Nomor: xxxx

Perihal: Surat Cinta

Surat ini ditujukan untuk seluruh Mahasantri

Dimanapun,

Assalamu’alaikum,

Halo semuanya, perkenalkan saya adalah seorang pembelajar yang menempuh studi di kampus berbasis pondok pesantren daerah Jawa Timur. Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa Jawa Timur adalah daerah yang lekat dengan kepesantrenan. 

Selain itu, selama di Jawa Timur saya juga menemui banyaknya lembaga perguruan tinggi yang dinaungi pondok pesantren. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya membawa fenomena ‘percampuran kultur’ antara santri dan mahasiswa.

Dari fenomena pencampuran kultur tersebut, lahirlah sebuah terminologi unik yang disebut mahasantri. Melansir dari jurnal UNUSA, secara definitif; mahasantri adalah mereka yang tinggal di pondok pesantren sekaligus menempuh pendidikan di perguruan tinggi (berbasis Islam).

Nah, sebelum masuk ke permasalahan, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengajak pembaca tercinta untuk sama-sama mengupas secara terpisah antara karakteristik mahasiswa dengan santri. Ini sebagai bentuk tinjauan, agar kita bisa membedakan karakteristik dari 2 terminologi tersebut.

Bung Hatta sendiri lebih senang menyebut mahasiswa sebagai kaum intelegensia, kaum intelegensia menurut Bung Hatta ialah ‘kaum intelegensia tidak bisa bersikap pasif, mereka harus ikut bertanggung jawab dalam perbaikan nasib bangsa ini’. 

Sedangkan santri, menurut KBBI ialah ‘orang yang mendalami agama Islam’. Secara umum, santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren.

Dari paparan di atas, dapat kita tarik benang merah bahwa antara mahasiswa dengan santri memiliki pengertian yang berbeda. Di samping pengertian, jika kita lihat sisi sejarah, baik santri maupun mahasiswa keduanya memiliki peran tersendiri yang tentunya signifikan bagi Indonesia. 

Kontribusi para mahasiswa sangatlah besar dalam mengawal bangsa ini, kawan-kawan bisa baca bagaimana perjuangan Bung Karno dengan teman-temannya dalam mengusir penjajah. Begitupun dengan santri, kita bisa lihat bagaimana perjuangan mbah Hasyim Asy’ari beserta santrinya dalam melawan penjajah. Meskipun memiliki konteks latar belakang yang berbeda, posisi keduanya sama-sama mengemban tanggung jawab yang sangat besar.

Alangkah baiknya kita samakan persepsi terlebih dahulu tentang perbedaan karakteristik mahasiswa dengan santri pada umumnya. Berdasarkan pengalaman saya dalam berinteraksi dengan mahasiswa dan santri, saya mempunyai kesimpulan sederhana bahwa seorang mahasiswa cenderung mengedepankan ‘logika’ nya, sedangkan santri cenderung pada mengedepankan akhlaknya (debat japri).

Terdapat 2 hal yang melatarbelakangi tulisan ini. Pertama, karena saya sendiri berada dalam lingkungan mahasiswa dengan latar belakang santri (mahasantri), saya sedikit heran ketika melihat banyak dari teman-teman saya yang seperti kebingungan dengan statusnya sebagai mahasiswa yang tumbuh dilingkungan pondok pesantren sehingga karakter seorang santri yang katakanlah ‘sami’na wa atha’na’ ini terbawa sampai pada perkuliahan. Dan rata-rata dari mereka lebih condong menunjukkan karakter kesantriannya. 

Kedua, saya sempat berdiskusi kecil-kecilan bersama beberapa teman mahasantri, dan ada hal yang membuat saya sedikit risih dengan cara berpikir mereka yang cenderung irasional.

Contohnya ialah, pertama, ketika perkuliahan kelas dipertemukan dengan dosen yang malas-malasan (masuk hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan mengisi absensi) tanpa ada niatan mengajar. Mahasantri tersebut tidak berani bahkan ketika hanya sekedar mengingatkan dosen tersebut dan hanya pasrah dengan keadaan. Justru, malah bersikap risih ketika ada temannya yang berani mengingatkan dosen tersebut dengan dalih ‘suul adab’ (adab yang buruk).

 Kedua, ketika saya melihat dosen dengan gerak-gerik yang tidak senonoh. Tidak sedikit saya melihat beberapa dosen yang melakukan guyonan genit kepada para mahasiswi. 

