Siapa yang mengira bahwa sekitar 51 tahun yang lalu telah terjadi sejarah menarik. Tepat pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Suharto yang kemudian disebut sebagai Supersemar.

Supersemar banyak menyisakan misteri yang hingga sekarang masih belum terungkap kebenaranya. Mereka, para pelaku sejarah menceritakan asal-usul surat perintah dengan versi masing-masing.

Tentu saja dengan ditunggangi kepentingan masing-masing pula. Berbagai improvisasi yang terdengar bising itu dipicu oleh raibnya naskah asli supersemar sebagai dokumen sejarah yang sangat penting bagi negeri ini.

Kendati masih menjadi tanda tanya besar, sulit dipungkiri supersemar merupakan legitimasi paling awal pemerintahan orde baru yang kemudian berkuasa selama 32 tahun. Dengan memanfaatkan supersemar sebagai titik tolak strategi oportunistik jendral Suharto yang pada akhirnya BungKarno berhasil dilucutinya.

Dalam buku biografi Suharto yang berjudul “Tindakan Saya” ia hanya menuliskan perintah dikeluarkan saat negara dalam keadaan gawat, di mana integritas presiden, ABRI, dan rakyat sedang berada dalam bahaya sedangkan keamanan, ketertiban, dan pemerintahan berada dalam keadaan berantakan.

Namun tatkala dipersoalkan apakah surat perintah itu semata-mata sebagai instruksi presiden atau suatu pemindahan eksekutif secara terbatas?

Ketidakmampuan Suharto menjelaskan masalah ini makin membuat bertanya-tanya. Disisi lain bukan tidak mungkin Suharto mencoba menutupi kejadian yang sebenarnya dengan retorikanya.

Permainan Catur Suharto

Penggulingan kekuasaan Sukarno berjalan secara pelan-pelan dengan rentang waktu 2 tahun. Diantara tahun 1965-1967 Suharto mendapatkan kemenangan kecil dengan memainkan pion dan perwira yang kemudian pada akhirnya berhasil men-skak-mat Sukarno.

Selain skak-mat terhadap Bung Karno, strategi skak-mat juga diterapkan Suharto kepada para tokoh pembangkang diantaranya para aktivis mahasiswa dan pers pembela demokrasi dengan mengurungnya dalam jeruji besi karena berbeda pendapat dengan pemerintah ORDE BARU.

Babak demi babak pertandingan catur Suharto melawan BungKarno berhasil dimenangkan Suharto dengan strategi militernya. Para jendral AD dibunuh serentak tanggal 1 Oktober, dalam waktu yang sama juga Menpangad Jend A. Yani gugur dan ditunjukilah Suharto sebagai pemimpin AD dan tanpa alasan yang jelas Pranoto Reksosamudro tidak diijinkan Suharto untuk memenuhi panggilan Presiden BungKarno di Bogor dan kemudian Pranoto Reksosamudro diamankan dan dihilangkan dari pentas politik. Suharto-pun terus mendapatkan kenaikan jabatan demi jabatan.

Provokasi dan Terror PKI yang merajalela kala itu, menjadikan keresahan Rakyat dan kemudian Suharto memanfaatkan sebagai ala untuk menekan Presiden Sukarno. Dengan Supersemar Suharto melakukan aksi yang populer dimata rakyat yakni pembubaran PKI, dan dimanfaatkan untuk pembantaian yang sangat bertentangan dengan HAM.

Setelah munculnya supersemar pijakan untuk membubarkan PKI, terciumlah kecurigaan Sukarno terhadap  Suharto sebab telah melenceng dari perintah supersemar.

Namun, sudah terlambat Supersemar dianggap sebagai pengalihan kepala eksekutif pemerintah mandataris yang berkuasa mengangkat menteri-menteri sehingga pada tanggal 16 maret BungKarno mengklarifikasinya.

Dua hari setelah itu BungKarno dikejutkan dengan manuver Suharto dengan menangkap menteri pro Pemerintahan BungKarno sehingga pada  Juni MPRS bersidang kemudian mencabut gelar Presiden seumur hidup bagi Sukarno. Kejadian ini terus dimanfaatkan Sukarno untuk membentuk kabinet dan membersihkan sisa orang-orang Bung Karno.

Kecurigaan BungKarno akhirnya diumumkan pada tanggal 12 Januari 1967, BungKarno menyampaikan secara tertulis pelengkap Nawaksara, dan memberikan kode bahwa peristiwa G-30S/PKI disebabkan oleh keblingernya pimpinan PKI, liciknya Nekolim, dan kenyataan adanya orang-orang aneh.

Dan sampai pada tanggal 7 Maret MPRS bersidang dan memutuskan mencabut mandat dari Presiden Sukarno dan mengalihkanya kepada Suharto, dengan demikian Suharto berhasil menjadi Pejabat Presiden.

Kejanggalan

Kejanggalan-kejanggalan dibalik peristiwa supersemar sangat banyak. Diantaranya adalah naskah Asli Supersemar. Naskah yang sangat penting untuk menguak sejarah itu hilang dan muncul dalam beberapa versi yang berbeda. Tidak mungkin selembar naskah yang diberikan kemudian muncul beberapa lembar dengan isi dan redaksi yang berbeda pula.

Kejanggalan terjadi saat penumpasan Jenderal-Jenderal AD oleh PKI. Tentu saja Suharto menjadi salah satu orang yang paling berbahaya bagi PKI namun justru Penumpasan bahkan ancaman PKI terhadap Suharto tidak pernah terjadi.

Perintah BungKarno kepada Suharto untuk pembubaran PKI dibarengi dengan pembantaian yang bertentangan dengan HAM. Namun, beberapa aktivis mahasiswa dan pers kontra terhadap Suharto turut dikurung dan tidak sedikit nyawa juga dibantai.

Keberadaan Pranoto Reksosamudro dilarang oleh Suharto menghadap Presiden Sukarno untuk menerima jabatan Care Taker Kepemimpinan AD juga terdapat kejanggalan. Setelah pelarangan terhadap Pranoto, ia sebagai salah satu pesaing Suharto sebagai Menpangad tiba-tiba hilang dari pentas politik.

Selain itu keberadaan A.H. Nasution sebagai kandidat pengganti Bung Karno hanya diangkat menjadi Ketua MPRS.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari saat terjadi penculikan dan pembunuhan para jenderal AD serta gugurnya A. Yani masih terjadi tanda Tanya besar dimana posisi politik Suharto ketika G-30S/PKI.