Salam sejahtera untuk kita semua.

Setelah melewati setahun lebih masa pandemi, saya tergerak untuk menuliskan sebuah ungkapan hati yang selama ini terpendam.

Saya bukan penulis, bukan pula akademisi, ataupun seorang ahli. Jadi maafkan kalau tulisan ini terkesan berantakan. Tulisan bebas ini tak lebih hanya sebuah ekspresi ungkapan hati.

Maka bagi siapapun yang berkenan untuk membacanya, saya ucapkan beribu terimakasih telah berkenan menyempatkan waktu membaca tulisan sederhana ini.

Pandemi.

Sebuah kata yang pernah terdengar saat di bangku sekolah tapi tak pernah terbayangkan sedikitpun sebelumnya.

Perkenalkan, saya adalah seorang warga Indonesia generasi Y. Yang mana saya lahir ke bumi mengalami transisi dunia tanpa internet menuju konektivitas yang kian borderless. Kehidupan hari ini menjadi semakin global. Semua serba cepat, saling terhubung, dan dengan mudah menggapai seluruh pelosok negeri. Tak terkecuali virus Covid 19.

Saya disini berbicara sebagai warga negara biasa, tanpa ada predikat ahli kesehatan, ahli pertahanan, atau ahli-ahli lainnya.

Saya berbicara sebagai anak bangsa, yang ingin hadir mengisi dinamika opini masyarakat yang kian berkembang.

Perkenalkan kembali, saya hanya seorang relawan di bidang sosial yang mana kami bergerak membantu para dhuafa yang sedang sakit. Kami membersamai mereka untuk ikhtiar menjemput kesembuhan. Sebelum adanya pandemi ini, keluar masuk rumah sakit adalah aktifitas kami sehari-hari. Antar jemput pasien dari rumah singgah ke rumah sakit tujuan, menjadi santapan harian kami. Menemani kemoterapi atau transfusi yang tak boleh luput meskipun sehari. Jadi, sangat sedih sekali ketika saya melihat betapa riuh nya kondisi rumah sakit hari ini.

Saya pun sempat menjadi buruh di bidang kesehatan. Oleh karena itu jangan ajarkan saya tentang arti memperjuangkan hak-hak buruh, karena saya sudah pernah merasakannya. Pada saat itu saya bertugas mengampu wewenang kehumasan sebuah rumah sakit kecil di kota saya tinggal sekarang. Meskipun bukan bagian dari tenaga medis, saya cukup mengenal bagaimana ritme pekerjaan seorang tenaga medis dalam menjalankan kewajibannya. Sedikitnya ratusan tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, maupun rekan-rekan penunjang medis lainnya, pernah menjadi rekan kerja sejawat pada waktu itu. Beruntungnya, tugas bekerja saya ini bersifat eksternal yang mengharuskan saya banyak menjalin hubungan dengan para stakeholders. Sehingga saya dapat melihat  berbagai dinamika alur pelayanan kesehatan, diluar rumah sakit tempat saya bekerja. Hal ini memberikan pengalaman dan pengetahuan yang lebih komprehensif bagi seorang buruh seperti saya.

Selain bersinggungan dengan para pemangku kepentingan pelayanan kesehatan. Saya pun berhubungan dengan institusi penegak hukum. Dalam hal ini adalah Kepolisian Republik Indonesia. Proses koordinasi yang melibatkan kepolisian seperti halnya visum, penanganan kecelakaan lalu lintas, pelayanan medis tim reaksi cepat dalam kebencanaan dan jalan tol, maupun agenda rutin seperti halnya mudik lebaran, menjadi salah satu ranah pekerjaan saya kala itu. Sehingga dari sini, saya mengenal beberapa aparat baik secara formal maupun kultural. Secara formal pada saat melaksanakan tugas masing-masing, dan berlanjut secara kultural sebagai hubungan pertemanan. Dari hubungan kultural inilah, saya mengenal bahwa polisi juga manusia biasa. Mereka hanya memilih peran untuk menjalankan perintah atasannya, lengkap disertai dengan segala konsekwensinya.

And nowdays, saya adalah seorang entrepreneur wannabe. Yang tak lagi punya gaji, hanya mampu berharap pendapatan yang masuk hari demi hari. Pernyataan ini sekaligus disclaimer pada para pembaca tulisan ini bahwa saya pun sama seperti kalian semua. Seorang pejuang rupiah. Saya belum menjadi Sultan yang bisa hidup dari dividen saham yang cair tiap bulan.

Ya benar sekali, hari ini saya sangat terdampak oleh pandemi.

Kenapa sih saya cerita panjang lebar tentang diri saya, dan mungkin membosankan bagi pembaca. Tak lain karena saya hanya ingin bercerita tentang hidup ini adalah sebuah permainan peran. Kita bisa saja menjadi siapapun di bumi ini, tapi ingat bahwa orang lain pun memilih menjadi diri mereka sendiri.

Saya miris melihat konflik horizontal yang terjadi ditengah masyarakat akhir-akhir ini. Pro dan kontra masyarakat dalam menyikapi pandemi ini cukup menguras hati. Para UMKM pejuang rupiah berteriak lantang karena memang anak-anak mereka dirumah menunggu sesuap nasi yang diharapkan. Para tenaga kesehatan pun tak jarang geram melihat  kondisi masyarakat yang seolah abai protokol kesehatan.

