Mau berbisnis harus siap menghadapi resiko yang lebih besar. Berbisnis bukan hanya keuntungan semata, namun perlu memikirkan juga kepuasan pelanggan dan memulai berbisnis berarti siap mengalami kerugian baik waktu maupun pikiran.

Dua minggu lalu tepatnya 1 Juni 2021 sangat ramai dan viral yang beredar di media sosial, bahwa supermarket raksasa gulung tikar alias tutup permanen namanya supermarket Giant. Sempat kaget juga kenapa bisa tutup?

Apa sebenarnya yang terjadi? Pasti banyak asumsi dan mempunyai pandangan masing-masing terutama dari sisi sumber daya, bisnis, finansial, dan manajemen. Saya juga berpikir demikian, kok bisa tutup ? Padahal supermarket besar, ramai dan tentunya diminati oleh pelanggan.

Secara bisnis sudah pasti kebutuhan sehari-hari, ya namanya juga supermarket? Setiap hari pun banyak pelanggan yang belanja untuk keperluan rumah tangga seperti sembilan bahan pokok, perlengkapan rumah tangga juga, dan lain sebagainya.

Boleh dikatakan juga bahwa supermarket Giant yang  cukup lengkap menyediakan kepentingan pelanggan lainnya. Hal ini bisa kita lihat beberapa gerainya yang ditutup awal bulan Juni lalu, terlihat penuh dan lengkap dengan bahan dan barang sesuai kebutuhan konsumen.

Sempat tersorot di layar Televisi, awal bulan Juni berbondong-bondong Ibu-ibu dan bapak-bapak juga serta masyarakat lainnya. Untuk memborong barang yang discount besar-besaran, asumsinya adalah pasti merasa senang karena mendapat barang bagus dan discount juga.

Bagaimana dengan asumsi pesaing atau kompetitor. Pasti merasa senang karena pelanggan Giant bisa berpindah tempat belanja baik harian maupun bulanan. Seperti kita ketahui supermarket yang menjadi pesaing adalah Carrefour, Transmart, Superindo, Hypermart, dan yang lainnya.

Pendekatan asumsi dari kompetitor, mempunyai peluang besar mengembangkan supermarket nya masing-masing baik dari penambahan cabang-cabang gerai baru maupun penambahan karyawan di setiap tempat gerai yang baru tersebut.

Sebagai informasi bahwa supermarket Giant memilik 75 gerai, yang terdiri dari gerai berukuran besar dan gerai berukuran kecil, hal ini setelah menutup 25 gerai sejak tahun 2019 lalu. Bayangkan saja peluang sangat terbuka lebar untuk mengait pelanggan baru, terutama pelanggan dari Giant.

Menurut Patrik sebagai presiden direktur PT Hero Supermarket "mengemukakan bahwa penutupan seluruh gerai Giant yang mencapai sekitar 100 gerai bukan dampak pandemi saja, melainkan lebih disebabkan perilaku belanja konsumen. Walaupun berat keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan semua pihak yang terkait".

***

Alasan lain bukan karena investor juga, karena dalam kurun waktu 2 tahun kedepan akan membuka serta mentargetkan gerai yang besarnya empat kali lipat jumlah dari gerai IKEA. Serta akan membuka 100 gerai Guardian baru hingga akhir tahun 2002 "ungkapnya".

***

Perkembangan bisnis supermarket Giant justru sudah ditinjau oleh perseroan secara menyeluruh dan mendetail sejak beberapa bulan lalu. Walaupun demikian secara tersembunyi pasti ada hal yang kita belum ketahui. Untuk itu akan saya uraikan berdasarkan analisa dari sisi manajemen.

Dari pernyataan Patrik diatas ada tiga point yang perlu ditarik sebagai benang birunya adalah dampak pandemi covid-19, perilaku belanja konsumen, dan investor pengembangan usaha. Hal ini sepertinya menarik untuk dijadikan pembahasan lebih lanjut.

Dampak Pandemi Covid-19 :

Seperti kita ketahui bersama bahwa yang dikemukakan oleh Patrik, tutupnya supermarket Giant salah satunya karena terdampak covid-19. Tidak bisa dihindari juga semua bisnis mengalami hal sama terutama segmen pasar tertentu.

Semenjak wabah covid-19 awal Maret tahun 2020 lalu. Seluruh masyarakat Indonesia dibatasi untuk menjaga jarak dari kerumunan dan mengurangi mobilitas di tempat umum. Terutama  ditempat-tempat supermarket maupun pusat pembelanjaan lainnya.

