(Maha) siswa
4 bulan lalu · 743 view · 5 menit baca · Sejarah 75089_95064.jpg
Detik.news

Suluh Itu Bernama Tan Malaka

Tanggal 10 November 2018, saya kira bukan hanya Hari Pahlawan. Perlu juga disahkan Hari Museum Online Nasional. Sebab, caption dari teman-teman pengguna media sosial ramai dengan ucapan Hari Pahlawan dengan foto-foto para pahlawan. Saya tak tahu apa motifnya. Tapi, yang saya tangkap, ada semacam keinginan untuk dianggap ingat Hari Pahlawan.

Jujur, saya tak ingin menyalahkan mereka yang pakai caption Hari Pahlawan. Tapi, paling tidak, mereka juga harus komitmen pada niat dan perjuangan suci. 

Bagi kaum aktivis, Hari Pahlawan bukan sekadar nempelin foto-foto pahlawan di story WA-nya, kan? Namun kenyataan lain dari cita-cita perjuangan, seperti Tan Malaka yang pikiran dan geraknya hanya demi pembebasan Indonesia dari penjajah.

Sosok yang mempunyai pikiran jernih sekaligus langkah yang taktis tersebut sejatinya salah satu mutiara yang pernah ada di lumpur Indonesia. Empati pada rakyat yang tertindas mendorongnya pada keinginan untuk merdeka seratus persen, tanpa embel-embel, tanpa IMF dan Bank Dunia; menjadi bangsa yang kakinya mengakar, keinginannya melangit.

Jika kemerdekaan tak seratus persen, apalah arti sebuah kemerdekaan? Punya dapur sendiri, cabai ada, garam ada, sayur ada, air ada, ikan ada, tampe ada, kedelai ada, semuanya ada, tapi, ujung-ujungnya minta tolong pada orang luar. Apalah arti semuanya?

Memang, untuk merdeka seratus persen, SDM dan SDA harus sama-sama memadai. SDM memadai tapi SDA tidak, masih bisa diakali dengan mengakali negeri lain. Tetapi bagaimanakah jika SDM-nya tak memadai?

Demi merdeka seratus persen, bersamaan pula dengan keinginan kuat ke arah Indonesia merdeka, Tan Malaka segera menginisiasi untuk menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan, di samping juga dengan gerakan-gerakan.

Ia sempat berpikir, kaum proletar saat itu masih belum bisa memahami keadaan iklim, sejarah yang mengitarinya serta keinginan sesama untuk merdeka. Perlulah kiranya untuk menjembatani dengan arah perjuangan orang-orang Barat saat itu. Solusinya, ia menulis pikirannya. Dari itu, lahirlah karyanya bernama Madilog.

Pejuang tidak hanya mampu memobilisasi massa, tapi juga harus menerjemahkan pikirannya dengan tulisan. Sebab, jika hanya sebatas gerakan, maka tinggallah bekasnya. Sekadar diingat pada masanya, tapi tak mampu lewati puluhan zaman. 

Dengan menulis, pikiran seseorang mampu menembus sekian puluhan zaman. Buktinya, Madilog, Naar de Republiek Indonesia, Gerpolek, dan lainnya masih kita baca sampai hari ini.

Sosok Tan Malaka yang selama ini dianggap sebagai bagian dari PKI, tentu tidak salah. Buktinya, kongres PKI pada tanggal 24-25 Desember 1921 di Semarang, ia terpilih sebagai pimpinan partai.

Perjalanannya sebagai seorang revolusioner yang bisa dikatakan tak berumah dibuktikan dengan penangkapannya oleh Belanda pada 1922, sekaligus pembuangannya ke Kupang, NTT. Di tahun yang sama, tepatnya bulan Maret, ia diusir dari Indonesia.

Pertualangannya dimulai sejak pembuangannya tersebut. Pertualangan ke Berlin, Moskow, Belanda, Shanghai, Thailand, dan Filipina. 

Dalam pertualangannya itu, ia sempat ditunjuk Komunis Internasional untuk menjadi wakil khusus yang bertugas menjelaskan strategi dan taktik Komintern ke berbagai negara. Taufik Adi Susilo menyatakan, jabatan itu tak pernah didapatkan Bapak Revolusi Cina, Mao Tse Tung.

Tan Malaka merupakan tokoh PKI yang tidak setuju pada pemberontakan PKI pada tahun 1926. Sang revolusioner ini secara terang-terangan keluar dari PKI pada tahun 1927, sekaligus mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) karena dianggap lunak pada gerakan Islam. Komintern pada akhirnya memecatnya. 

Tan Malaka seorang revolusioner yang tak mau duduk tenang, selalu gelisah dengan keadaan. Berbeda dengan orang yang pikiran kiri setengah matang dan mentah, ketika jabatan didapat, hilanglah pikiran kirinya. Rupanya, orang kiri seperti ini sekadar kedok atau batu loncatan, biar dikenal luas oleh rakyat dan merakyat.

