Kematian Sulli, yang bernama asli Choi Jin Ri, sontak membuat kaget para penggemar ketika ditemukan tewas gantung diri di apartemennya di kawasan Seongnam, Korea Selatan.

Seakan menjadi tragedi rutin, tewasnya para pesohor di seluruh dunia membuka mata kita, bahwa bagi mereka kematian masih jadi satu-satunya jalan keluar bagi kehidupan yang tak tertolong. Pilihan untuk mengakhiri hidup bisa dilakukan siapa saja, bahkan orang terdekat.

Dalam sudut pandang akademis, bunuh diri merupakan sebuah fenomena sosial yang menjadi objek kajian tersendiri. Kita akan menemukan rentetan akademisi sejak era Romawi hingga era modern mencari tahu alasan filosofis di balik kalimat “bunuh diri”.

Di bidang sosiologi misalnya, Emile Durkheim menghabiskan waktunya keliling dunia untuk mencari tahu alasan di balik orang bunuh diri. Ia berkesimpulan bahwa keputusan mengakhiri hidup diakibatkan gagalnya relasi seseorang terhadap lingkungan sosialnya.

Di bidang lain, yaitu psikologi, bunuh diri dipandang sebagai hal yang privat. Sigmund Freud berpendapat bahwa semua manusia memiliki hasrat untuk bunuh diri, namun ia dapat ditekan oleh kondisi normal manusia. Depresilah yang membuat situasinya menjadi berbeda. Bunuh diri merupakan bentuk kemarahan terhadap diri sendiri.

Menurut Kierkegaard, di alam pikiran yang putus asa (desperate state of mind), keputusan untuk melakukan bunuh diri biasanya dilakukan dengan ketiadaan determinasi diri. Dalam sudut pandang pelaku, tak ada pertimbangan moral dalam melakukannya. 

Secara sederhana, bunuh diri dipandang sebagai jalan keluar yang efektif dari kehidupan yang tak tertolong. Pelakunya tak akan menimbang ulang atas apa yang akan terjadi di masa depan ketika ia sudah tiada. (Kierkegaard: 1992)

Sebagaimana Sulli yang dalam beberapa kesempatan menyatakan dirinya begitu lelah tak didengar dan cemas akan masa depan, para psikolog seperti Aaron Beck dan Edwin Shneidman melaporkan bahwa rata-rata orang yang melakukan percobaan bunuh diri adalah disebabkan karena adanya suasana kehidupan yang putus asa (hopelessness) dan tak lagi tertolong (helplessness). (Beck et al: 1986; Shneidman: 1999)

Mereka sadar betul bahwa keadaan yang menimpanya bisa disembuhkan dengan mengakhiri hidup sebagai obatnya (remedy). Dalam sudut pandang fenomenologis, kesadaran ini berbeda dengan gangguan mental lain seperti depresi yang disebabkan karena kehilangan pekerjaan atau keluarga, dan gangguan mental lainnya yang sebagian dari mereka mengalami keadaan delusional sehingga mereka rentan dengan keinginan untuk bunuh diri. 

Dengan kata lain, orang yang berkeinginan untuk bunuh diri belum tentu karena ia mengalami depresi (dalam arti klinis), tapi dipastikan alam pikirannya sedang dalam keadaan putus asa (state of mind of despair).

Dalam keadaan ini, kemungkinan untuk meletakkan diri pada kematian adalah tawaran terakhir dan pilihan yang bisa diandalkan untuk mengubah pengalaman dan mengakhiri keputusasaan. Inilah mengapa bunuh diri sering dikatakan sebagai remedy (obat) oleh pelakunya.

Seseorang yang dalam keadaan sakit berkepanjangan, biasanya terpikir untuk mengakhiri hidup ketika penyakit yang diidapnya tak kunjung sembuh.

Seorang pasien bernama Anne (nama samaran) yang akan mengalami kebutaan karena kelainan pada matanya yang akut, dilaporkan jatuh pada kondisi yang begitu putus asa. Pikirannya kabur, dan satu-satunya pilihan yang muncul di kepalanya adalah bunuh diri jika ia sampai benar-benar buta. 

Hari-harinya dihabiskan untuk memikirkan pilihan itu. Dan, menurut pengakuannya, keinginan untuk bunuh diri memberikan efek yang menenangkan pada dirinya. Pikiran untuk mengakhiri hidup menjadi obat bagi dirinya (remedy). (Schlimme: 2013)

Seakan mengamini “pengetahuan” Anne tentang bunuh diri, David Hume (1995) mengatakan, “jika kau lihat kematian sebagai horor, maka bunuh diri bisa menjadi obatnya.”

Atau ia, di lain kesempatan, berargumen bahwa bunuh diri di mata orang yang putus asa adalah membebaskan diri penderitaan dan marabahaya. No man ever threw away life while it was worth keeping. Tak seorang pun yang membuang nyawa sementara ia layak untuk dijaga. (Hume: 1995)

Begitu pula Nietzsche dalam Beyond The Good and The Bad (1994) pernah berkata: The tought of suicide is a great consolation: it helps one to get through a bad night. Pikiran untuk bunuh diri adalah kenyamanan besar; ia membantu seseorang untuk melewati malam yang buruk.

Melihat Sulli, dari beberapa jejak digital yang ia tinggalkan, bahwa bunuh diri bisa dipandang sebagai jalan keluar dari segala kegelisahannya pada kehidupan. Kehendak untuk bunuh diri menjadi anti-klimaks dari rentetan tragedi yang ia hadapi. 

Pilihan untuk bunuh diri adalah ungkapan Sulli pada kehidupan bahwa ia tak sanggup lagi meneruskannya. Popularitas adalah beban besar yang tak sanggup ia pikul.

Rasa depresi yang dialami, sejatinya, bukanlah satu-satunya realitas yang terjadi. Perasaan bahwa kitalah manusia yang paling menderita adalah prinsip individuasi yang perlu dilampaui. 

Menerjemahkan gagasan Arthur Schopenhauer dalam The World as Will and Representation, “...tetapi dialah (manusia) yang sedih dalam diri orang yang menderita ketakutan terhadap kematian. Karena dia terpapar pada ilusi yang dihasipkan oleh prinsip individuasi. Bahwa keberadaannya terbatas pada kondisi yang menderita.”

Di sinilah muncul kontribusi sosial untuk meberikan empati pada sesamanya yang sedang dirundung depresi. Uluran tangan sesama bisa menjadi pereda rasa sakit pada dunia. Karena pada dasarnya kita adalah kesatuan dalam kemajemukan individu dalam ruang dan waktu.