Sunda Empire sudah selayaknya dinobatkan sebagai Duta (di)Tertawa(kan) Nasional. Ketika lini masa media sosial yang setiap harinya dipenuhi koman-komen nan-serius masalah pemerintah, Cina, hingga perang Amerika-Iran, media-media online menjadi lebih selow berkat kehadiran kerajaan yang berbasis di Gedung ISOLA, UPI, tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, media sosial tak ubahnya arena octagon adu baku-hantam komen. Satu isu dilempar, ada yang berkelakar, ada pula yang mencecar. Pro-kontra tak terhindarkan. Sumpah serapah hingga jancuk-jancuk-an pun menjadi suatu keniscayaan. Adanya media sosial membuat tugas setan merah tak lagi susah.

Namun kini menjadi lebih santuy berkat kehadiran para Petinggi Sunda Empire: HRH Rangga Sasana sebagai Sekretaris Jenderal, Nasri Banks sebagai Grand Prime Minister, dan RD Ratna Ningrum sebagai Ibunda Ratu. 

Bagaimana tidak, mereka menghadirkan guyonan-guyonan yang begitu authentic, yang belum pernah ada sebelum-sebelumnya. Klaim penguasa dunia hingga satu-satunya yang dapat menghentikan perang antarnegara merupakan genre baru dalam komedi politik negara ini.

Guyonan tentang The Heeren Seventeen (entah benar atau tidak redaksi katanya) yang di atas Nato, PBB lahir di Bandung. Cerita Sunda Atlantis merupakan beberapa dari klaim-klaim mereka yang ra mashook blas. Bahkan mereka beraninya menyeret tokoh-tokoh besar macam Ratu Elisabeth, Bill Gates, sampai Jack Ma. Bagi mereka, Sunda adalah pusat dunia, Earth Empire. Titik.

Sebagai mana ikan asin yang tergeletak di piring tanpa aling-aling, kabar ini pun dengan cepat disambar oleh netizen-netizen yang kelaparan akan komentar—saya pun tak lupa absen. Dan anehnya, kabar ini sejenak bisa merekatkan segala lapisan netizen. Semua bersatu menghadapi (menertawakan) common enemy yang sama—dengan guyonan pula pastinya.

Sunda Empire agaknya seperti Sang Messiah yang diutus untuk untuk menghadirkan solusi atas kekacauan-kekacauan yang ada. Menebar kelucuan-kelucuan kepada umat manusia yang sarafnya terlalu tegang ini. Hal ini tak lain agar persatuan terwujud kembali. Sungguh sangat visioner. Heil, Sunda!

Namun semua berubah sejak negara api menyerang digerebek oleh Mapolda Jawa Barat pada Selasa (28/1). Berdasarkan laporan dari detik.com, ketiganya disebut telah menyiarkan berita bohong. Mereka dikenakan Pasal 14 dan atau 15 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang penyiaran berita bohong yang menimbulkan keonaran.

"Kita mentapkan sebagai tersangka sadara NB atau Nasri Banks selaku tokoh Sunda Empire atau perdana menteri dalam jabat weannya dan Rd Ratna Ningrum sebagai dudukannya kaisar," ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Saptono Erlangga Waskitoroso di Mapolda Jabar.

"Kemudian ada satu lagi yang sudah dilakukan penangkapan tadi pukul 15.00 WIB (28/1) di Tambun, Bekasi Ki Ageng Rangga," kata Erlangga menambahkan.

Setelah penangkapan ini, maka Kekaisaran Sunda Empire dinyatakan runtuh. Begitu pula sense humor bangsa Indonesia.

Merujuk pada kedua pasal tersebut, apa yang dilakukan oleh para Petinggi Sunda Empire tergolong menyebar kabar bohong dan membuat keonaran dan dapat dikenai hukuman maksimal sepuluh tahun. Tapi, menurut saya, kok jadinya lucu ya. Ketika semua menyadari kalau itu hanya sebatas lelucon halu, ladalah kok malah diseriusin. Cukup hubunganmu dengan si doi aja yang diseriusin, yang ini jangan! 

Emang harus segitunya ya, untuk sekadar memberantas berita bohong tersebut—yang semua netizen yang pernah membaca buku sejarah dari SD sampai SMA pastinya tahu kalau klaim-klaim tersebut sangatlah nggak masuk akal—diperlukan peng-kriminalisasi-an?

Apa karena takut ‘kebenaran’ versi mereka diakui oleh seluruh masyarakat? Kalau iya, ya mau gimana lagi? Ini berarti tingkat literasi, khususnya sejarah, masyarakat penghuni negara +62 sangat rendah.

Di sisi lain, komedi Sunda Empire yang sejenak bisa merekatkan persatuan malah harus dikorbankan. Sangat menggelikan memang. Benih-benih persatuan yang muncul (kembali) lewat aksi bully jemaah agaknya telah mengurangi tensi permusuhan. Setidaknya ketika rasa muak terhadap keadaan negara yang gonjang-ganjing ini sedikit terobati dengan kelucuan-kelucuan warganya.

Namun, mereka kok malah dikriminalisasi? Apa karena baper? Sepertinya kotak tertawa aparatur negara (masih) republik ini sudah rusak, seperti Squidward. Negara sepertinya tidak ingin lagi komedi-komedi dan guyonan-guyonan (satire) menghantui mereka. Negara ingin mereka menjadi 'anak yang baik'.

Sepertinya kita (Kita?) sudah masuk era tertawa dilarang. Dikit-dikit hoaks, dikit-dikit UU ITE, dikit-dikit pencemaran nama baik, dan dikit-dikit lainnya. Nggak seperti Mendiang Gus Dur. Negara ini sekarang suka repot-repot.

Sebentar, sebentar. Kok berasa ada yang ngganjel ya? 

Ketika diruntut pada hari-hari sebelumnya, isu-isu yang booming, selain Sunda Empire, ada isu korupsi Asabri, Jiwasraya, Harun Masiku, suap KPU, dan lain-lain. Juga sebelum Sunda Empire, ada Keraton Sejagat, dan akhir-akhir ini muncul lagi King of the King. 

Seakan fenomena ‘kerajaan-kerajaan’ ini mendadak muncul di saat isu korupsi, suap, dan skandal politisi-politisi yang makin nggak nggenah ini. Ada apa dengan cinta bangsa ini?