Pengantar: Puisi yang Ditirikan oleh Penyair
 
Mereka datang kepadaku, membawa kekesalannya sendiri-sendiri. Mengeluhkan persoalan yang kini tengah mereka hadapi. Aku adalah puisi yang terpasung-jajah oleh kaum perayu. Aku adalah puisi yang tersimpan dalam draft laptop si penyair dengan folder name yang tak jelas. Aku adalah puisi yang memang seringkali dilupai dan dipinggirkan. Aku puisi yang ditulis dengan sebegitu asal dan sembrono.
 
Dan atas penyelesaian ini, aku tentu saja memutuskan untuk bungkam, sebungkam-bungkamnya. Aku pun tak dapat bertindak apa-apa pada bait-baitku sendiri. Hingga satu di antara mereka saling bercakap; menyesalkan suatu tindakan, memarahi kecerobohan, berduka seluka-lukanya hingga menangisi keasingan yang tak seorang pun dapat merambahnya.
 
Monolog I: Lelaki Peluruh Akar Rimbangun
 
Tak laik kiranya kau datang, perempuanku, berpayah-payah, tertatih-tatih, dengan bibir yang terasa amat kelu. Bahasa akarmu, serupa bahasa jemari bukan? Tiada alasan, bahwa hasrat mencintai yang kautanam dan besarkan dengan sedemikian, justru tertolak oleh pengepung dunia saba’ maupun pemburu payau-payau angin.
 
Bahasa mereka tak mampu merumuskan bahasamu yang cukup meruntuhkan persembunyian makhluk-makhluk pemilik gulita. Bahasa yang dapat membuat kocar-kacir serdadu waktu dan membuat kelimpungan bala tentara hujan.
 
Kau datang malam itu, dengan buah-buah yang kaupanggul dari ladang terkam lalu meninggalkan sisa-sisa aksara puisi yang dulu pernah kaularung dengan amat rindu di sungai lelatu. Hatimu bergetar, siur jangkrik berhantam-tengkar. Tetapi aku, si peluruh akar rimbangun penawar luka yang tak kunjung tersadar.
 
Monolog II: Perempuan sunyi berwarna culan
 
Bukan berarti aku, si perempuan sunyi, ingin berkunjung dengan tiada arti ke gubuk kelaminmu, lelakiku. Aku datang dengan memendam birahi. Makna demi makna kususuri di tiap garis telapak tanganmu yang baru kusadari tak berlidah. Ia kelu, sekelu aku yang tak mampu menakwil rindumu yang digugu waktu.
 
Telapak tanganmu kuning pucat. Tiada sahih berkata apapun. Seperti meracau. Padahal, aku tahu, bahwa ia yang tempo hari menghantar tiap puisi-puisimu yang belum tergerus api. Ia juga yang mengatakan, “Salin puisi-puisi ini segera! Dan kirimkan ke koran lokal daerahmu.” Aku pun menuruti maunya.
 
Hari ini, di tengah kabut yang belum juga luruh hingga jelang siang akibat kebakaran hutan yang makin jadi, puisi-puisimu dimuat oleh seorang redaktur koran lokal kota ini. Sempatkanlah untuk berterima kasih kepadanya. Ia telah meloloskan puisimu tak lain karena berdasarkan rasa iba.
 
Dan di waktu yang sama, di minggu pagi yang khidmat ini, kau hanya tinggal menanti hujatan para penyair-penyair tua yang kemampuan menyembah kata jauh melampaui atasmu. Kelancanganmu terlampau buruk. Puisi-puisimu, menurutku, tak ubahnya batang kelakai yang digerogoti wereng; busuk dan layu.
 
Monolog III: Penyair Tua Pemilik Kewenangan Kata
 
Siapa yang berani-beraninya mengirim kecengengan ke pelataran rumah-rumah beratap rumbia kita? Adakah ia bekerja paruh waktu sebagai badut yang sebegitu (tidak) lucunya di pentas mingguan kita ini? Puisi adalah bagian dari kitab suci.
 
Kita yang berlelah-lelah sejak lama menjaga sungai huruf, dari hulu ke hilir, dari muara ke muara, dari handil ke handil, agak tak tercemar kata picisan dan rayu-rayu rendahan.
 
Sedangkan puisinya, ya, puisinya yang dimuat minggu ini di koran daerah itu sungguh keterlaluan. Semestinya ia belajar bagaimana melesatkan kata menjadi sabda. Menafsirkan firman tidak semau isi kepala. Sebab neraka, lebih banyak dipenuhi orang-orang keras kepala dan ingin menang sendiri. Apa yang ia inginkan dari pementasan kecil kita? Apa maunya?
 
Jika ia datang kembali, maka lebih baik kita usir! Kita buang sejauhnya puisi-puisi yang ia tulis dengan ejakulasi dini. Menjijikan. Jangan sampai ada korban atas kebiadaban bahasa si penyair ini yang benar-benar merusak akar budaya kita.
 
Monolog IV: Puisi yang Tercecer di Koran Minggu
 
Aku terlahir dari semacam keterkejutan yang tak pernah kuperkirakan sebelumnya. Aku lahir dari tangan lalim tuanku. Aku meronta. Aku menolak. Aku tidak terima dijadikan sebuah puisi yang utuh oleh si tuanku yang dungu ini. Sungguh, aku tak ingin. Aku hadir untuk kemudian dihakimi semena-mena oleh para penyair senior.
 
