Saya bukannya tak mau mendengar arahan dari pelbagai pihak untuk tetap stay di rumah, melainkan karena urusan nafkah yang tak bisa diwakilkan. Saya tetap harus bekerja di luar rumah. 

Meski begitu, saya membekali diri dengan hand sanitizer di botol kecil yang saya kantongi, juga masker, dan menjaga jarak untuk tidak bersentuhan dengan orang lain.

***

Pagi tadi (rabu, 25/3/2020), saya hendak bersiap pulang dari kantor. Waktunya pergantian shift. Teman saya yang akan menggantikan, masih baru datang sudah mengeluh, "Kota ini sudah seperti kota mati, kota zombi. Jalanan sepi, bahkan pasar yang saya lalui jumlah orangnya bisa dihitung dengan jari."

Teman saya itu tidak sedang berdusta, diperjalanan pulang sayapun menyaksikan pemandangan serupa; hanya sedikit orang dan kendaraan yang ada di jalanan, toko-toko pada tutup. Pikir saya, orang-orang Palu sudah memiliki kesadaran, mereka sudah mengindahkan arahan dari pemerintah dan dinas kesehatan. Alhamdulillah.

Dalam perjalanan pulang, saya memang meniatkan bakal singgah di Rumah Sakit Anutapura Palu. Sepupu saya kemarin mengalami kecelakaan. Lukanya ringan, tetapi pinggulnya memar bagai dihantam tinju sepuluh orang yang besar-besar. Dadanya sakit, mungkin terbentur di setir. Ia harus dirawat dirumah sakit karena dadanya makin waktu makin sakit.

Masih saja di pintu masuk rumah sakit, saya dijegal dua petugas. Tangan saya disemprot hand sanitizer, diberi masker dan kartu besuk. Saya masuk lewat pintu utama bersebelahan dengan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), menyusuri koridor menuju ruang perawatan "Garuda", lantai dasar, bangsal paling ujung sebelah kanan.

Kali itu juga rumah sakit sepi. Biasanya ramai orang lalu lalang, penjual makanan dan aneka jajanan juga bebas berkeliaran. Kini, keadaan rumah sakit bagai di film-film zombi. Jangankan pengunjung, pedagang asongan, maupun petugas kebersihan. Para perawat juga kelihatannya tidak banyak yang bertugas.

Sesampainya di rumah, setelah mencuci tangan dengan sabun, lalu mandi dan ganti pakaian, barulah saya bercengkerama dengan keluarga. Saya lalu menceritakan keadaan tadi. Saya begitu gembira, membawa kisah itu dengan perasaan riang, dengan senyuman dimanis-maniskan; dengan kesadarannya, warga Palu sudah mengisolasi diri sendiri di rumah.

Lalu disahut oleh isteri saya, "Mungkin karena hari ini tanggal merah, kan Hari Raya Nyepi."

Waduh, Asyem...

***

Sulawesi Tengah, secara keseluruhan hingga hari ini belum ada satupun orang yang dinyatakan positif mengidap corona, meski yang berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan) ada sekira 38 orang, dan 17 orang berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Cukup melegakan.

Akan tetapi perlu waspada, bisa jadi dinyatakan belum ada yang positif sebab belum terdeteksi saja. Soalnya pemeriksaan dan uji sampel untuk menyatakan status positif, adanya di Jakarta. 

Ya, sekira dalam hitungan satu atau dua minggu baru hasilnya bisa diketahui. Bisa jadi virus sudah menyebar duluan, barulah ada status pasti dari sampel yang seminggu lalu dikirim. Lantas yang sekarang, apakah harus menunggu seminggu (atau dua minggu) lagi?

Hari-hari biasa, di pasar tetap saja ramai. Seperti biasa, orang-orang lalu lalang tanpa masker, saling bersentuhan dan tukar menukar uang dengan barang (jual-beli) tanpa mencuci tangan. Malam harinya, masih banyak juga yang nongkrong santai di warkop.

Di masjid-masjid, tetap saja orang melakukan salat berjamaah, termasuk salat jumat, walau sudah ada imbauan dari MUI pusat, serta beberapa ormas. Khusus di Kota Palu, ada imbauan khusus dari MUI setempat soal salat jumat, yaitu tetap saja wajib dilakukan. Sebab, Kota Palu masih terhitung sebagai daerah yang belum darurat wabah. Artinya, berangkat dari asumsi belum ada yang positif corona, kemudian persebaran virus dianggap belum ada.

Saya menghargai pendapat itu, tetapi saya lebih setuju dengan imbauan MUI pusat, bahwa untuk sementara salat jumat diganti salat zuhur di rumah. Sebab, belum adanya pengidap positif corona tidak lantas menandakan tiadanya persebaran virus. 

Olehnya, masalah kita di Kota Palu, atau di Provinsi Sulawesi Tengah secara keseluruhan bukan dilihat dari sudah atau belum adanya, tetapi pada sudah atau belumnya pemeriksaan kepada seluruh warga (tes massal).

Masyarakat kita sepertinya masih cuek, atau bebal soal wabah covid 19 ini. Dikiranya virus corona sebercanda itu, bahwa kita masih aman sebab belum ada pasien positif. 

