1 tahun lalu · 15810 view · 4 menit baca · Politik 68086_62327.jpg

Surat (Cinta) untuk Fadli Zon: Sudahilah Kelabui Publik

Teruntuk Fadli Zon, wakil terhormat saya yang mungkin hari ini tengah asyik mengotak-atik gawai, sibuk rumuskan twit apa lagi yang hendak akan dilayangkan ke followers yang berjumlah kurang lebih 852K itu.

Jadi begini, Fadli Zon. Semalam saya sempat baca twit Anda tentang hoax. Tapi tunggu dulu, sebelum bahas ini lebih jauh, dan biar Anda tak ke­-pede­-an juga, saya harus katakan bahwa saya bukan termasuk salah satu follower Anda, ya. Saya bisa baca twit Anda itu berkat retweet-an dari seorang kawan saja.

Di sana, di twit Anda yang sudah di-love ribuan netizen itu, Anda sebut bahwa pembuat hoax adalah mereka para penista agama. Itu Anda pastikan. Sebab, menurut Anda, yang hormati agama dan kebinekaan mustahil sebar fitnah dan kebohongan.

Screenshot Twit Anda

Saya sepakat, meski hanya sekilas. Tak mungkinlah suatu hoax, apalagi hoax tentang agama, ditebar kalau bukan oleh penista agama sendiri. Mereka yang hargai keberagaman, junjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa, mustahil bikin gaduh jika dasarnya hanya pada perbedaan semata.

Hanya saja, membaca twit Anda, pikiran saya melayang-layang, langsung terbayang ke sosok Ahok, sang pelayan rakyat yang Anda nilai sebagai penista agama. Itu yang benar-benar ganggu pikiran saya semalam suntuk, hingga merasa harus layangkan secarik surat (cinta) yang tak seberapa ini.

Maksud saya begini, Fadli Zon. Twit Anda itu, setelah lama saya resap-resapi, tak lain sebentuk penggorengan opini saja. Inti ocehan Anda, saya yakin bukan seolah-olah, ingin tegaskan bahwa industri hoax seperti Saracen atau Muslim Cyber Army (MCA), misalnya, adalah buah rekayasa politik Ahok—olahan beserta limbahnya, ingin Anda katakan, digencarkan hanya oleh para pendukungnya, Ahokers.

Lha, apa maksud “penista agama” kalau bukan semacam tudingan untuk Ahok dkk? Ini bukan rahasia lagi, lho. Publik kebanyakan sudah terlanjur kecantol pada makna istilah “penista agama adalah Ahok”. Ini opini besar. Kita sudah tahu itu. Opini seperti ini tersebar luas. Menjamur di mana-mana.

Ketika Anda memasukkan istilah itu dalam twit Anda, maka sudah jadi rahasia umum bahwa yang hendak Anda tembak sebenarnya adalah Ahok. Iya, Ahok, korban politik kotor dan kriminalisasi yang kini hanya mampu cari duit dengan jualan buku saja.

“Yang membuat hoax itu pasti Ahok atau para pendukungnya. Mereka yang hormati agama dan kebinekaan, lawan-lawan Ahok seperti saya, tak mungkin tebar fitnah dan kebohongan.” Kira-kira begini makna jelas dari twit Anda. Ada sanggahan? Silakan saja layangkan setelah membaca tuntas secarik surat (cinta) saya ini, ya.

Bukan hal yang patut dipertanyakan lagi mengapa Anda harus tebar twit yang demikian. Toh kita juga sudah tahu belaka, industri hoax MCA terlanjur terindikasi dengan diri Anda, bukan? Salah satu adminnya, Roy Janir, viral di banyak media, terekam berselfie-ria dengan Anda di dalam mobil.

Selfie-ria Anda dengan Roy Janir

Sehingga wajar belaka kalau Anda berupaya bikin twit seperti itu. Kata lainnya, twit itu Anda tujukan hanya guna menghapus jejak bahwa Anda punya kedekatan khusus dengan para penyebar hoax. Iya, kan?

Meski begitu, saya sih mafhum-mafhum saja. Sebagai oposisi memang, menyerang lawan, apa dan bagaimanapun caranya, adalah sah. Kalau kata Machiavellian, ini laku utama capai tujuan: halalkan segala cara tanpa harus terikat pada aspek moral atau etis. Tak percaya? Baca saja The Prince atau Discourse karya junjungan mereka, Niccolo Machiavelli.

Terkait hasil selfie-ria Anda dengan salah satu admin MCA, yang kemudian Anda akui tak mengenal dirinya, siapa bisa percaya? Itu di dalam mobil, lho, bisa dibilang ruang pribadi Anda, bukan di tempat umum. Ah, Anda. Mengada-ada!

Cukuplah, Fadli Zon. Sudah-sudahilah kelabui publik, orang-orang yang Anda wakili di Senayan sana. Toh, sebagai salah seorang yang Anda wakili juga, saya tak keberatan apalagi melarang jika Anda melulu mengatasnamakan saya (rakyat) seenak dengkul.

Hanya tolong, mohon camkan ini, lebih baik Anda bekerja nyata saja sebagai wakil daripada sekadar nyinyir melulu di media sosial begitu. Selain tak baik bagi kesehatan Anda sendiri ke depan, rakyat yang Anda wakili juga hanya butuh nasi, bukan ocehan basi.

Lagi pula, ocehan basi Anda itu sama sekali tak berdasar juga, kok. Siapa bisa jamin kalau pembuat hoax itu sudah pasti para penista agama? Siapa pula bisa jamin kalau yang hormati agama dan kebinekaan itu tak mungkin bisa tebar fitnah dan kebohongan? Isi hati dan niat orang, siapa bisa tahu, Fadli Zon?

Jadi, bolehlah saya golongkan seperti ini: isi twit Anda, lantaran tak berdasar, adalah hoax. Atau jangan-jangan Anda sendiri adalah hoax, wakil palsu, seolah-olah wakil?

Bukti paling sederhana begini. Anda, sebelum dilantik jadi wakil rakyat, bersumpah akan penuhi kewajiban sebaik-baik dan seadil-adilnya. Ya, meski tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya sebagaimana anjuran founding fathers dalam mengisi kemerdekaan.

Anda, bersama wakil-wakil rakyat lainnya, bersumpah akan bekerja sungguh-sungguh demi tegaknya kehidupan demokrasi. Dasar sumpah Anda jelas, berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945, yang isinya menuntut Anda bekerja nyata, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, bukan kehendak pribadi atau golongan.

Pun, bahkan atas nama tuhan, Anda bersumpah akan memperjuangkan aspirasi rakyat. Segala itu hanya demi mewujudkan tujuan nasional. Kan begitu, bukan, sumpah Anda? Semoga Anda masih ingat.

Sayangnya, melihat kelakukan Anda yang hampir tiap hari tertonton di media sosial dan massa, saya lalu curiga. Rasa ini lalu timbulkan tanya: benarkah Anda ini adalah wakil yang benar-benar wakil? Jangan-jangan, seperti saya sebut di atas tadi, hanyalah wakil hoax? Ah, semoga saja tidak demikian.

Sekali lagi, Fadli Zon. Sudah-sudahilah kelabui publik. Beri mereka hasil kerja nyata. Sebab yang bekerja, apalagi demi rakyat seperti dicontohkan Jokowi juga Ahok, akan dikenang baik. Sungguh. Selamanya.

Dan yang terakhir, jika Anda berkenan atau mungkin malah enggan dengan secarik surat (cinta) saya ini, pilihannya hanya ada satu: balas ini dengan secarik surat pula. Salam ✌️.