Ketiga, ketika terlahir sebuah kebijakan yang tidak mendasar dari pihak kampus sendiri, yang mana kebijakan tersebut merugikan banyak pihak, lagi-lagi dalih yang dipakai adalah suul adab.

Dan itu semua membuat saya risih (sedikit ingin menggaruk ginjal), saya pikir jika mereka terus-terusan diam atau tidak berani menyatakan kebenaran, apa gunanya mereka duduk berjam-jam dibangku perkuliahan dan bertahun-tahun berada di pondok pesantren, mempelajari tentang salah dan benarnya sesuatu, tetapi pada akhirnya mereka memilih diam dan membiarkan (kesalahan yang jelas mereka sadari) seperti angin lalu. 

Dari situ saya bertanya-tanya, “apakah ini yang disebut masyarakat dengan kesadaran magis dan naif yang dimaksud Paulo Freire dalam buku ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ nya?”. Dan lantas bagaimana jadinya ketika dihadapkan dengan realitas sosial di masyarakat? Atau bahkan akan berujung seperti masyarakat Brazil yang diceritakan Paulo Freire? Atau kembali ke era ORBA? (selengkapnya tinjau di buku karya Paulo Freire yang berjudul ‘Pendidikan Kaum Tertindas’).

Ingat, permasalahan di masyarakat sendiri lebih kompleks dan lebih berat brow (tapi tetap lebih berat mencintai dia sih), gak bisa jika hanya mengandalkan skill diam, seolah-olah sabar dan diam mu adalah emas.

Bagi saya, terdapat sebuah kerancuan dalam cara berpikir mahasantri di atas. Hal-hal yang merugikan tentu tidak bisa dibiarkan menjadi sesuatu yang lumrah, karena jika menyebar akan mengganggu kemaslahatan. Perlu ada rekonstruksi pada pemikiran mahasantri tersebut, agar berani bertindak dalam melawan sebuah kesalahan. 

Sekali kamu kalah oleh realitas sosial, maka kamu akan mati (kamu hanya akan dibangunkan oleh malaikat, ini berbeda dengan film putri salju yang mana kamu dibangunkan dari mati mu untuk ending yang membahagiakan).

Dalam hal ini, saya berbincang dengan beberapa teman mahasantri seperguruan tinggi (yang identitasnya tidak ingin disebutkan). Saya ajukan pertanyaan begini, “sebagai seorang mahasantri, apa yang akan kalian lakukan ketika melihat seorang dosen atau guru yang mencerminkan sikap yang tidak sepatutnya? (sertakan alasan)”.

Jawaban yang saya terima cukup bervariasi, ada yang memang sepakat dengan lebih memilih apatis membiarkan guru atau dosen tersebut karena takut terkena marah, ada juga yang memilih dengan cara mengacuhkan (tutup mata dan telinga) karena takut disebut suul adab.

 “Jika berurusan dengan dosen ataupun guru, saya memilih diam dan husnudzan. Karena saya pikir guru tersebut, bisa jadi sedang menguji saya selaku muridnya.” Ujar salah satu mahasantri.

Ada juga mahasantri yang orientasi pendapatnya mengarah pada attitude (prilaku), “menurutku ini tentang attitude belajar-mengajar. Aku merasa 80:20, karena pertama latar belakang kampus ini dinaungi pesantren, jadi attitude ku sebagai seorang santri adalah sami’na wa atha’na, tidak berani berkutik (manut). Kedua, sebenarnya ada beberapa poin yang membuat aku tidak nyaman, saat aku ingin berontak tapi ada dorongan dalam diriku untuk kembali ke poin pertama,” ungkap mahasantri lainnya.

Namun, secara objektif saya juga menemukan sebuah jawaban antitesa dari pernyataan sebelumnya. Ternyata, ada mahasantri yang berani dan memilih untuk menentang dengan cara menegur dosen tersebut, hal ini membuat saya sedikit lega. Begini beragam jawaban yang saya dapat:

“Jika menemukan perilaku tidak sepatutnya pada seorang guru, seyogyanya harus kita tegur.”

Lalu saya tanyakan kembali, “apakah kamu tidak takut jika disebut suul adab atau tidak punya akhlak? Lantas menegur dengan cara apa yang kamu pakai?”