Meski juga tetap harus tenang, tak boleh panik. Penyakit bukan semata ditentukan dari sehat dan tidaknya makanan dan lingkungan, tetapi juga pikiran. Stres dapat memicu datangnya penyakit.

Kemarin, saya ikut membagikan tulisan yang agak sedikit panjang dari Yuval Noah Harari. Tulisan itu adalah hasil terjemahan dan salin rekat dari media Times edisi 15 maret 2020. Membaca tulisan itu, serasa membaca "Sapiens"--bukunya. Selain uraiannya yang menarik, juga pilihan kata-katanya bagus sehingga enak dibaca. Meski cukup panjang.

Harari memberikan kunci untuk melawan Covid 19 dengan cara membangun kerjasama seluruh umat manusia untuk melawan wabah ini. Dahulu, sebelum jaman digital macam sekarang, berkat kerja keras umat manusia bermodalkan pengetahuan dan kerjasama kolektif, akhirnya bisa menang dalam pertarungan melawan wabah.

Kini, jaman digital dengan segala kemajuan di bidang sains dan teknologi, pasti umat manusia bisa dengan lebih cepat mengalahkan covid 19. Asalkan syarat yang diajukan dipenuhi; kerjasama. Segala ego harus diruntuhkan, kepemimpinan telah lebur, atau hilang, tak ada yang super power dan yang harus lebih diakui dalam hal ini.

Tetapi, masalahnya kemudian adalah, masih adanya orang-orang bebal. Di Palu, orang-orang seperti ini disebut "nambongo", tidak mau mendengarkan saran maupun arahan. Demikian kerjasama menjadi terhambat jika sifat seperti itu tidak segera dihilangkan.

Mulai dari saat pertama corona masih melanda Wuhan, kebebalan itu berada di pemerintah kita. Dengan entengnya menteri kesehatan bercanda, negara kita katanya tidak bakal kemasukan corona, iklim kita tropis, kita punya banyak herbal semisal kunyit, temulawak, jahe dan sejenisnya, semuanya jika dikonsumsi bisa menangkal virus.

Semuanya jadi terlambat, Indonesia jebol juga, gugurlah tesis menteri kesehatan kita itu. Giliran selanjutnya, kebebalan itu pindah ke masyarakat kita. Berdasarkan apa yang dialami oleh Iran, serta negara-negara Islam lainnya, maka salat jumatpun ditiadakan, digantikan dengan instruksi salat zuhur di rumah saja. Demikian pula otoritas kesehatan dan pemerintah mengimbau cukup di rumah saja.

Tetapi apa? Kebebalan itu dibungkus dengan klaim kepatuhan kepada Tuhan. Katanya, "Takutlah kepada Allah, jangan takut corona", bahkan berujung pada protes kepada MUI. Kebebalan juga dibungkus dengan sikap cuek, masyarakat tetap saja berkumpul, menyelenggarakan pesta perkawinan. Praktis di suatu daerah, beberapa positif corona usai pulang dari kondangan.

Kebebalan itu pula dibungkus dengan ketidakpercayaan terhadap petugas medis. Di Kolaka, ada satu keluarga mengambil paksa jenazah, yang sewaktu masih hidup berstatus PDP untuk dibawa pulang, lalu diurusi layaknya manusia lain yang tak terduga corona. Lalu pengurusan jenazah dihadiri banyak orang. Semoga hasil tesnya kemudian tidak positif, lantas orang-orang yang hadir tidak pula terjangkiti.

Keluarga itu perlu tahu, di saat darurat wabah seperti ini, petugas medis punya prosedur sendiri. Dus bukannya tak menghormati jenazah dan perasaan keluarga yang ditinggalkan, tetapi lebih kepada upaya penyelamatan kepada banyak orang.

Di daerah lain, petugas kesehatan disuruh meninggalkan kediamannya (diusir) sehabis pulang bertugas merawat pasien corona. Lha, dia itu petugas medis, dia tahu membersihkan diri sebelum pulang untuk menyentuh lingkungan dan juga keluarganya. Lagipula, kalaupun takut terjangkit virus, cukup jauhi saja si petugas kita itu, jangan diusir dong.

Bingung juga bagaimana mau menghadapi orang-orang bebal semacam itu. Jangankan kita yang hanya siapa ini, para ahlipun tak dipercayai. Sementara di dalam Kitab Shahih Bukhari, hadis Nabi Muhammad saw. mengatakan, "Apabila suatu perkara diserahkan (dipercayakan) kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya".

Para bebal itu bukanlah ahli agama, ahli kesehatan atau ahli ilmu pengetahuan, apalagi pemegang otoritas. Dus tak perlu mendengarkan dan mengikuti mereka. Meski tak jarang mereka menggunakan pendekatan yang sentimentil menyentuh hati, supaya orang-orang yakin.

Tetapi bukan berarti kita menyerah begitu saja untuk para bebal. Tetap saja harus terus melakukan kampanye kebaikan dan mencontohkannya. Tugas kita adalah memaksimalkan usaha, bukan memastikan hasil. Jika masih ada sesuatu yang mengganjal, maka bertanyalah pada ahlinya.

Sementara, cukup di rumah saja, hingga kondisi nomal kembali. Covid 19 pasti berlalu.