Lelaki yang baru lulus kuliah dua hari lalu itu mulai menulis surat untuk perempuan yang telah menjadi pacar orang. Betapa sial dirinya saat cintanya harus jatuh pada perempuan berkekasih. 

Tapi apa boleh buat, di zaman yang makin canggih ini, sesuatu yang tidak mungkin boleh-boleh saja menjadi mungkin.

Di sebuah kamar dengan kasur tanpa ranjang, buku berserakan tanpa rak, baju bergantung di dinding-dinding berpaku, meja siaga menulis dan sebuah laptop tua yang butuh infus sitrum, dia akan menulis. Foto perempuan yang menjadi kekasih orang tak lupa berada dekat samping kanan laptop.

Dia membuka laptop. Memencet tombol on. Mulai membayangkan segala rasa yang paling mungkin ada dengan indah dalam hati dan pikirannya sambil meniup membersihkan debu yang menempel pada keyboard dan monitor laptopnya. Dari mana datangnya debu-debu ini? Sekali dua kali dia menjulurkan tanya.

Mulailah dia memikirkan banyak hal yang hendak ditulis. Niatnya ingin mengungkapkan segala isi hati hingga tiada lagi yang perlu diungkapkan. Ingin dia kuras segala rasa dalam hatinya, andai saja bisa. 

Cinta yang dialaminya sudah di titik ultima, yang sudah pasti tak lagi dapat ditahan-tahan. Harus segera diungkapkan. Baginya, cinta yang tertahan ibarat lapar yang dibiarkan. Menyiksa bila dibiarkan menua begitu saja. Tapi mengapa cinta perlu diungkapkan?

Matanya lurus ke arah monitor. Dilihat dari kedua mata dan jari tangannya yang mulai sibuk mengetik, sepertinya dia tak dapat diganggu oleh siapa pun. Rasa cinta itu mulai berkeliaran kian-kemari merasuki dan menjelma menjadi diksi-diksi di atas keyboard. Perasaannya harus segera mungkin ditulis agar tak tiba-tiba hilang.

Melihat lelaki itu, kujumpai seperti tak ada kegiatan lain dalam hidupnya selain menulis surat itu. Seperti tak ada yang lebih serius dari itu. Dan seperti tak ada yang lebih penting dari itu. 

Dia tak mungkin dapat diganggu. Mungkin saja dia akan marah jika diganggu karena suratnya belum selesai ditulis. Yang paling mungkin hanyalah satu, dia menulis surat cinta untuk kekasih orang.

Sudah menjadi takdir apabila aku mencintai kekasih orang.

Hidup di zaman akhir ini sudah bagai hidup di zaman peperangan. Bahkan, hanya untuk mencintai seorang perempuan, mula-mula aku harus berusaha keras mendapatkan perempuan yang telah menjadi kekasih orang. Sungguh mengenaskan. Semua orang telah memiliki kekasih, bahkan kau sendiri telah menjadi kekasih orang.

Di tengah hidup berkasih yang kadang tanpa cinta ini, sudah saatnya peperangan dimulai antarkekasih demi cinta. Demi cinta. Demi cinta. Demi cinta.

Ya, di dunia yang mulai tidak becus, cinta harus diperjuangkan.

Cinta itu akan tumbuh jika sudah waktunya tumbuh, bahkan di hutan batu sekalipun.

Siapa yang dapat menghalau cinta ini tumbuh? Dan siapa pula yang dapat melarang cinta ini lenyap? Aku tak tahu siapa. Sejauh ini, tak ada siapa-siapa yang berhak melarang atau menganjurkan cinta tumbuh.

Cinta tumbuh atau akan lenyap dengan sendirinya. Semaunya. Sesukanya. Seadanya. Sejujurnya. Seperti cintaku padamu sebagai contohnya.