Tan Malaka pantas digelari Pahlawan Nasional. Dan memang, pada tahun 1963, ia mendapatkan hal itu. Ketika ada kekhawatiran akan kebangkitan PKI, saya kira ini masih bisa dikatakan berlebihan.

Membicarakan Tan Malaka bukan berarti menghidupkan sinyal PKI. Sudah selayaknya sosok ini mendapatkan tempat yang layak, sama seperti pahlawan lainnya. Tidak sia-sia, pikiran dan sosoknya pernah jadi perbincangan di salah satu televisi swasta. Sekadar jadi perbincangan di televisi. 

Tapi, pikiran-pikirannya dilarang untuk dikaji atau bahkan ada semacam kekhawatiran. Sama saja kita setengah hati menghargai pikirannya. Kekhawatiran itu harus diurai. Menjadi pertanyaan memang, kenapa kekhawatiran itu muncul? Hal serupa juga ada semacam penenggelamannya dari sejarah.

Paling tidak, sempat terpikir beberapa hal, di antaranya: pertama, pengaruh kebijakan dan pikiran Orde Baru; kedua, kekhawatiran akan penghidupan kembali marxisme-leninisme; ketiga, ketika pelajar sudah terjangkiti pemikiran marxisme-leninisme, sejarah kelam masa lalu akan terulang. Semuanya hanya berpangkal pada kekhawatiran. Bukankah pemikiran-pemikiran para tokoh ketika didialogkan akan memunculkan sanggahan-sanggahan dari lainnya?

Saya kira, ruang publik tak hanya didominasi oleh satu pemikiran. Sebab, dengan pesatnya jaringan internet, pemikiran lain juga akan merangsek ruang-ruang publik, tak terkecuali Indonesia.  

Yang lebih berbahaya sebenarnya adalah pemikiran kapitalisme, sederhananya memanfaatkan yang lain sebagai sebuah komoditas. Ya, lebih tepatnya perbudakan diam-diam. Tegakah melihat mereka yang kalah dalam persaingan? Orang miskin, rumahnya roboh, tinggal di tempat ibadah, tapi tak sedikitpun kelihatan batang hidung pemerintah, bahkan untuk sekadar selfie.

Yang orang tanyakan, apa tugas dinas terkait? Masa kayak tidak punya data terkait berapa jumlah orang miskin? Ya, inilah pikiran yang hanya ingin menguntungkan dirinya sendiri. Tan Malaka tentu menginginkan Indonesia merdeka seratus persen.

Terlepas dari hal itu, pikiran-pikiran Tan Malaka masih bisa dikatakan relevan hingga saat ini. Tetapi, karena kita telanjur menghakimi tanpa mengetahui terlebih dahulu, kekhawatiran itu tumbuh. Bahkan bisa dikatakan inilah bahaya laten itu sendiri. Dengan jumawa menghakimi, enggan melihat kebenaran fakta.

Pemikiran Tan Malaka tetap hidup. Ia mengobarkan kemerdekaan bahwa Indonesia harus bebas. Apakah saat ini sudah merdeka? Tanyakan pada hati nurani kita.

Bagi aktivis, sebenarnya ada pesan yang bisa ditangkap. Tan malaka yang dikenal sebagai orang pelarian, pikirannya selalu jernih. Sebab, ketenangan adalah kemandekan untuk berpikir, selalu awas adalah cara untuk selalu menghidupkan suluh pikiran yang mulai redup. Dari pikirannya, muncullah ide Menuju Indonesia Merdeka. Dengan tiliknya yang tajam, segala sisi Indonesia ia jadikan sebagai bahan renungan.

Madilog merupakan magnum opus-nya. Harry a. Poeze menyatakan, madilog adalah endapan pikiran Tan Malaka selama bertahun-tahun. Demikian, kita tak akan menemukan rujukan-rujukan di dalamnya. Tapi, hasil pemikirannya tetap jernih. Bukunya bukan tempelan-tempelan pikiran orang lain. Ia pandai meracik keadaan iklim, geografis, dan cita-cita rakyat Indonesia saat itu.

Tulisannya tersebut sebagai bentuk sambungan pemikirannya untuk Indonesia yang masih belum merdeka. Di pengantar bukunya, Naar de Republiek Indonesia, ia menulis, "Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar dari penduduk Indonesia, dengan buku ini sebagai alat." Buku yang konon jadi bahan bacaan Soekarno itu ditulis pada Tahun 1925.

Lagi-lagi, Tan Malaka mengisi ruang publik Indonesia. Ia hadir bukan dengan fisiknya saat itu. Tapi, dengan pikiran-pikirannya, ia menginspirasi pemimpin bangsa. Pikirannya dirampas, kematiannya seperti buronan. Cukupkah kita berterima kasih, tidak hanya pada Tan Malaka, tapi juga pada lainnya? Nama-nama pahlawan lebih cocok jadi nama jalanan, kan?