Salam pendidikan…

Bapak menteri yang kami hormati, melalui surat ini sejujurnya kami atas nama siswa/i Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang ada di desa, sangat mengapreseasi dan tidak pernah mempermasalahkan ketika Bapak Jokowi memutuskan bapak untuk menggantikan posisi Bapak Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Bagi kami siapa pun menterinya, kami tetaplah harus belajar dan terus belajar.

Hari-hari kami lalui sebagimana mestinya dengan aktivitas belajar, bermain dengan teman-teman dan tidak lupa waktu bercengkrama bersama keluarga di rumah. Akhir-akhir ini kami sangat terkejut ketika mendengar informasi di radio dan membaca surat kabar yang menempel menjadi pembungkus tempe di dapur, bahwa bapak berencana akan menerapkan kebijakan sistem Full Day School atau sekolah sehari penuh.

Tidak puas dengan kebenaran informasi yang kami dapatkan tersebut, kami langsung bertanya kepada guru-guru di sekolah yang jauh lebih banyak tahu tentang ini. Benar saja ternyata informasi yang kami dapatkan itu benar adanya, dan sontak membuat kami tergerak untuk menulis surat sebagaimana yang bapak baca pada saat ini.

Bapak lupa ya, untuk kami yang tinggal di desa bahwa kami harus sekolah di MDA/DTA dan biasanya kami mengistilahkan dengan sekolah petang atau sekolah agama. Sekolah petang ini kami lakukan setelah pulang dari sekolah umum. Di sana kami diajarkan banyak tentang ilmu agama lho, Pak.

Mulai dari cara bersuci, cara salat, cara bergaul antar sesama, sampai dengan ilmu fiqih yang terkadang tidak kami dapatkan saat sekolah di pagi hari. Kami khawatir bagaimana nantinya nasib sekolah petang kami ini kalau kebijakan ini benar-benar akan bapak terapkan.

Oh iya, Pak, selain sekolah agama biasanya banyak di antara kami yang pada sore hari juga harus membantu orang tua di rumah. Walaupun kami tahu seusia kami tidak diperbolehkan untuk bekerja, tapi tanpa sepengetahuan Bapak kami harus melakukannya. Ini semua demi meringankan beban orang tua kami yang sudah mulai tua renta.

Bapak jangan menghukum orang tua kami ya, karena kami telah membuat pengakuan seperti ini, tolong ya, Pak. Semua ini kami lakukan ikhlas, tanpa unsur paksaan. Maka dari itu, dengan ringan tangan dan penuh kesadaran, sepulang sekolah petang kami selalu sempatkan mencari rumput untuk makanan hewan ternak

Ada juga sebagian di antara kami harus mencari tembikar di hutan untuk dijual, atau ikut menggembala bebek dan kerbau di sawah. Bahkan ada di antara kami yang harus ikut menganyam, membuat atap dari rumbia.

Bapak jangan khawatir, di sana kami sambil belajar banyak kok. Kami benar-benar maknai kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam dan isinya. Guru kami selalu berpesan bahwa belajar tidak hanya di sekolah, akan tetapi kami dapat belajar melalui alam terbuka. Jujur, ini sudah kami lakukan setiap hari, jadi Bapak jangan khawatir nilai di sekolah kami akan rendah.

Justru hal yang perlu Bapak khawatirkan adalah kesiapan kami yang harus mengubah kebiasaan ini jika nanti wacana kebijakan ini benar-benar diterapkan. Kami sedih, kami jadi merasa bersalah, siapa lagi nantinya yang harus membantu orang tua kami, Pak? Sementara kakak kami masih di rantauan untuk bekerja dan sebagian menuntut ilmu di Perguruan Tinggi.

Nah, bapak pasti terkejut kan dengan pengakuan kami ini. Tapi tenang saja, Pak, kami sudah terbiasa dengan semua ini. Bahkan di malam harinya kami harus belajar mengaji di masjid/ musala. Karena orang tua kami sangat marah jika kami tidak mau belajar mengaji, sekalipun kami sangat lelah.