A: “yang saya maksud ialah dengan berbicara secara langsung dengan gerak tubuh dan pemilihan bahasa yang sopan, yang tidak mengandung unsur menjatuhkan atau menyinggung perasaan si guru tersebut. Seperti mengawali dan mengakhiri pembicaraan dengan kata ‘maaf’ sembari sedikit ‘membungkukkan badan’, dengan begitu saya rasa bisa disebut kita menegur dengan cara yang beradab.”

B: “kalo saya melihat terlebih dahulu kesalahan yang dilakukannya, kalo kesalahan bersifat melecehkan saya lebih suka dengan cara menegur dan mengkritiknya secara langsung. Bagi saya guru seperti itu lebih tidak beradab dibanding kritikan saya.”

C: “aku sih lebih suka dengan membicarakannya secara empat mata setelah perkuliahan selesai, sehingga guru ataupun dosen tersebut tidak merasa terjatuhkan di depan umum”.

Mungkin jika diprosentasekan jumlah mahasantri yang berani bersuara terhitung sangat sedikit, dan mahasantri yang manut (tidak berani bersuara) jumlahnya lebih dominan. 

Adapun latar belakang sosok mahasantri yang memiliki kecenderungan dengan karakter kesantrian ataupun kemahasiswaan terbentuk karena berbagai faktor, seperti lingkungan (cara berpikir orang dilingkungannya), ada juga karena faktor kognisi dan pengaruh dari konsumsi personal (tontonan, bacaan). 

Secara natural, berbagai latar belakang tersebut dapat dimaklumi karena semuanya hanyalah konstruksi dan tiap-tiap konstruksi tentu saja bisa dirubah (rekonstruksi). Pemakluman bukan berarti diam saja, belum terlambat bagi kita untuk melakukan perubahan tersebut.

Masih banyak dialog yang saya lakukan bersama kawan-kawan mahasantri seperguruan tinggi, hanya saja tidak saya cantumkan semuanya. Inti dari dialog yang saya lakukan, hanya sebagai penguat tulisan ini terkait bagaimana seharusnya sosok mahasantri ketika dihadapkan dengan kondisi-kondisi di atas. Jika dirasa belum puas, maka silakan lakukan riset secara mandiri yaa.

Fokus dari tulisan ini sebetulnya adalah bentuk kritik transformatif kepada mahasantri yang tidak bisa membedakan dan memposisikan diri kapan seharusnya menjadi santri dan kapan seharusnya menjadi mahasiswa.

Apabila sosok mahasiswa dikenal dengan cenderung mengedepankan logikanya ketika berhadapan dengan suatu masalah, sedangkan sosok santri yang dikenal cenderung mengedepankan akhlaknya. Maka terlepas dari kelebihannya masing-masing, bagi saya mahasantri adalah suatu kesatuan yang sempurna, sosok yang bisa memperbaiki kecenderungan salah satu sikap pada kedua pihak di atas. 

Dalam artian akhlak dengan logika harus benar-benar ditunjukkan secara seimbang setiap saatnya sebagai buah dari pembelajaran di pondok pesantren dengan di perkuliahan, sehingga sosok mahasantri benar-benar ter-representasi-kan dan tidak menjadi ‘julukan’ belaka.

Saya jadi teringat sosok-sosok seperti; Tan Malaka, Gus Dur, Mahbub Djunaedi, Ahmad Wahid, KH. Asep Saifuddin Chalim dan tokoh-tokoh besar lainnya. Yang bagi saya mereka adalah figur ideal yang merepresentasikan sosok ‘mahasantri’. Alangkah baiknya kita selaku mahasantri bisa menauladani para tokoh tersebut.

Oh iya lupa, ini surat cinta. Maaf kalo tidak ada romantis-romantisnya, janji deh kedepannya bakal lebih romantis (maklum, belum di izinin pacaran sama ortu). Anggap saja tulisan ini sebagai ungkapan rasa cinta dan kepedulian dari hamba yang amatiran.

Sekian, penuh cinta. Muahh.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Catatan:

Sedikit curhat yaa. Jadi tulisan ini adalah tulisan perdana saya dalam membuat sebuah karya tulis, bagi kalian yang sedang membaca tulisan saya, harap bisa memaklumi segala kesalahan dan kekurangan dalam tulisan ini. 

Dan saya harap kawan-kawan bisa sedikit berbaik hati untuk memberi saran dan kritikannya untuk menunjang perbaikan pada tulisan saya selanjutnya.