Penikmat Diskusi
2 tahun lalu · 1726 view · 3 menit baca · Agama sunni-syiah.jpg
Foto: masjumat.com

Sunni-Syiah yang Tetap Ingin Berpisah

Dua mazhab utama dalam Islam yang populer disebut Sunni dan Syiah masih juga menempatkan posisi yang kontra. Sejarah paling kelam yang terjadi sejak terbunuhnya Khalifah ketiga Ustman bin Afan yang berbuntut pada konspirasi kotor nan jahat yang dengan tega dilakukan oleh kelompok Muawwiyah keturunan Abu Sufyan pada keluarga Ali bin Abi Thalib yang diakhiri dengan pemenggalan kepala Imam Husein yang merupakan cucu Muhammad Rasulullah.

Sejak sejarah berdarah itu, umat Islam  terbagi ke dalam dua kelompok mayor yaitu Syiah yang meyakini Sayyidina Ali sebagai seorang yang Islamnya otentik karena bersumber langsung dari Muhammad saw sedari awal perjuangannya dimulai, dan kelompok Sunni yang merupakan kelompok kedua yang berbeda pandangan dari kelompok Syiah yang jumlah pengikutnya di dunia menjadi mayoritas.

Permasalahan kedua kelompok ini umumnya tidak pernah mengalami perubahan dan selalu dipanaskan bara permusuhannya melalui isu-isu klasik yang satu sama lain sebenarnya sudah saling memahami dan juga memiliki landasan berpikir yang sama-sama berdasar.

Sayangnya, dari kedua kelompok ini selalu terdapat pihak atau oknum radikal yang ghirah permusuhannya mungkin melampaui semangat Azazil sang mantan pemimpin para malaikat pada masanya. Boleh jadi, inilah kelompok ‘manusia’ yang diprediksi oleh Azazil akan membuat banyak pertumpahan darah sehingga dia enggan meridhoi Adam sebagai khalifah di bumi.

Protes utama kelompok Sunni terhadap Syiah adalah tentang klaim pemurtadan ‘para sahabat’ Rasulullah berdasarkan beberapa peperangan semacam Shiffin atau Jamal yang melibatkan keluarga Rasul dengan beberapa sahabat.

Selain itu adalah tentang aqidah Syiah yang dianggap menyimpang karena dalam kitab-kitabnya menyatakan bahwa beriman kepada 12 Imam termasuk ke dalam rukun iman mereka. Ada juga yang haqqul yaqin mengklaim bahwa Syiah memiliki Al-Qur’an versi sendiri yang faktanya sampai saat ini tidak satupun ulama Sunni yang mampu membuktikan keberadaannya.

Salah seorang tokoh Syiah pernah mengatakan bila kaum Sunni menganggap Syiah memiliki Al-Qur’an yang berbeda dengan mushaf yang telah secara dominan dimiliki dan dibaca muslim dunia, maka secara tidak langsung mereka telah meragukan penjagaan Allah terhadap kemurnian Al-Qur’an itu sendiri sebagai buku panduan hidup paling kontemporer yang nilainya telah dipraktikkan secara kontekstual oleh Muhammad.

Sebaliknya, protes dari kelompok Syiah terhadap kelompok Sunni adalah melulu bermuara pada pembantaian keluarga Rasulullah yaitu Ali dan Husein yang sampai saat ini belum bisa dimaafkan dan diyakini sebagai bencana perpecahan utama Islam dalam sejarahnya.

Selain itu, ijtihad terhadap penafsiran nash dari kelompok Syiah yang selalu berkembang dan menganggap hal-hal yang telah final menurut Sunni, masih bisa didiskusikan semisal perkara nikah mut’ah yang telah dianggap ‘terhenti’ bagi kelompok Sunni karena konteks sosial yang tidak lagi relevan.

Bukan tidak pernah ulama Islam dunia mencoba menjembatani kedua kelompok ini agar bisa berdamai dan saling memaafkan atas segala khilaf pasca tragedi Karbala, namun kedua kelompok tetap didominasi para fanatis-radikalis yang sampai begitu percaya diri berasumsi bahwa salah satu di antara mereka tidaklah termasuk sebagai golongan muslim.

Risalah Aman yang mengakui empat mazhab Sunni dan empat mazhab Syiah sebagai kelompok yang sah dan dibolehkan untuk diikuti tetap tidak mampu mencairkan ego yang sudah semakin membeku pada keduanya.

Di Indonesia sendiri keadaannya cukup memprihatinkan meski telah dibentuk kelompok-kelompok Islam moderat yang mencoba untuk mencairkan bara api yang membakar hati para egois di kedua kelompok ini. Syiah Sampang yang sampai hari ini kemerdekaannya untuk hidup masih sangat terjajah dan hal itu dilakukan bukan oleh kelompok musyrikin, namun oleh saudara seimannya sendiri yang berjumlah mayoritas.

Terlebih lagi, isu mayoritas-minoritas selalu menjadi kendaraan paling nyaman dalam kontestasi politik elite. Korbannya hanyalah mereka yang ingin kebebasannya dalam menterjemahkan Tuhan dengan cara yang mereka yakini bisa dihormati dan tidak mendapatkan penindasan.

Bila kedua kelompok ini tetap melanggengkan sejarah kelam Islam di masa lalu, itu hanya akan membuat hijab-hijab yang akan memantulkan nur ilahiyah sehingga tidak dapat diresapinya cahaya itu kecuali kesombongan yang semakin mem-berhala.

Dalam Al-Qur’an, inti pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita sebagai materi yang merupakan bagian dari diri-Nya, adalah dengan meyakini adanya Dia dan beramal saleh dalam sosial kemanusiaan. Bila perkara klaim aqidah menjadi alasan perpecahan, saya kira sifat otentik Tuhan telah tanggal dan sirna oleh ego ambisius terhadap interpretasi kebenaran yang diimani dengan sangat monolitik.

Sunni dan Syiah adalah sama-sama muslim yang mengimani Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Perbedaan interpretasi selain dua hal fundamental tersebut adalah dialektika akal yang secara fitrah tidak pernah akan berhenti menggali dinamika kehidupan sampai kita semua sama-sama menghadap-Nya kelak dengan amalan-amalan yang kita pertanggungjawabkan masing-masing.

Tidak usah khawatir bila Sunni atau pun Syiah keluar dari apa yang Allah inginkan, biarlah prerogatif dan rahmat-Nya yang menjadi penghakiman maha adil untuk kita semua.