Proses belajar mengaji yang kami ikuti di desa ini sangatlah menarik, padahal kami tahu sistem pembelajaran di sini tidak pernah ada kurikulum yang mengaturnya. Semuanya berjalan secara natural, kami serahkan kepada guru mengaji kami untuk menentukan sistem dalam mendidik kami. Ternyata hasilnya sangat luar biasa, banyak di antara kami yang dulunya tidak mengerti tentang ilmu agama, sekarang kami menjadi mengerti. 

Sebenarnya kami semua tahu, niat Bapak baik, untuk mempersiapkan kami menjadi generasi yang berkarakter dan siap memimpin Indonesia hari esok yang lebih baik. Tapi kami butuh waktu bermain, Pak. Kami tidak mungkin seharian full harus berada di sekolah, karena kami juga perlu untuk berekspresi dengan bermain layang-layang, bermain gasing, bermain kelereng, berenang di sungai dan banyak lagi.

Bukankah Bapak yang menganjurkan kami untuk mencintai permainan tradisional agar budaya Indonesia tidak punah dari peradaban? Tapi sekarang mengapa waktu bermain itu harus dihilangkan dari dunia kami? 

Kepada siapa kami harus mengadu? Tidak mungkin kan kami harus mengadu kepada Bapak Anies Baswedan? Pak Anies sudah tidak menjadi menteri lagi. Atau kami harus mengadu kepada Kak Seto? Aduh, Pak, jangankan mau berjumpa Kak Seto, berkunjung ke Ibu Kota Kabupaten saja kami belum pernah.

Begini saja, Pak, kalau kami diizinkan memberi usul, daripada Bapak menerapkan sistem Full Day School, lebih baik Bapak fokus memperbaiki dinding sekolah kami yang sudah reyot, atap sekolah kami yang bocor dan jika perlu Bapak hadirkan gedung laboratorium serta perlengkapannya biar kami semakin semangat untuk belajar.

Oh ya satu lagi, Pak, jika Bapak benar-benar ingin menyukseskan program pendidikan karakter dalam rangka mewujudkan revolusi mental, lebih tepat jika Bapak menyejahterakan guru-guru kami yang mengajar di sekolah.

Kasihan, Pak, mereka sudah bersusah payah mendidik kami, tapi kesejahteraan mereka masih jauh dari kenyataan. Percayalah pak, membentuk karakter seusia kami memang hal yang sangat penting, namun hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah mensejahterakan guru-guru kami di Sekolah.

Sebaiknya Bapak pikir-pikir dulu sebelum menerapkan wacana kebijakan ini, karena kami tidak seperti teman-teman yang lainnya yang berkesempatan hidup di kota yang terbiasa di antar jemput ketika datang dan pulang sekolah menggunakan mobil, membawa uang jajan dan makanan yang lebih saat ke sekolah. Sekalipun wacana kebijakan ini diterapkan, mungkin tidak akan menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh buat mereka. 

Kondisinya sangat jauh berbeda dengan kami anak desa yang terbiasa hidup dengan kesederhanaan, kami takut kami tidak siap jika harus mengubah kebiasaan ini demi mengikuti kebijakan Bapak. Sekali lagi, perlu dipertimbangkan secara matang ya, Pak, biar kesenjangan pendidikan di antara kami tidak terjadi. 

Wah, hampir saja lupa, ternyata jumlah lembaran surat ini sudah lebih dari surat pada umumnya. Sebenarnya masih banyak hal lagi yang ingin kami sampaikan, nanti saja jika Bapak berkunjung ke sekolah yang berada di desa kami, pasti akan dilanjutkan ceritanya. 

Kami cukupkan sampai di sini dulu ya, Pak, Bapak tidak perlu repot-repot harus membalas surat ini karena kami tahu Bapak sangat sibuk. salam hormat dari kami untuk dedikasi yang akan Bapak berikan pada negeri ini. Kami doakan semoga niat baik Bapak untuk membangun bangsa ini akan selalu dipermudah sesuai yang diharapkan. Amin.

Tertanda, 

Siswa/i dari Pelosok Negeri