Sewaktu kecil saya pernah mendapatkan cerita dari kawan kawan tentang sebuah sungai yang digunakan oleh bidadari mandi. Katanya saat muncul pelangi, bidadari akan mandi di sungai tersebut. Letak sungai tersebut terpencil, dan jarang dijamah oleh manusia.

Menurut ibu itu bukan bidadari tetapi peri, termasuk makhluk halus. Peri itu memang bisa terbang. Tempat tinggal makhluk halus itu ada juga yang di langit sebelum langit ke 1, istilahnya awang-awang. Begitulah ujar ibu.

Cerita tentang sungai tersebut digunakan oleh peri untuk mandi itu cerita turun temurun. Saat mendapatkan cerita dari kawan-kawan, saya lalu bertanya kepada nenek perihal cerita tersebut. Nenek pun menceritakannya.

Jadi ceritanya waktu itu ada seorang petani yang sedang mencangkul di sawah dekat situ, saat itu hujan tetapi matahari masih bersinar terang. Biasanya kalau hujan seperti itu akan menimbulkan pelangi, dan benar saja pelangi muncul. Tidak berselang lama kemudian terdapat wanita-wanita cantik terbang menuju ke arah sungai tersebut. Lalu petani tersebut mengikutinya, ternyata mereka sedang mandi. Lalu mereka pun setelah mandi kembali terbang lagi.

Gara-gara mendengar cerita tersebut, Apik kawan saya berencana jika misalnya muncul pelangi. Ia akan ke sungai tersebut untuk melihatnya. Apik pun mengajak saya dan Irkham. Tetapi kami akhirnya mengurungkan niat tersebut. Karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak inginkan. Apalagi salah satu kerabat kami mendengar rencana kami tersebut, lalu menceritakan tentang adanya Wiyangga di sungai tersebut. Alhasil kamu pun tidak jadi melakukan hal tersebut.

Beberapa kali saya, Apik, dan Irkham, ke sungai tersebut. Lokasi sawah juga kolam ikan  salah seorang kerabat kami tidak jauh dari situ. Jadi kami sekalian main di sawah, dan kolam ikan. Selain itu jika kamu mau mengunjungi kerabat di desa sebelah, juga harus menyeberangi sungai tersebut.

Kata orang-orang tua dulu sungai tersebut dulunya adalah tempat membuang pusaka baik itu berupa jimat, keris, dan lain sebagainya. Sehingga katanya di sungai tersebut banyak jimat-jimatnya.

Pernah ada seorang petani menemukan sebuah boneka kencana. Boneka tersebut merupakan boneka batu, tetapi bisa bergerak. Lalu boneka tersebut dibawa pulang oleh petani tersebut, boneka tersebut diberi makan kemerki (tungau pada ayam).

Namanya Rusdi tinggal bersama istri, dan anak laki-laki satu-satunya. Istrinya bernama Tina, anak laki-lakinya bernama Bagus. Ini bukanlah nama sebenarnya, tetapi hanya untuk memudahkan dalam penyebutan tokoh pada cerita ini.

Rusdi bekerja sehari-hari sebagai buruh tani, yaitu mencangkul sawah. Tentu, tidak setiap hari mencangkul sawah, hanya di bulan-bulan tertentu. Desa tempat tinggal Rusdi terkenal memiliki banyak sawah.

Suatu ketika ia bekerja mencangkul di sawah salah seorang tetangganya yang terletak di pinggir sungai tersebut. Ia bekerja mulai dari jam 7 pagi sampai dengan jam 11 siang, upah yang didapatkan pun bisa dikatakan sedikit.

Pikiran Rusdi kali ini tidak fokus saat bekerja, ingin sekali ia bisa membahagiakan anak dan istrinya. Betapa tidak enaknya menjadi buruh, upah yang didapatkan sedikit, tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan. Hari ia ia bekerja seorang diri, karena kawan yang lain tidak berangkat bekerja karena ada yang sakit, dan kepentingan lainnya.

