Menjadi akademisi perempuan, jomblo, dan berpaham feminis sungguh berat. Kerap kali mereka dirundung dengan gurauan misoginis yang sungguh hambar didengar. Jika kamu jomblo dan berpaham feminis jangan dikira berada pada lingkungan akademis akan membuatmu bebas menyuarakan pemikiran-pemikiranmu. 

Tahu kan bahwa kampus saja tidak aman dari kekerasan seksual apalagi tindakan candaan misoginis dan seksis. Wong nyatanya tindakan itu saja masih dilakukan terang-terangan pada seorang jomblo berspektif feminis, tidak heran bila pelecehan seksual masih terjadi di kampus.  Ingatlah bahwa misoginis tenyata tidak memandang kamu jomblo atau punya pacar, atau kamu memiliki perspektif feminis atau tidak. Ingatlah pula bahwa aktivis kampus yang pernah bersinggungan dengan kajian feminis pun juga tidak pro feminis.

Banyak aktifis kampus, pernah bersinggungan dengan teori gender, tapi pemikirannya sungguh bias gender. Pasalnya, mereka yang seperti itu barangkali tidak menghayati secara mendalam teori feminisme yang mereka kaji. Kerap kali ketika diskusi terbuka, mereka justru bersikap misoginis, bukan malah menyerang pemikiran, tapi yang terjadi malah menyerang personal. Misalnya saja dengan membawa-bawa status jomblo. 

Jomblo tak layak mengomentari relasi dalam pernikahan atau jomblo pemarah, dan berbagai komentar menyakitkan lainnya. Justru mereka ini ternyata memiliki sikap misoginis dan patriarkis dengan berbagai level, mulai dari level rendah sampai level akut. Bagaimana membedakan laki-laki dengan berbagai level ini terangkum dalam tulisan ini.

Bagi laki-laki dengan level misoginis dan patriakis level rendah, Bisa dibilang dia memiliki pandangan cukup modern dalam relasi peran istri-suami. Seseorang seperti dia rela menjaga anaknya ketika istri bekerja, menggendongnya anaknya, bersih-bersih, bahkan memasak. Tapi sayangnya apabila berada pada relasi seksual, dia bersikap tidak toleran. Misalnya saja, laki-laki seperti ini akan menganggap bahwa teori gender tidak lagi relevan jika dihadirkan dalam konteks kehidupan berumah tangga, khususnya pada relasi hubungan seksual. 

Pernah suatu kali saya dan kawan laki-laki saya memperdebatkan relasi suami-istri dalam hubungan seksual. Yang menurut saya, seharusnya relasi seksual harus setara sehingga penting ada kerelaan kedua belah pihak dalam melakukan hubungan seksual. Bukan malah salah satu melakukan pemaksaan tanpa mengindahkan kondisi pasangannya. Yang terjadi bukanlah diskusi yang mencerahkan nan menambah pengetahuan, tapi dia malah berpendapat dengan menyudutkan status jomblo saya. Katanya saat itu “kamu saja jomblo jadi belum tahu kalau berhubungan seksual itu tidak lama, tidak sakit, cuman sebentar, ya masak gitu saja menolak”.

Lelaki misoginis nan patriakis pada level menengah adalah mereka yang berpura-pura bersikap demokratis karena keadaan. Misalnya saja, mereka para lelaki miskin yang dalam hatinya tidak mengingkan istrinya bekerja tapi karena tuntutan ekonomi terpaksa meminta istrinya untuk bekerja. Dia memang demokratis membiarkan istrinya akatif dalam ranah publik tapi lelaki seperti ini tetap saja menuntut tanggung jawab istrinya pada ranah domestik. Bukannya berbagi peran dalam hal beberes rumah atau hal kecil lainnya, tetapi justru memberikan beban ganda pada istrinya, ya bekerja ya mengurus rumah.

Pada kejadian yang lain, pernah pula kawan saya yang termasuk golongan laki-laki misoginis nan patriakis level menengah ini berpesan bahwa menjadi perempuan itu jangan terlalu kritis, nanti malah tidak kawin-kawin, begitu katanya. Rasanya saat itu saya seperti mendapati petir di siang bolong. Ingin sekali saya menjelaskan panjang lebar bahwa lebih mulia bagi saya menjadi jomblo cerdas daripada kawin tapi menggadaikan kekritisan saya. 

Lagipula pilihan hidup menjomblo adalah jalan hidup para sufi. Kata Ibnu Thaimiyah “menjomblo juga bukan tindakan melawan fitrah manusia”. Bahkan seorang Rabiyah Al-Adawiyah dan cendikiawan muslim lainnya rela menjomblo seumur hidup demi ilmu pengetahuan dan dakwah yang dicintainya. Maka, saya lebih memilih mengabdikan diri untuk terus belajar ketimbang hidup bodoh bersama pasangan yang juga bodoh dan menciptakan keluarga bodoh yang malah menambah beban negara. Justru nanti yang terjadi jika memelihara kebodohan dalam pernikahan akan membuat Indonesia yang katanya beberapa tahun kedepan akan mendapatkan bonus demografi, malah justru surplus kebodohan.

Paling parah lagi, laki-laki dengan misoginis dan patriakis level akut. Dirinya sadar bahwa sesungguhnya tidak mampu secara ekonomi, memiliki istri dengan kemampuan mumpuni secara pendidikan namun mengurungnya dalam wilayah domestik. Seringkali lelaki seperti dia sangat bebal, membaca banyak teori, pergi ke banyak kajian yang membahas ilmu gender tapi seolah mencari legitimasi untuk memperkuat level misoginis dan patriakis akutnya itu. 

Laki-laki seperti itu bahkan sering menebar kebencian pada orang-orang yang berstatus jomblo. Seolah dia sedang menebar paham jomblophobia. Dia menganggap bahwa orang jomblo memiliki emosi yang tidak stabil, cenderung pemarah, dan lama-lama akan menjadi psikopat karena hasrat seksual yang tidak tersalurkan. Seringkali, laki-laki semacam ini selalu menyerang personal jombloers sebagai pemarah dan gampang emosian. Mengajak diskusi tapi ketika tidak mampu berargumen secara teoritis selalu menyerang status kejombloan dengan cara keji, menebar jomblophobia. Rasa-rasanya mungkin jika Rabiah Adawiyah dan cendikiawan muslim lain penganut jombloisme mendengar paham itu, bisa-bisa ia akan bangkit dari alam kubur dan melakukan protes. 

Menjadi jomblo penganut paham feminisme berarti menjadi jomblo berprinsip dan punya selera. Mereka yang mengolok-olok jomblo feminist  adalah jenis lelaki yang tentu tidak termasuk daftar list idaman. Pasalnya bagi jomblo feminist, lelaki akademis yang hanya pernah bersinggungan atau belajar teori gender ternyata tidak otomatis bertindak adil gender. 

Menerapkan dua standar itu, bespektif dan bertindak adil gender, sungguh berat. Banyak laki-laki yang tidak rela privilege yang diberikan oleh kultur patrialkal direnggut. Pasalnya, bagi mereka yang menikmati kultur patrialkal tidak akan rela memiliki istri yang tidak menurut. Ini juga yang menjadi salah satu label yang diberikan para lelaki misoginis nan patriarkis bagi perempuan feminist. Apa dikiranya para feminis mau sama lelaki seperti mereka? Kita para feminist bahkan lebih memilih jomblo sampai mati. Hidup jomblo feminis!