Pacarmu tak dapat menghalangiku, bukan? Dan kamu tak dapat melarangku pula. Cintaku tumbuh tanpa aturan baku. Cinta, kan, memang begitu. Aku tak dapat mengaturnya menjadi lebih disiplin. Kucoba beberapa kali untuk tidak mencintaimu. Percayalah, sudah kucoba. Tetap saja tidak bisa.

Aku tetap mencintaimu. Ya, mau bagaimana lagi? Apa kau bisa membantuku menghilangkan perasaan ini untukmu? Atau pacarmu bisa membantuku untuk melepas cinta ini tidak kepadamu? Kalau kau dan pacarmu dapat membantuku mengatur cinta ini tiba-tiba taat hukum dan tidak untukmu, segeralah lakukan.

Kamu harus tahu, cinta itu perasaan paling jujur di dunia ini. Jika aku mengatakan cinta padamu, kamu harus percaya karena aku sudah jujur.

Di dunia yang penuh kebohongan ini, yang mahal, kan, kejujuran. Orang yang jujur sebaiknya dipercaya, bukan? Bukankah dengan perasaan cintaku ini, sudah cukup sarat untukmu percaya padaku?

Sebetulnya aku tidak memaksa cintaku jatuh padamu. Entah apa maksudnya, cintaku jatuh sendiri. Ya, mau bagaimana lagi? Apa kau punya solusi?

Baca Juga: Surat Cinta

Apa, sih, salahnya cinta ini datang kepadamu? Apa karena kau sudah punya pacar? Apa kau mencintai pacarmu? Sepertinya kau tidak mencintainya. Kalau kau mencintai pacarmu, seharusnya kau tidak boleh membuatku jatuh kepadamu. 

Tapi, mengapa kau buat aku jatuh? Nah, sebab kau telah membuatku jatuh cinta tidak kepada selain kamu, maka tidak ada jalan untukku selain hanya satu yakni tetap mecintai perempuan tidak selain kamu.

Dan kau beserta pacarmu harus membiarkanku memulai cinta ini, bagaimana?

Lelaki itu mengakhiri suratnya dengan tanda tanya. Aneh kubaca isi surat itu. Tak pernah kujumpai surat semacam itu. Biasanya, surat cinta selalu puitis, lembut dan penuh diksi istimewa. Ah, barangkali dia bukan ahli puisi cinta. Ah, barangkali dia sudah bosan berpuisi. Tapi, apakah surat cinta selalu penuh tanda tanya? Ah, sudahlah, itu urusan dia.

Kursor mouse melejit ke bagian atas surat yang baru saja ditulisnya dengan pikiran dan hati yang melayang-layang. Ia kembali membaca surat yang baru saja ditulisnya. Sesekali ia sadar, apa hukumnya menulis surat cinta untuk kekasih orang, dosakah?

Setelah sampai di bagian akhir, dia menyimpannya ke lokal terdekat. Diberilah surat cinta itu dengan nama "Surat Cinta". Setelah selesai disimpan. File itu dihapus. Kursor melejit ke tempat pembuangan sampah. Di tempat sampah, file itu kembali dihapus. Permanently deleted!

Lelaki itu kembali menulis surat untuk yang kedua kalinya.

Aku ini lelaki normal. Mencintai seorang perempuan sepertimu adalah tanda paling normalku sebagai lelaki.

Sebagai lelaki, aku harus berjuang. Tidak mungkin bila cinta yang kurasa selama dan sejauh ini tak kutunaikan. Atau aku tinggalkan begitu saja.

Cinta itu bagai cita-cita. Ia harus diusahakan. Pokoknya harus diusahakan. Seberat apapun rintangannya. Pacarmu itu rintangan. Jangan lepas pacarmu untukku. Cukup berikan saja cintamu. Cukup cintailah aku dengan diam-diam. Bahkan tak apalah meski tanpa jasadmu sekalipun. Biar aku yang akan menerangkannya. Kepada dunia. Kepada siapapun di dunia ini. Kepada pacarmu.