Pada zaman dahulu sedikit sekali yang mempunyai jam tangan, begitu pula dengan jam dinding, hanya orang tertentu yang memilikinya. Untuk menandakan waktu adalah suara bedug dari Masjid, karena salah satu tempat yang ada jamnya itu Masjid. Salah satu waktu Bedug itu ditabuh adalah di jam 11 siang, sehingga dikenal dengan nama wayah bedug

Dalam kepercayaan di masyarakat desa khususnya, selain waktu menjelang Maghrib, wayah bedug yaitu jam 11 sampai Waktu Dzuhur masuk dipercaya sebagai waktu dedemit berkeliaran.

Mendengar suara bedug Sodri pun menghentikan pekerjaannya, ketika hendak pulang ia dikejutkan dengan suara tangisan. Suara itu berasal dari sungai yang terletak tidak jauh dari sawah itu. Rasa penasarannya muncul perihal suara tersebut, Sodri pun memutuskan untuk turun ke sungai, untuk mencari asal dari suara tersebut. Setelah ditelusuri ternyata suara menangis itu berasal dari batu yang berbentuk boneka.

Sodri pada awalnya takut untuk mendekati batu kecil tersebut, namun akhirnya ia memberanikan diri untuk mendekatinya.

"Saya dibuang oleh pemilik saya, maukah kamu merawat saya. Jika kamu mau merawat saya maka kamu bisa menjadi kaya raya, syaratnya mudah kamu harus menyediakan kemerki untuk saya," ujar boneka batu. Kemerki itu adalah nama lain dari tungau ayam. Kemerki ini terdapat pada jerami tempat ayam menetaskan telur, adanya ya ketika ayam bertelur.

Sodri pun menyanggupi permintaannya, ia pun membawa boneka batu tersebut dan meletakkannya di kandang ayam. Setiap hari-hari tertentu Sodri memberi makan kemerki tersebut. Ia pun selalu meminta jerami bekas ayam bertelur kepada para tetangganya.

Sodri kali ini tidak menjadi buruh tani lagi, memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha. Tidak butuh waktu lama ia sekarang menjadi orang kaya, berhasil membeli banyak sawah, dan kebun. Tetapi lama kelamaan ia tidak sanggup memenuhi permintaan kemerki dari boneka tersebut. Boneka tersebut pun mengamuk, tidak berselang lama kesehatan Sodri sakit, ia selalu menggaruk-garuk rambut kepalanya seperti ada tungau.

Akhirnya Sodri pun wafat, boneka batu tersebut pun sekarang menghilang entah ke mana. Sesepuh desa yang dikenal memiliki kemampuan supranatural, memperingatkan warga untuk selalu berhati-hati. Karena boneka batu tersebut masih berkeliaran di sekitar desa, beliau juga memperingatkan untuk tidak meletakkan air di ember. Hal ini dikarenakan boneka batu tersebut suka sekali bermain air.

Tetapi salah seorang warga yang rumahnya tidak jauh dari rumah Sodri, melupakan hal tersebut. Ia tidak sengaja meletakkan ember yang ada airnya di kamar anaknya, yang ada di rumah saat itu anak laki-lakinya, sebut saja namanya Yasi. Jam sebelas siang boneka batu berkeliling, melihat ember yang ada airnya, membuat ia mendekat untuk bermain air.

Yasi saat itu sedang tidur di kamar tersebut, kakinya ditarik oleh makhluk tersebut. Sesampainya di rumah, orang tua Yasi dikejutkan dengan rumahnya yang terdapat percikan air di lantai. Orang tua Yasi begitu panik, begitu mengetahui bahwa anaknya tidak bisa berjalan. Akhirnya Yasi pun dibawa ke sesepuh desa tadi, untuk diobati, untung saja bisa disembuhkan.

Sejak kejadian itu, boneka batu tersebut menghilang, tidak pernah muncul lagi. Sesepuh desa itu mengatakan bahwa suatu saat nanti boneka tersebut akan muncul lagi, dan harus waspada. Selain itu ada juga yang pernah menemukan jimat di sungai tersebut.

Cerita tentang sungai tersebut kini sedikit sekali yang mengetahuinya, mungkin karena semakin canggihnya teknologi sehingga para anak-anak lebih asyik dengan dunianya sendiri. Mereka para anak-anak generasi sekarang kurang sosialisasi dengan kawan-kawannya, di satu sisi teknologi seperti gadget menguntungkan, namun di sisi lain juga membuat sosialisasi terhambat.