Sudah sering saya keluar dari palang pintu bertulis Exit yang menyala merah itu. Di situ pula pikiran melayang sambil manggut-manggut menikmati sisa-sisa antiklimaks film yang telah diputar. Film superhero dengan latar narasi distopia apokaliptik hanya menyisakan residu kegelian: kok childist banget, ya?

Narasi-narasi distopia apokaliptik yang bertabur superhero sering diproduksi kadang kering pembelajaran. Penonton hanya disuguhi manuver-manuver teknologi animasi yang makin ciamik.

Di balik suguhan animasi superdigital, bagi penonton yang sudah terlebih dahulu mendapat informasi tentang kabar-kabar distopia apokaliptik dari kitab suci mereka, seakan disihir tak berdaya tanpa sempat memberikan perlawanan konten visualnya.

Kesaktian animasi membuat penonton dipaksa menelan mentah-mentah hasil reduksi dan falsafikasi informasi kitab-kitab suci mereka. Namun cukup mengherankan juga, kok makin ketagihan untuk terus menontonnya? Hingga berjilid-jilid.

Kenyataannya memanglah sebagian besar kitab suci telah menceritakan situasi-situasi yang benar-benar buruk di masa akan datang dengan versinya masing-masing. 

Kemudian kisah tersebut diangkatlah ke layar lebar menjadi visual distopia apokaliptik yang juga tak jauh karakternya, yaitu dipenuhi oleh konflik-konflik ganas dan menegangkan. Sepertinya kitab suci mengakhiri dunia dengan destruksi mahadahsyat. 

Berbagai macam karakter yang terlibat di dalamnya juga bergulat hebat melawan sistem yang buruk ataupun berjuang mati-matian untuk tetap hidup, survival mode on!

Gaya naratif distopia apokaliptik muncul sebagai salah satu pilihan ekspresi imajinatif dengan tujuannya masing-masing. Mulai dari sekadar hiburan, propaganda, hingga untuk kepentingan ekonomi dan politik. 

Hal menarik yang patut dicermati adalah telah berkembangnya teknik-teknik survival masa depan atau survival apokaliptik yang diinspirasi oleh film-film fiksi tersebut. Misalnya mereka berlomba-lomba membangun sistem bunker beserta kelengkapan taktikalnya untuk membangun kekuatan survival di wilayah destruksi.

Narasi distopia apokaliptik juga telah berjasa memengajarkan cara menghindari situasi katastrofe di masa depan. Ambil contoh dalam film The 5th Wave. Bagaimana teknik bertahan dalam lima gelombang penghancuran massal di bumi.

Namun terkadang pula sutradara dan pelaku sinematik kurang teliti atau memang buta karakter distopia apokaliptik sehingga narasi yang dikejar waktu produksi itu kadang terkesan acak-acakan. 

Tak terkecuali hal ini juga terjadi di dunia sinetron, novel ataupun karya fiksi lainnya. Narasi distopia apokaliptik tersaji ngawur dan terlalu mengada-ada. Perlu diingat bahwa penonton ataupun pembaca adalah kumpulan persona yang sebagian besar sudah mempunyai bekal kisah distopia apokaliptik dari kitab suci.

Untuk menghindari blopper atau kesalahan saji visual ataupun konten tersebut, banyak cara yang bisa ditempuh. Paling sederhana, memanfaatkan logika kekuatan alam. Seperti penyajian visual perubahan signifikan morfologi bumi dengan menampilkan peristiwa gunung meletus.

Logika umum pasti mengamini bahwa lanskap pegunungan adalah prioritas utama dalam penghancuran karena mempunyai energi potensial destrukrif yang besar. Tidak perlu memunculkan monster superbesar untuk membalik bumi.

Kitab suci Alquran, misalnya, telah sahih, baik logik atau empiriknya, menceritakan model destruksi apokaliptik ini. Gambaran jelas tentang penghancuran melalui proses perpindahan energi molekuler gunung yang terpasak (al jibalu autada) menjadi gunung yang berserakan seperti pasir yang bertaburan dan licin (katsiban wal mahilan).

Untuk membuat narasi-narasi distopia apokaliptik yang baik dan logis, diperlukan ex post facto atau rangkaian penelitian ilmiah yang dekat dengan permasalahan guna mendapatkan visual terdekat. Termasuk pula penyajian karakter para petarung di dalam narasi tersebut

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penghimpunan ex post facto akan menimbulkan beberapa persepsi dan gambaran-gambaran yang bisa saja bernilai falsafikasi. Tak jarang falsafikasi akan menuntun pada narasi distopia yang radikal. Atau sebaliknya terlihat menggelikan.

Tak jarang pula narasi distopia apokaliptik yang bersumber dari kalam Tuhan difalsafikasi hingga tereduksi maknanya atas nama kebutuhan naratif dan animatif. Selain falsafikasi, yang sering menghantam narasi distopia apokaliptik adalah generalisasi terhadap tebakan logis kalam Tuhan. Kadang pula serampangan berepistemologis tanpa memandang hal fundamental. 

Perlu ditekankan juga bahwa superhero itu Not to need to be seen as a saint. Tubuh kita yang terdiri dari jasad dan ruh tetap harus menelusuri logika alam yang bisa luka, berdarah, sakit, hancur, luluh dan lebur.

Sajian visual tentang langit runtuh juga menjadi tema terbesar dari gaya dan corak visualisasi narasi-narasi distopia apokaliptik. Langit runtuh atau langit terbelah dalam Bible English Version (Alkitab versi Bahasa Inggris) diwakilkan kata skyfall

Gambaran langit runtuh pada Alkitab tersebut memenuhi kriteria logis selestial dan terestrial. Atau dengan kata lain sesuatu yang jatuh dari tempat tinggi ke tempat rendah secara tiba-tiba. 

Hingga di Jepang ada sebuah jargon untuk mewakili jatuhnya perdagangan saham dengan istilah skyfall. Konsep terestrial translinier yang memandang langit sebagai  sesuatu yang berlapis-lapis. Konsep ini diterima baik dalam narasi-narasi distopia apokaliptik di rumah-rumah produksi.

Narasi distopia apokaliptik tidak harus dipenuhi teknologi high-end seperti konsep dismounted soldier" ala CBQ (Close Quarter Combat) dalam sebuah Urban Warfare atau kekuatan perang modern dengan platform digital seperti obral GPS, antijam radio, laser rangefinder, displayed helmet, ataupun computerized tactical hand-held.

Namun bisa juga bisa berbentuk visual perlawanan penduduk bumi dengan peralatan sederhana. Seperti pesan-pesan perlawanan terhadap Gog Magog jika memperhatikan qauliyah aslinya yaitu dengan kuda- kuda perang yang ditambatkan. 

Hal ini dimungkinkan terjadi karena Gog Magog tak bisa mengembangkan teknologi karena terperangkap dalam penjara yang dibangun Dzulqarnain. Mereka hanya mahir menguasai teknologi jadul.

Narasi-narasi distopia apokaliptik yang rentan hujatan adalah mengenani konsep teofani atau menghadirkan Tuhan dalam visual manusia. 

Sebenarnya teofani adalah hal lumrah dalam perjalanan ruhani seorang hamba. Apalagi dalam peristiwa distopia apokaliptik, Tuhan sangat dibutuhkan. Tinggal kepandaian kita untuk memindahkannya ke dalam layar lebar. Selamat bereksplorasi, jangan lupa kitab sucimu!