Transmisi pada kehidupan manusia menjadi lebih maju yang mencakup masyarakat internasional di berbagai aspek kehidupan baik sosial, ekonomi, politik maupun yang lain merupakan dampak dari terciptanya Globalisasi dan telah membawa banyak perubahan dalam perkembangannya.

Globalisasi memiliki berbagai dampak positif dalam kehidupan manusia, salah satunya dalam lingkungan hidup. Akan tetapi, globalisasi juga tidak sedikit menimbulkan efek yang berbahaya/negatif bagi kehidupan manusia jika dalam pemanfaatannya tidak memperhatikan aspek-aspek lainnya.

Sejak abad ke-19 globalisasi diyakini muncul, namun perubahan yang begitu nyata terjadi di era masa kini atau abad ke-21. Kemudahan di berbagai aspek kehidupan mulai dari komunikasi yang lebih mudah, transportasi lebih cepat, dan peningkatan arus ekonomi, yang mana kemajuan pada sektor teknologi informasi serta komunikasi ialah awal ditandainya perkembangan globalisasi secara cepat.

Sektor di atas ternyata mampu untuk mempengaruhi sektor lain seperti ekonomi, politik, sosial budaya, ilmu pengetahuan  bahkan pada sektor lingkungan hidup.

Dalam sektor lingkungan hidup, globalisasi membawa berbagai manfaat bagi kemudahan hidup umat manusia, seperti adanya metode penanaman pada tanaman kebutuhan pokok yang lebih modern (hidroponik), terciptanya alat-alat untuk mempermudah pertanian (traktor, combine harvester, dan lainnya), kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup, serta berkembangnya teknologi dengan mengusung tema ramah lingkungan.

Akan tetapi, dengan berbagai manfaat yang mempermudah kehidupan umat manusia, ternyata globalisasi telah menciptakan banyak sekali permasalahan. Globalisasi terbukti lebih banyak merusak lingkungan dengan menciptakan sebuah pemanasan global yang berakibat pada terjadinya perubahan iklim.

Globalisasi dalam mempengaruhi iklim global menyumbangkan sebuah peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang disebabkan oleh adanya perkembangan aktivitas manusia dari zaman ke zaman atau yang disebut sebagai globalisasi, seperti perubahan fungsi lahan, emisi bahan bakar fosil, limbah industri, gaya hidup konsumtif, pengeksploitasian SDA secara berlebihan demi persiangan di era globalisasi, dan penggunaan listrik secara berlebihan. Hal-hal tersebut kemudian menciptakan sebuah efek yang parah bagi bumi.

Kemudian perdagangan serta investasi asing pasti mempengaruhi lokasi dan hal tersebut memberi dampak pada lingkungan hidup dari aktivitas produksi serta konsumsi yang dilakukakan di seluruh penjuru dunia.

Dalam sebuah data visual yang di publish oleh nasa juga menunjukkan bahwa pemanasan global bukan terjadi karena alam itu sendiri (sun's energy) melainkan disebabkan oleh semakin berkembangnya aktivitas manusia.

Hal tersebut di dukung dari 97% jurnal dan kurang dari 200 organisasi lintas disiplin dunia menyatakan dan mengakui bahwasanya perubahan iklim diakibatkan oleh aktivitas manusia yang semakin kompleks dan berkembang karena adanya globalisasi. Sehingga tidak heran jika global issues di abad ke-21 adalah mengenai environment (lingkungan hidup).

Hal di atas sepadan dengan yang diungkapkan oleh mantan Duta Besar Kolombia Dr. HC. Priyo Iswanto. HC. dalam perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa Hubungan Internasional UMM, di mana berdasarkan data dari Environmental Protection Agency 2021 bahwasanya penyumbang terbesar GHG (Green House Gas emission) adalah listrik dan pemanas/pendingin (25%), pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan (24%), industri (21%), dan transportasi (14%).

Sehingga, sumbangsih globalisasi terhadap perubahan iklim tersebut dipengaruhi oleh aktivitas manusia sebagai "penggerak" perubahan yang ada di muka bumi ini. Umat manusia cenderung menggunakan perkembangan globalisasi tanpa memikirkan dampak negatif yang bisa timbul untuk lingkungan hidup. Sehingga dari perubahan iklim yang tercipta akibat rusaknya tatanan lingkungan hidup oleh globalisasi menimbulkan berbagai dampak di dalamnya.

Beberapa dampak dari perubahan iklim yang mencolok untuk dilihat adalah mencairnya lapisan es di kutub selatan dan utara yang berakibat pada naiknya volume permukaan air laut, pencemaran pada udara, air dan tanah, kemudian iklim yang sulit diprediksi sehingga membuat petani sulit memprediksi waktu tanam, perubahan iklim juga membuat suhu di bumi semakin meningkat, serta punahnya berbagai jenis flora dan fauna karena sendi penyokong kehidupan mereka telah dirusak.

Oleh karena itu, umat manusia dari seluruh penjuru dunia haruslah berupaya untuk dapat menangani perubahan iklim ini  dengan beberapa aksi umum yang bisa dilakukan, yaitu melakukan reboisasi pada hutan gundul, melakukan gerakan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Refuse), mulai menggunakan kendaraan umum guna mengurangi gas CO2, mengurangi penggunaan plastik belanja dan kemasan sekali pakai, bijak dalam menggunakan listrik, serta seminal mungkin kita membeli pakaian agar mengurangi limbah industri tekstil.

Isu akan lingkungan hidup ini terus berkembang menjadi ancaman yang bersifat multidimensional karena melibatkan banyak aktor dari berbagai bidang di dalamnya. Pemerintah dari berbagai negara terus bekerja sama dalam menangani isu ini, seperti dengan membentuk Kyoto Protocol, Paris Agreement, KTT Glasglow dan COP26.

Dampak yang ditimbulkan memang belum begitu terlihat di berbagai negara. Akan tetapi, di negara-negara seperti India, China, Bangladesh, Amerika Serikat, dan Filipina. Perubahan iklim menjadi sebuah imbas yang parah dari adanya penggunaan globalisasi tanpa memikirkan dampak berkelanjutan.

Singkatnya secara pasti, globalisasi haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin oleh kita semua dengan memperhatikan segala aspek yang ada di dalamnya. Jangan sampai globalisasi menjadi sebuah boomerang bagi umat manusia di kemudian hari karena kurangnya kesadaran akan dampak yang ditimbulkan, khususnya pada sektor lingkungan hidup yang menjadi penopang kehidupan di muka bumi ini.