk mengungkap semua pelaku bahkan "aktor intelektual" yang ada di balik kriminalisasi terhadap Novel Baswedan. Kami sangat mendukung penuh keputusan bapak. Saatnya kini membuktikan kredibilitas Polri di mata masyarakat. Kami membutuhkan sikap tegas Kapolri.

Berikanlah surat kecil untuk Novel Baswedan, surat yang berisikan perihal pengungkapan nama-nama aktor dan motif pelaku kriminalisasi terhadap dirinya. Berilah masyarakat Indonesia kabar bahagia. Buktikan kepada pihak-pihak yang sempat meragukan kinerja bapak Kapolri bahwa bintang empat yang kini disematkan memang benar pantas untuk bertengger di seragam dinas Pak Kapolri. Jadilah pahlawan yang akan terus diingat untuk generasi selanjutnya.