Membuat wayang adalah ruang sunyi penuh dengan imajinasi. Pembuatannya membutuhkan kehati-hatian dan ketelitian membentuk tokoh-tokoh wayang menjadi sosok yang diharapkan.

Sonorejo merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. Batas wilayahnya adalah Kelurahan Dukuh dan Kelurahan Sukoharjo. Mata pencaharian penduduknya, di antaranya, bertani, buruh, dan berdagang. Sebagiannya memilih menjadi perantau.

Sonorejo punya sejarah yang melibatkan di antaranya kisah Raden Joko Tingkir dan Sunan Kalijaga. Sonorejo berasal dari dua kata: Sono (tempat) dan Rejo (ramai).

Jaka Tingkir yang aslinya bernama Mas Karebet merupakan salah-satu murid dari Sunan Kalijaga. Dia adalah putra Ki Ageng Pengging. Keberadaannya di Sonorejo dalam rangka perjalanan jauh menuju Demak.

Berjalan kaki sendirian puluhan kilometer melewati hutan belantara dan semak belukar, Jaka Tingkir sampai di pinggir Sungai Bengawan Solo. Bingung ingin menyeberanginya karena tak ada perahu, dirinya dihadang buaya raksasa. Ditantang berkelahi oleh si buaya, Jaka Tingkir diganjar hadiah akan diantar menyeberangi sungai menggunakan tubuhnya jika Jaka Tingkir mampu mengalahkan buaya itu.

Pertarungan sengit pun terjadi di pinggir sungai. Jaka Tingkir memiting kuat-kuat mulut buaya tersebut dari atas hingga tak bergerak. Sang buaya menyerah, lalu memenuhi janji menyeberangi Joko Tingkir.

Sebelum menyeberang sungai, Jaka Tingkir menancapkan batang kayu di pinggir sungai.
Batang kayu di pinggir sungai berubah menjadi pohon rindang dengan bunga yang cantik dan wangi. Bahkan baunya tercium dalam radius hampir satu kilometer. 

Pohon itu menjadi daya tarik masyarakat hingga akhirnya menjadikan lokasi dekat pohon itu sebagai wilayah baru permukiman penduduk. 

***

Wayang kulit adalah satu dari sekian kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar pertunjukan, wayang kulit dahulu digunakan sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa. 

Arti wayang sendiri diambil dari kata “ma Hyang”, yang berarti mencapai spiritualitas sang kuasa. Tapi, ada juga masyarakat yang mengatakan “wayang” berasal dari teknik pertunjukan yang mengandalkan bayangan (bayang/wayang) di layar.

Salah-satu penggerak popularitas wayang di kalangan masyarakat Jawa dahulu konon adalah Sunan Kalijaga. Menjadikan pertunjukan wayang sebagai media dakwah memperkenalkan ajaran Islam.

Hanya wayang kulit yang masih bertahan wujudnya hingga kini, akumulasi dari berbagai jenis wayang yang ada. Wayang kulit dibuat dari lembaran kulit kerbau yang telah dikeringkan. Supaya gerakan wayang dinamis, di bagian siku lengannya disambung dengan sekrup terbuat dari tanduk kerbau.

Peran dalang menentukan cerita dan permainan pertunjukan wayang kulit. Selain dibekali pengetahuan cerita-cerita Mahabharata dan Ramayana, peran dalang sangat vital dan tak tergantikan. Ia memerankan dua atau lebih karakter, dengan cara membedakan suaranya ketika ada sesi dialog.

Permainan dalang diiringi alat musik gamelan. Ada voice over dari lantunan pesinden membawakan tembang-tembang Jawa. 

***

Tahun 2003 silam, wayang diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Gerakan mempertahankan wayang sebagai tradisi dan budaya khas Indonesia bermula ketika negara tetangga Malaysia lewat iklan promosi wisata negaranya dan memasukkan wayang sebagai bagian dari atraksi budayanya di samping tari Bali. Klaim tersebut mendunia dan menjadi pukulan Indonesia terhadap warisan wayangnya.

Pengakuan tersebut membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan memiliki budaya Indonesia yang khas. Wayang yang nyaris tenggelam, mencuat kembali. Banyak yang berusaha membangkitkan wayang sebagai identitas Indonesia.

Di Kelurahan Sonorejo, Kabupaten Sukoharjo, gebyar pembuatan wayang sudah berjalan sejak lama, bahkan marak dipesan produknya sejak era pemerintahan Presiden Soeharto. 

Wayang-wayang yang dihasilkan dari daerah tersebut berkualitas baik, terbuat dari kulit kerbau dan gagangnya dari tanduk. Guratan ukir dari corak busana dan sosok wayang pun detail buatannya. Maka banyak dalang ternama memilih menggunakan wayang buatan Sonorejo.

Di Sonorejo sendiri, produksi wayang dikenal dengan istilah tatah sungging. Karena pembuatannya dengan cara ditatah atau dipahat halus untuk membentuk motif berbentuk lubang pada tubuh wayang. 

Warna-warni yang dipakai dari bahan cat khusus hingga awet pewarnaan pada material kulit wayangnya.

Kejayaan tatah sungging Sonorejo ada di era 80-an hingga akhir 1998. Krisis ekonomi yang sempat melanda ekonomi Indonesia menjadi badai berat perekonomian rakyat. Kemampuan daya beli rendah dan penjualan wayang turut menyusut. Banyak perajin gulung tikar dengan pemesanan sangat rendah dan harga bahan baku menjulang tinggi.

Meski terjadi penurunan drastis, masih ada yang bertahan. Keahlian membuat wayang tidak melulu harus diimbangi keahlian memainkan wayang seperti dalang. Semua saling mendukung. 

Wayang buatan Sonorejo banyak diambil oleh dalang ternama karena kualitas dan pendekatan seni penokohannya teramat baik. Namun penyusutan jumlah perajin wayang tiap tahunnya terjadi. Dikhawatirkan tak ada regenerasi hingga wayang tinggal bayang-bayang.

Generasi muda saat ini banyak meninggalkan seni kerajinan tradisional sebagai sumber nafkahnya. Generasi muda saat ini memilih bekerja kantoran atau pabrikan daripada susah harus membuat dan menjual wayang. Terhitung setelah pasca krisis moneter, tersisa perajin 50 orang. Kemudian berkurang menjadi 15 orang. Dan kini hanya empat perajin yang masih eksis memproduksi wayang kulit.

Proses belajar untuk tingkat mahir membutuhkan waktu minimal dua tahun. Bahkan di Kampung Kayen yang sebelumnya terdapat belasan perajin tatah sungging wayang kulit, saat ini tinggal empat orang.

Bersama 15 karyawannya, Marwanto bertekad melestarikan kerajinan tatah sungging yang sangat berpotensi itu. Sejauh ini dia masih bisa mempertahankan bisnis kerajinan dari kulit kerbau tersebut. Bahkan hasil kerajinannya sudah menembus pasar internasional bersama dalang-dalang kondang saat ini.

“Sebelum generasi saya, banyak empu-empu andal. Sekarang banyak yang alih profesi dan lebih memilih yang cepet dapat duit,” tuturnya.

Kini wayang kulit bukan sekadar untuk ditampilkan sebagai permainan sang dalang dan hiburan bagi masyarakat penontonnya. Wayang kulit juga dijadikan suvenir. Peminat kerajinan wayang dan perajinnya tinggal setipis wayang kulit. Pengakuan UNESCO untuk wayang dihadang realitas redupnya para perajinnya.