Dengan demikian dampak dari pada itu konsumen tidak melakukan transaksi belanja yang signifikan, secara otomatis pendapatan, penghasilan maupun keuntungan berkurang. Seharusnya membuat strategi marketing berbasis online.

Sekitar 14 bulan yang lalu sebelum tutupnya supermarket Giant. Memang situasi mencekam dan membuat masyarakat bingung untuk keluar dari rumah, belanja pun dibatasi juga.

Mengikuti himbauan dari pemerintah pembatasan sosial bersakala besar (PSBB), pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), menerapkan work form horm (WFH), dan lain sebagainya.

Selain itu juga bila keluar rumah wajib mengikuti protokol kesehatan serta menunjukan hasil tes covid-19 baik rapid tes antigen, sweb dan tes covid-19 sejenisnya. Dari uraian diatas yang menjadi menurunnya penghasilan supermarket Giant tersebut.

Perilaku Belanja Konsumen :

Tidak bisa diatur dan dipaksa juga menarik konsumen untuk belanja ke supermarket Giant. Karena konsumen tidak bisa di monopoli, pasar modern supermarket masih banyak yang lebih bersahabat seperti di Indomaret, Alfamart, Alfamidi dan lain sebagainya.

Selain itu juga toko nya sangat dekat, terjangkau dan berada ditengah masyarakat (Dimana-mana ada, jarak 100 meter tersedia). Konsumen berpikir karena covid-19 lebih baik belanja di Indomaret, Alfamart dan Alfamidi saja.

***

Kebutuhan yang dicari sama juga seperti yang ada di supermarket Giant, walaupun tidak terlalu besar namun bisa menjawab keperluan konsumen. Itulah persaingan bisnis terlihat kecil tapi sangat berpengaruh terutama menurunnya penghasilan dan pendapatan supermarket.

Perilaku konsumen sangat dipengaruhi juga digital online hanya menggoyangkan jari semua barang yang dibutuhkan mudah didapatkan, terutama supermarket online yang menyediakan fasilitas untuk konsumen belanja.

Hubungan digital online, tentunya kita akan mengenal perusahaan e-commerce yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Seperti Lazada, Shopee, dan Tokopedia. Perusahan e-commerce ini sangat mendukung konsumen untuk beralih ke digital teknologi.

Transaksi online lebih praktis dan membuat konsumen senang untuk terus berbelanja artinya konsumen atau pembeli hanya menyediakan saldo dan internet saja, kemudian barang diantar ke tujuan masing-masing.

Mari berdamai dengan digital online, maka kita semua jauh lebih permudah dalam menemukan kebutuhan yang diinginkan. Melek digital tidak akan ketinggalan zaman, sudah saat membuat konsep dan inovasi bisnis berbasis online.

Pengembangan Investor :

Seperti yang dikemukakan oleh Patrik diatas bahwa tidak ada hubungan dengan investor. Sebetulnya sedikit sensitif anggap saja kekurangan modal bisnis atau tidak, ini bagian dapur supermarket Giant.

Apapun alasannya baik karena investor atau tidak ditutupnya Giant. Tidak mungkin juga dijelaskan secara spesifik terkait kejadian sebenarnya, namun sangat disayangkan supermarket sudah memiliki brand yang besar dan konsumen yang banyak.

Tentunya menjadi pertimbangan khusus dan dianalisa secara mendalam. Walaupun alasan lain ingin membuka dan mentargetkan jauh lebih besar empat kali lipat dari gerai IKEA. Namun tetap berbeda pandangan dari kompetitor dan konsumen lainnya.

Tinjauan Implementasi Manajemen :

Mengatur bagaimana tidak tutup namun ganti brand mungkin lebih baik atau secara bertahap transisi merubah budaya konsumen untuk tetap datang belanja ke supermarket Giant. Sesuai dengan membuat gerai IKEA maupun memperbanyak gerai Guardian lainnya.

Bagaimana juga dengan penerapan strategi dan analisa marketing mix baik dari tempat, harga, promosi, proses, barang dan sumber daya. Mungkin hal ini bisa menjadi konsep untuk tetap bangkit menuju supermarket yang modern dan berbasis digital online.

Selanjutnya bangaimana dengan bussiness plan atau perencanaan bisnis yang mengacu pada risk management atau resiko manajemen.

Maksudnya adalah menganalisa dari persaingan bisnis, regulasi atau kebijakan pemerintah, manajemen konflik internal dan eksternal, perdagangan internasional, dan lain sebagainya.

Sehingga mitigasi atau pencegahan lebih mudah diterapkan. Semua masalah pasti ada solusi, namun tujuan perencanaan bisnis mempunyai indikator yang detail serta dapat diukur, diimplementasikan, dan dievaluasi secara berkala.