Tak ada yang salah, kan?

Lelaki itu menyelesaikan suratnya yang kedua, yang lebih pendek. Dalam hitungan detik, surat yang kedua juga dihapus. Ia kembali bersiap menulis surat yang ketiga.

Pertemuan itu sungguh tak pernah kuatur. Siapa yang tahu dan siapa yang akan menolak pertemuan kita yang tak pernah dapat disangka sebelumnya. Aku tak mau menganggap itu kebetulan. Aku yakin, ada tanda-tanda yang lebih agung yang harus kueja selain soal kebetulan.

Mata kita bertemu di sebuah ruang. Itulah yang pertama dan paling membuatku selalu ingat padamu. Lalu tatapan mata kita terpisah oleh ingar-bingar suara dan hiruk-pikuk manusia di samping kita masing-masing.

Kuingat betul kerudung kuningmu. Jaz birumu. Rok hitammu. Sampai tas kecil warna coklat yang kau gantung di bahu kirimu. Tak lupa, senyum manis beserta tatapan matamu di muka pintu sebelum jauh memasuki sebuah ruang di mana aku dan banyak orang berbincang soal bendera.

Kenapa harus kau yang menatapku dan kenapa harus aku yang menatapmu. Kau benar-benar menyita perhatian dariku.

Aku tak rela jatuh cinta secepat itu. Apalah daya, alam berkehendak lain. Aku benar-benar jatuh cinta secepat kau muncul dan secepat kau meletakkan matamu dan senyum manismu tak lepas-lepas di mata dan hatiku.

Saat itu, gara-gara pertukaran senyum dan tatapan di antara kita, aku benar-benar menikmatimu layaknya seorang istri bagiku. Seorang perempuan cantik di bar hidupku. Semuanya tak mampu kuulas lebih jauh lagi. Aku tak mau berlebihan. Aku benar-benar jatuh cinta.

Tatapan kita bertemu kembali di sebuah titik dan ruang. Panggilah titik dan ruang itu sebagai senyum seraya. Aku menyimpan senyummu baik-baik. Hanya senyummu di antara banyak senyum ke arahku yang aku simpan baik-baik.

Matamu yang tiba-tiba memanggilku untuk datang mencatat senyum-senyum milikmu itu, yang tumpah keharibaanku. Kulakukan saja.

Sayang sekali, waktu itu aku tak membawa alat catat. Tentu, tak mungkin kucatat apapun yang kau minta. Senyummu hanya dapat kuingat. Jika kau tak ingin aku lupa pada senyum itu, biarkan aku mendekat datang padamu untuk menikmati senyum dan tatapan matamu yang indah lebih lama lagi, atau bahkan untuk selamanya. Jika saja kau mau.

Senyum di antara kita pun dirayakan. Pacarmu dan banyak orang di sekeliling kita, yang melingkar, juga tak tahu apa-apa. Mata kita berkedip saling menyimpan ingatan. Seolah flash pada kamera handphone. Pikiran kita bepergian ke kayangan. Sepertinya, aku dan kamu sama-sama mencari puing-puing cinta yang Tuhan jatuhkan ke bumi.

Kita saling curiga. Mataku dan matamu lama merajut tanya. Apakah kita sudah pernah kenal? Apakah kita pernah bertemu? Apakah kita jodoh? Apakah aku atau kau yang terlebih dahulu jatuh cinta? Menjadi tak penting siapa namaku ataupun namamu. Rasa cinta melebihi apapun. Tanpa nama sekalipun, sepertinya aku masih bisa mencintaimu yang juga tanpa nama.

Jika ini pesta dansa, maka segeralah jangan berhenti. Terus-meneruslah terpenjara dalam ramu senyum yang tiada duanya, yang mengalunkan rasa indah tiada taranya.