Sedangkan si tuanku itu justru tidak tahu-menahu bahkan sengaja bersikap masa tolol dengan perihal keadaanku. Di pagi minggu yang amuk ini, ia lebih memilih ngopi di warung kecil tak jauh dari kos-kosannya sembari mengutuki jam kuliahnya yang padat. Iya, tuanku itu masih muda. Seorang mahasiswa lebih tepatnya. Usianya baru seumur remah tepung tahu goreng yang baru diangkat dari jelantah pojok pasar malam.
 
Suatu kali, aku pernah dijenguknya melalui e-paper (ia tak mampu membeli koran di kios) dengan jaringan Wi-fi  yang ia curi dari kampus. Ia penyair muda yang miskin sekali. Tak apa, setidaknya aku merasa bahagia sekali kali ini. Di halaman dimana aku dilahirkan, aku diperdapatinya, ia bersorak dalam hati. Ya, dalam hati.
 
Aku mendengarnya. Sejurus kemudian, secara mengejutkan, ia justru menghardik, “Kau lahir dari lacur imajinasiku. Entah siapa ibumu. Takkan ada pula seorang pun yang mau mengadopsimu ke dalam buku antologi.” Di halaman itu, aku menangis sesenggukan.
 
Kemudian ia meninggalkanku dengan acuh. Menghisap sisa bagian akhir rokoknya yang sudah hampir menyeberang ke puntung. Aku menangis. Sejadi-jadinya. Batang hurufku pecah. Seremuk-remuknya.
 
Monolog V: Kios Kecil Pasar Ujung Murung
 
Minggu. Segalanya bergerak lebih awal. Anak-anak muda yang secara bergerombol, mengenakan jersey dan training, joging di sepanjang jalan dan mengambil tempat istirahat sehaluan siring. Dibandingkan hari-hari lainnya, hari ini terasa sedikit berbeda.
 
Ada beberapa wajah familiar yang datang –meski aku tak pernah tahu dan tak juga berniat untuk bertanya siapa namanya, datang bergantian secara rutin ke lapak kecil di sudut pasar ini. Mereka berlangganan dengan tuanku –seorang pengurus musalla yang bekerja paruh waktu sebagai penjaga kios koran.
 
Di tubuhku, terjaja berbagai macam surat kabar lokal dan nasional. Di tubuhku pula, dijaja pemuatan pelbagai macam  karya cerpen dan puisi yang dikirimkan dengan amat apik oleh penyair-penyair kota ini maupun yang berasal dari luar daerah. Mereka bebas memilih.
 
Aku tak pernah membaca koran-koran itu secara langsung. Jelas, aku terlalu lugu untuk hal itu. Tapi aku dapat segera memahami dari raut wajah-wajah mereka yang hanya membuka halaman tertentu dengan cepat. Tanpa mengindahkan halaman muka dan halaman-halaman selanjutnya.
 
Hanya lembar halaman itu yang ia tuju. Hanya lembar halaman itu yang dicari dan nampaknya dinanti-nanti. Jika air wajah mereka terlihat sumringah, itu berarti nama mereka tercatut di halaman tersebut. Atau tepatnya, karya mereka dimuat. Mereka sering menyebut halaman itu sebagai Rubrik Sastra.
 
Jika tidak, mereka akan merogoh kantongnya, membayar sejumlah uang ribuan, kemudian berlalu pergi dengan wajah setengah kuyu. Mereka adalah penyair-penyair yang silih berganti datang ke kios ini.
 
Monolog VI : Blocknote Redaktur di Laci Meja
 
Aku adalah benda kecil milik salah seorang redaktur koran lokal kota ini yang menyaksikan betapa cukup kewalahan ia menerima naskah setiap harinya. Tuanku ini, si tuan redaktur, hampir kesulitan untuk memejamkan mata rupanya. Nampaknya ia terserang insomnia akut.
 
Tak lama lagi, perkiraanku, ia akan mengeluhkan masalah ini ke mantri kampung sebelah. Mengenai pekerjaannya, ia membuka satu persatu file-file kiriman para pengarang. Memilah-milih. Dari yang pemula hingga kawakan. Dari yang belia hingga yang sepuh. Dari yang merengek-rengek untuk minta dimuat (karena si redaktur bersikeras tidak memuatnya) hingga yang acuh tak acuh.
 
Tab-tab di layar monitor komputernya itu saling bersitumpuk. Demi untuk menghargai kiriman-kiriman pengarang, ia membaca satu persatu. Paragraf ke paragraf. Sungguh baginya, bekerja sebagai redaktur halaman sastra juga dituntut harus profesional. Menjadi seorang redaktur, bagiku, bukan suatu pekerjaan yang mudah. Aku merasa kasihan, kantung matanya semakin menggelayut. Ia kurang tidur.
 
Kasihan pula istrinya, meringkuk sendiri di tubir ranjang. Menanti cumbu rayu dari si tuan redaktur. Begitupun anak semata wayangnya yang masih balita acapkali tak dihiraukan manakala ia minta untuk di-“ungga-ungga apungi” olehnya. Sedangkan ia, di depan meja kerjanya, lebih memilih menyenggamai serta memutuskan cerpen dan puisi mana yang layak muat minggu ini.
Jakarta, 24 Sep 2015
 
*Cerpen ini penah dipublikasikan di SKH Media Kalimantan, Minggu, 4 Oktober 2015 dan dimuat ulang di Jurnal Rusabesi, ed.II, November 2015.