Beberapa prasyarat menjadi Negara maju telah kita genggam. Data Bappenas menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif pada tahun 2010 menunjukkan di kisaran 66,5% dan diproyeksikan menjadi 68,1% di tahun 2028 sampai 2031. ~ Arief Rosyid Hassan pada pidato keorganisasian, Februari 2014

***

Saya ingin menulis perihal ini dalam rangka berkhotbah pada generasi millenial yang punya tingkat kepedulian lebih tinggi terhadap dunia sosial-politik kita ketimbang generasi bangsa sebelumnya.

Kita punya kesempatan lebih besar dalam pembangunan bangsa hari-hari ini karena dianugerahi oleh perangkat-perangkat digital yang memberikan kemudahan untuk terkoneksi satu sama lain; saling mengenal, memahami dan berkolaborasi dalam soal-soal yang lebih positif serta memberikan kemanfaatan untuk diri pribadi, orang lain, dan tentu negeri.

Kita sering mendengar nama-nama inspiratif, inovator-inovator terbaik yang dimiliki bangsa ini. Sebutlah nama-nama seperti Nadiem Makarim. Kemudian figur-figur berani yang memberikan kiprah terhadap sesama untuk perjuangan kebangsaan dan pembangunan sumber daya manusia serta pembangunan ekonomi seperti Bahlil Lahadalia.

Di dunia media sosial, generasi muda juga diperkenalkan oleh orator-orator terbaik seperti Tsamara Amanny dan Sherly Annavita. Bahkan yang paling kocak namun tetap menginspirasi seperti Mamat Al-Katiri dan Dodit Mulyanto pun mendapatkan tempat tersendiri di hati milenial.

Kemudian apa yang kita perbuat? Dalam sosilogi gerakan, kita dapat memetakan milenial dalam dua kelompok. Yang pertama adalah yang saya sebut sebagai Vocal Minority. Mereka-mereka ini tak perlu dijelaskan lagi. Apa yang saya sebut dengan kelompok ini lebih mudah diimajinasikan dalam kerangka dua paragraf sebelumnya.

Kelompok kedua adalah Silent Majority. Ini adalah kelompok mayoritas yang cenderung diam, sering ikut arus, nyaris tak memiliki sentimen generasi. Dan yang paling parah adalah konsumen-konsumen terbaik yang menjadikan Indonesia sebagai target pasar yang mudah di brain wash oleh Produsen-produsen dalam dan luar negeri.

Konstruksi mentalnya adalah bentukan dari luar. Kepribadiannya lemah dan karakternya tak berbentuk. Momentum-momentum tertentu menjadikan mereka begitu ganas dan aktif, kemudian padam dalam kemalasan dan kontraproduktif.

Apa yang terjadi pada silent majority dalam konteks politik Indonesia? 

Jauh sebelum pemilu 2019, wacana tentang kontribusi anak muda terhadap pembangunan dan kemajuan bangsa menjadi demikian populis. Politisi cum Pedagang yang mahir membaca ini membuat label-label khusus dan konten-konten menarik untuk memikat milenial yang doyan ikut-ikutan. 

Populer adalah tujuan bagi millenial dan pedangang-pedagang politik itu karenanya tujuan yang sama di lapisan—dalam bahasa Freud—superego ini membentuk ikatan produsen-konsumen yang rekat.

Ada lagi partai politik yang membranding lembaganya sebagai partai milenial. Sialnya, partai ini lebih memilih (setidaknya dalam perspektif gerakan kaum muda konvensional) jalan politik orang tua dengan metode publikasi dan komunikasi yang lebih modern. 

Saya harus memberi penilaian bahwa PDI-P pada 10 tahun kepemimpinan SBY lebih layak mengemban nama "partai muda" dengan segenap kritisisme dan konsistensi sikap politiknya.

Kita adalah pasar dalam segala hal. Pasar bagi perang dagang produk-produk internasional dan produk palsu para pedagang-politik dalam negeri. Kita adalah objek bagi kaum tua untuk menjadi speaker keras membela kepalsuan politik mereka mati-matian. Mereka memupuk fanatisme dan kita tumbuh bersamanya.

Sekarang kita sadar; bahkan parpol dengan branding dan platform yang tak terpisahkan dari kata "milenial" itu pun belum mendapat peran-peran strategis pengambil kebijakan. Mereka yang menjadi anggota DPR milenial itu pun adalah hasil dari beberapa pola perkawinan. 

Mulai dari perkawinan milenial dan kemampuan ekonomi orang tua, perkawinan milenial dan pemodal, sampai pada perkawinan milenial dan lembaga-lembaga branding untuk memopulerkan diri yang juga dengan modal yang cukup besar.

Pandangan ini tak ingin melihat dalam perspektif yang lebih luas. Kita harus memilih lebih mencurigai kaum tua tanpa menghilangkan kepedulian serta partisipasi politik kita. Ini adalah jalan terbaik. Melihat mereka dalam kecurigaan, ketimbang larut dalam ocehan mereka yang tak lain adalah bualan.

***

Indonesia di umur emasnya nanti di 2035, genap berumur 100 tahun, akan mengalami surplus penduduk usia produktif besar-besaran. Prediksinya tak tanggung-tanggung; ada yang menyebutkan 66%, 70%, hingga 85%. 

Seberapa pun angkanya, sepertinya memang demografi Indonesia akan didominasi dengan manusia-manusia berumur produktif. Sumber daya manusia yang berlimpah ini harusnya menjadi modal utama untuk kemajuan Indonesia melalui produktivitas manusianya. Kreator dan Inovator baru harus lahir dan entrepreneur harus terus tumbuh bahkan dalam skala yang paling kecil.

Milenial harus berpindah dari mentalitas konsumtif kepada mentalitas produktif. Sudahlah. Jangan banyak berharap pada pemerintah. Manfaatkan saja fasilitas negara yang sudah ada kemudian jadilah manusia-manusia mandiri yang dalam adagium lama disebut "manusia berdikari".

Mentalitas ini akan tumbuh dengan kesadaran awal yang harus terus dengung di kepala kita. "Milenial bukan pasar, bukan objek." Kita adalah subjek yang produktif. Dengan kesadaran ini, marilah kita berseru di hari-hari menjelang peringatan Sumpah Pemuda ini. Berserulah kepada mereka-mereka yang lelap dalam kemapanannya dengan lantang dan meyakinkan:

Jangan lagi membodohi diri. Anak muda bukan pasar politik. Kami mual mendengar bualan kalian yang telah menciptakan fanatisme politik di sana-sini, tapi kemudian berdamai melalui negosiasi-negosiasi bayangan yang tak mungkin diketahui isi terdalam dari negosiasi itu.

Sudahlah, 5 tahun ke depan pada momentum politik elektoral, jangan lagi ada fanatisme berlebih. Entah Fanatisme atas nama tokoh tertentu, agama tertentu maupun suku tertentu.