Sejak dari dulu hingga sekarang konflik Sunni-Syiah, dua mazhab terbesar di dunia seakan tak pernah usai. Saya sendiri sebagai penganut Ahlulbait (Syiah) merasa aneh atas tuduhan-tuduhan miring mengenai mazhab yang saya ikuti. Saya merasa aneh, karena apa yang saya yakini selama ini tentang Syiah tidaklah berbanding lurus dengan tuduhan-tuduhan negatif yang ditujukan pada Syiah. Dan saya yakin, di balik gaungan konflik dua mazhab terbesar dunia ini, merupakan bentuk 'adu domba'  yang dilakuakan oleh sebagian kelompok intoleran dengan tujuan memecah belah umat Islam.

Akibatnya, tak sedikit dari orang awam yang tak tahu-menahu soal Islam secara komprehensif termakan oleh stigma atau doktrin mereka.  Mereka (orang awam), berbekal  doktrin-doktrin negatif mengenai Syiah, ikut-ikutan mensesatkan Syiah tanpa dasar yang kuat. Berbeda halnya dengan orang yang selalu menggunakan akalnya dan orang-orang yang mau membaca sejarah Syiah, maka mereka akan bersikap obyektif dan tidak ikut-ikutan mensesatkan, justru  mereka memandang Syiah sebagai bagian dari Islam.

Saya sendiri mengenal Syiah sejak dari kecil. Dan saya hidup di lingkungan Sunni, kami hidup rukun meski kami berbeda. Karena mereka tahu, bahwa ibadah yang saya lakukan tak jauh  beda dari ibadah yang mereka lakukan. Al-quran yang mereka baca sama seperti yang saya baca, tidak ada beda.

Tapi, yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah ketika ada sebagian kelompok mengatakan kalau al-Quran-nya Syiah itu berbeda dengan al-Quran yang dibwa Nabi Muhammad. Dan tuduhan  negatif yang telah banyak beredar ialah bahwa Syiah itu melaknat sahabat, dan menjadikan Sayidina Ali sebagai nabi bahkan Tuhan. Tentu, tuduhan semacam ini tidaklah benar. Justru tuduhan seperti ini akan sangat menyulut api permusuhan di antara kaum Muslim itu sendiri.

Sebenarnya, tuduhan yang mereka tujukan kepada Syiah tak lain sebagai bentuk fitnah dan upaya memecah belah umat. Dalam ruang yang terbatas ini, tidak mungkin bagi saya menuliskan panjang-lebar mengenai Syiah. Mungkin, bagi pembaca yang hendak mengetahuinya bisa membaca  langsung berdasarkan sumber-sumbernya yang outentik.

Saya tidak bermaksud untuk mengajak pembaca agar masuk Syiah, sama sekali tidak. Karena dalam mazhab kami, hal itu dilarang. Saya hanya ingin memberi saran,  terutama pada  mereka yang sangat membenci Syiah karena doktrin yang tidak jelas asalnya, agar mau membaca sejarah Syiah demi menghasilkan titik pencerahan dan titik temu kalau Syiah itu bukanlah mazhab yang seperti mereka tuduhkan.

Bagi saya, yang terpenting dalam ber-islam adalah bahwa kita percaya ketauhidan Allah, dan juga Nabi Muhammad sebagi nabi Islam, al-Quran sebagai kitab yang dibawanya. Dan percaya prinsip-prinsip agama lainnya (usluluddin) serta cabang-cabangnya (furu’uddin). Adapun perbedaan  praktik dalam hal ibadah seperti wudhu, shalat dan lain-lain itu kita serahkan kepada masing-masing mazhab yang tentu memiliki perbedaan dalam menafsirkan al-Quran dari sumber-sumber lainnya yang menjadi acuan pengeluaran hukum dalam Islam.

Apapun mazhab kita, selagi kita mengucap dua kalimat syahadat, maka itu sudah lebih dari cukup dijadikan bukti kalau kita adalah Muslim. Yang terpenting, kita tetap bersatu dalam kebaikan demi terciptanya perdamaian dan kesejahteraan di negeri tercinta kita, Indonesia.