Ada yang bertaruh nyawa demi sesuap nasi, ada yang hidup hanya menikamti liburan di kapal pesiar pribadi

Ada yang rela mandi 5x sehari, ada juga yang tak pakai masker sama sekali

Ada yang peduli membantu sesama, ada yang masih berjuang menyelamatkan dirinya

Ada ibu yang berjuang melahirkan anaknya ditengah pandemi, ada juga seorang anak kehilangan ayah yg telah direnggut virus ini

Ada yang berusaha mengedukasi protokol kesehatan tiap hari, ada pula yang berjuang mengurai data konspirasi

Ada yang kehilangan pekerjaan, ada pula yang kehilangan perusahan warisan

Ada orang tua yang kerepotan dengan pembelajaran daring anaknya, ada pula guru yang terkantuk menyiapkan materi esok pagi

Begitu banyak kisah yang tertuliskan pada kehidupan hari ini. Para awak media yang tak henti berjuang mengabarkan berita, para kurir ekspedisi yang kepanasan mengirim barang pesanan, para satpam yang selalu sigap menjaga keamanan, para petani yang tetap berangkat ke sawah demi ketahanan pangan, para garda terdepan industri telekomunikasi, para supir bus antar kota, para seniman sang pelipur lara, para aparatur sipil negara yang lembur setiap hari dan semua orang yang berjuang mencari cara agar bisa tetap bergerak dan bertahan hidup.

Mari renungkan bersama kawan, agar kita sedikit saja bersikap lebih humanis.

Kita sadari bersama bahwasanya, kita berperan dalam diri dan mempunyai hak yang sama berdampingan dengan orang lain. 

Pernahkah anda bayangkan bahwa, seorang tenaga medis yang pamit berangkat kerja dan pulang kembali tinggal nama.

Pernahkah anda bayangkan, betapa hancurnya seorang anak yang kehilangan ayah ibunya dalam waktu hampir bersamaan.

Pernahkah anda bayangkan, bahwa seorang ayah rela tak bertemu anaknya karena harus menjaga keamanan orang lain yang justru tak ia kenal sama sekali.

Pernahkah anda bayangkan, bahwa ada seorang ibu yang tak lagi membawa upah kerja harian untuk anaknya.

Pernahkah anda bayangkan, seorang pemimpin yang bergejolak  nuraninya karena tak ada jalan lain menentukan kebijakan apalagi yang harus ia keluarkan saat ini.

Hari ini, tak lagi penting berbicara apakah pandemi ini konspirasi atau alami. 

Tak perlu lagi bicara pandemi ini tipuan ataupun virus mematikan. Biarlah mereka yang punya kapasitas untuk berbicara jauh lebih jelas.


Hujatan dan persekusi sudah cukup menghiasi lini masa media sosial hari ini.

Mari bersama bergandengan tangan, hadapi apa yang ada didepan.

Menahan diri dari kata-kata yang menyakitkan. 

Ada sisi dimana tenaga kesehatan siang malam berjuang menyelamatkan. Pada sisi lainnya ada seorang anak yang kelaparan karena ayahnya tak kunjung membawakan makan.

Kita semua tidak ada yang memilih untuk merasakan kondisi saat ini.

Adapun terdapat oknum yang mengambil keuntungan akan pandemi ini, biarlah itu menjadi hak prerogatif Tuhan.

Apa yang mereka tuai dari darah yang tertumpah, keringat yang menetes, peluh yang mengering, mari kita serahkan pada semesta untuk mengambil perannya.

Bukankah dunia ini selalu adil dalam bersikap pada karma. 

Dan kita yakini bersama bahwa kebaikan adalah energi yang kekal adanya.

Marilah kita bersepakat untuk tidak sepakat pada hal-hal yang tidak kita sepakati bersama.

Berdamai untuk hal-hal yang tidak kita ketahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Hati saudara-saudara kita semua, terlalu berharga untuk tergores ucapan yang mungkin menyinggung perasaan.

Apapun yang terjadi hari ini, sekalipun bagi mereka yang percaya konspirasi. Percayalah, masih ada rahmat dan kasih sayang Tuhan membersamai kita semua.

Percayalah bahwa kita punya keimanan yang mampu mempertahankan segalanya.

Pandemi ini menyerang tanpa memilih suku bangsa, ras maupun agama. Jadi marilah kita bersatu untuk menunjukkan keagungan Tuhan. Mari kita tunjukan bahwa ummat beragama akan selalu berada dalam lindungan Tuhan.

Seandainya pun pandemi ini adalah rekayasa. Maka para aktor yang mengambil keuntungan tersebut pasti hatinya sedang sangat jauh dari penciptaNya.

Mereka boleh tidak percaya kuasa Tuhan, tapi mereka pasti lupa bahwa kehidupan ini adalah manifestasi paling konkret kehadiranNya.

Seandainya pun pandemi ini adalah siklus alam yang sudah sewajarnya terjadi sebagai bentuk seleksi alam. Maka sudah selayaknya para makhluk di bumi ini harus mengakui bahwa ada kekuatan abadi yang mengatur kehidupan ini. Ada semesta yang menjalankan peran sebagaimana mestinya. Ada sebab akibat yang menjadi hukum abadi bumi kita bersama.

Mari sudahi caci maki

Tahan diri 

Rengkuh tangan saudara kita

Mari kita bergandengan bersama

Kebaikan akan selalu kekal di dunia

Kebaikan akan selalu ada dipihak kita

Lekas sembuh wahai ibu pertiwi ?