Kemudian, yang pertama kucatat, yang pertama kuingat, yang paling sering kukhawatirkan, pacarmu marah. Tapi, apa pedulinya aku pada pacarmu, sebab aku hanya punya urusan denganmu. Senyum yang kau lempar ke mataku lebih berharga bahkan dari dunia seisinya. Lebih berharga dari segalanya. Senyummu membuatku lupa bahwa kau benar-benar pacar orang.

Saat kau membuatku lupa bahwa kau pacar orang, seharusnya kau mencegahku meneruskan cinta. Jika kau tak berani menerima cintaku, jangan pernah buat aku lupa bahwa kau pacar orang.

Selesai pula surat yang ketiga. Surat itu pun dihapusnya tanpa memikirkannya lebih lama. Ketiga surat yang ditulisnya tentu lenyap. Tak ada. Tak akan kembali. Dan, ia takkan dapat mengirim surat apapun pada gadis yang menjadi kekasih orang.

Dia bersiap untuk menulis surat yang keempat. Tapi, untuk apa? Sebentar lagi akan dihapus juga. Apa pentingnya, menulis surat hanya untuk dihapus?

Aku mencintaimu. Sayang, kau pacar orang.

Surat yang keempat, lebih pendek lagi dan simpel lagi. Surat itu dihapus.

Surat yang kelima dalam proses dibuat.

Kau, kekasih orang yang kucintai.

Sudah dipastikan, surat itu akan pasti kembali dihapus.

***

Hanya aku yang tahu bahwa lelaki itu menulis surat untuk perempuan yang menjadi kekasih orang. Hanya aku yang tahu isi surat itu. Hanya aku yang tahu tentang lima surat yang dihapus itu. Tak ada satupun orang yang tahu selain aku.

Akulah lelaki itu. Lelaki yang gagal mengirimmu surat cinta untuk yang kelima-kalinya. Aku lelaki yang dua hari lalu baru saja wisuda sarjana. Aku lelaki yang bertemu denganmu di sebuah pantai bernama tatapan dan sebuah hutan bernama senyuman.

Surat yang keenam dihapus. Tak ada yang benar-benar tersisa.

***

"Mengapa kau hapus surat cinta itu?" Tanyaku setelah panjang mendengar cerita yang kuterima dari seorang lelaki yang tak perlu kusebutkan namanya.

"Karena tak ada cinta yang pantas untuk perempuan yang sudah berkekasih," jawabnya.

"Bukankah, cinta itu leluasa memilih siapapun?"

"Iya, tapi pada dasarnya, cinta harus patuh pada aturan moral. Kau tidak dapat semena-mena mencintai perempuan yang sudah menjadi kekasih orang."

"Tapi mengapa kau menulis surat itu jika kau sadar bahwa itu tak pantas?"

"Menjadi dosa bagiku apabila cinta tak terungkapkan. Aku harus menuliskannya. Menjadi dosa pula bila aku mengirimnya pada perempuan yang menjadi kekasih orang."

"Bagaimana nasib cintamu?"

"Aku tak tahu. Aku hanya bisa menikmatinya dan menghapusnya. Berulang begitu."

"Berarti kau melakukan sesuatu yang sia-sia?"

"Tidak ada yang sia-sia kulakukan demi cinta. Cinta selalu tak pernah sia-sia diperjuangkan."

"Meski pada akhirnya cintamu tak memihak pada dirimu sendiri?"

Lelaki itu diam. Aku tak tau apa yang membuatnya diam. Setiap orang punya alasan untuk diam dan aku tak perlu mengetahuinya.

"Jika aku jadi kamu, aku akan memilih tetap mencintai perempuan itu. Walau ia telah menjadi kekasih orang. Aku akan berkenalan dengannya. Jika ia tak mau, tak akan aku paksa. Jika ia mau, akan segera aku bawa pergi," kataku berusaha meramaikan suasana lengang dan diam yang meriah.

"Jika ia rela pergi dari kekasihnya demi kamu, suatu saat ia akan rela pergi dari kamu demi kekasih yang lain," petuahnya.

"Tidak jadi masalah," jawabku.

"Itu masalah," tegasnya.

Kita kembali diam merenung. Meragukan banyak hal yang kita ucapkan sendiri. Kata-kata kadang terlalu berlebihan keluar dari mulut. Faktanya tidak begitu. Kata-kata selalu membuat semua orang lupa bertanggungjawab secara faktual. Fakta lebih sederhana dari kata-kata.

"Apa masalahnya?" Tanyaku.

"Cinta itu bukan perebutan. Bukan pergonta-gantian. Cinta itu upaya pensejatian rasa. Bukan sebaliknya. Aku mencari yang sejati. Walau kadang kupikir, cinta manusia sejati tidaklah ada di bumi. Dengan harapan itu, minimal aku tahu cinta sejati benarlah tak ada di dunia ini dan aku tak mungkin berharap lebih."

Percakapan kami selesai sampai di situ. Aku tak dapat menghalau cara setiap orang merealisasikan cinta dalam tubuhnya. Setiap orang bernafas dengan menghirup oksigen dengan kadar yang tak sama. Panjang kehidupan dan cara hidupnya pun tak sama. Dengan hak apa aku harus memaksa perbedaan macam itu. Niscaya! Niscaya segalanya berbeda.

"Aku hanya ingin mengirim surat. Mengungkapkan perasaan. Tidak lebih. Aku tak mengharap balas apapun," katanya, sebelum berpisah.

"Keinginanmu untuk mengungkapkan perasaan menyimpan harap agar cinta dalam dirimu terbalas. Jika memang kau tak ingin balasan, kau tak perlu mengiriminya surat, bukan?"

"Aku ingin memberi cinta, bukan menggadaikan cinta. Aku tak pernah menjamin cintanya dengan cintaku. Aku tak ingin mengambil cintanya dengan cara memberi cintaku. Aku ingin memberinya cuma-cuma," debatnya denganku.

"Jika ia mebalas, apakah kau akan menerimanya?"

"Jika ia niat membalas pemberian cintaku, aku tak akan menerima. Jika dia berniat memberi tanpa niat membalas, aku akan menerimanya."

"Kau sudah gila. Interaksi hidup di dunia ini selalu hadir dengan balas-membalas. Bagaimana mungkin cinta terjalin tanpa balas-membalas," kritikku.

"Oleh karena itu, aku sadar, cinta sejati tak ada di bumi ini. Juga tak ada pada perempuan yang telah menjadi kekasih orang. Juga tak ada pada diri manusia manapun."

"Cinta macam apa itu?" Tanyaku. Rasanya percakapan ini akan panjang. Lebih panjang. Padahal kami sudah berpamitan untuk berpisah.

"Cinta terlarang. Cinta yang dilarang untuk benar-benar menjelma menjadi yang sejati."

"Maksudnya?" Tanyaku lagi.

"Cinta yang sejati telah tiada. Bukan tak mungkin ada," jawabnya pendek.

"Bagaimana dengan perempuan itu?" Tanyaku untuk yang kesekian kali.

"Biarlah perasaanku yang paling tahu."

Kita-pun benar-benar terpisah di persimpangan jalan. Terpisah di belantara yang tak pernah menemukan perkampungan. Terpisah oleh ombak besar yang tiada pernah damai. Bagaimanapun, aku ini perempuan yang telah kau cintai. Bagaimanapun, aku ini kekasih seorang lelaki yang bukan kamu. Bagaimanapun, aku harus menjaga kesetiaan untuk lelaki yang bukan kamu. Bagaimanapun, aku juga mencintaimu. Bagaimanapun, surat itu telah aku baca sebelum kau hapus.

Aku adalah dirimu yang tahu seluk-beluk dirimu dan ingatan-ingatanmu. Aku adalah kamu yang lain. Yang menjelma sebagai perempuan yang telah menjadi kekasih orang.