Freelancer
3 minggu lalu · 1364 view · 3 menit baca · Politik 99567_14923.jpg
detikNews

Sulitnya Melumpuhkan Prabowo

Dalam pertarungan politik yang sudah kita laksanakan kemarin dan sampai setelah pengumuman resmi oleh KPU, kita dapat mengatakan bahwa Prabowo sulit untuk dilumpuhkan. Dalam hal ini, maksudnya adalah Prabowo sulit untuk dikalahkan maupun dijatuhkan.

Hal itu dapat kita lihat bagaimana perjuangannya dan kawan-kawan menghadapi kontestasi pemilu yang cukup padat sampai sekarang ini. 

Belum lagi, anggota tim pemenangan banyak juga terlibat kasus hukum seperti Eggi Sudjana, Permadi, dan Lieus Sungkarisma yang hingga saat ini masih ditahan oleh polisi. Meski begitu, Prabowo dan tim belum menyerah.

Mereka masih melawan yang katanya ketidakadilan bagi mereka. Perlawanan itu berlanjut hingga sampai Mahkamah Konstitusi yang kemarin gugatannya baru diajukan.

Melihat kondisi ini, dapat kita katakan begitu kuat pertahanan tim Prabowo. Bahkan, mereka berani menolak hasil rekapitulasi, berdemonstrasi yang mengakibatkan kerusuhan, sampai akhirnya menggugat ke MK. 

Terlihat mereka terus melawan dan menjaga kesolidan, meski beberapa partai sudah sedikit melirik ke kubu TKN Jokowi-Amin, seperti Partai Demokrat.

Berjuang habis-habisan

Untuk mencari keadilan versi kubu Prabowo, mereka harus habis-habisan sampai titik darah penghabisan untuk mencapai keadilan tersebut.


Lihatlah, upaya hukum dilakukan sampai tindakan inkonstitusional pun dilakukan, seperti people power, tetapi tidak terjadi. Yang terjadi adalah kerusuhan yang membuat korban nyawa, bukan aksi makar menduduki parlemen atau lembaga negara lainnya.

Bagaikan pahlawan yang melawan penjajah kubu Prabowo-Sandi ini kita lihat. Mari kita lihat sejarah bagaimana kita ketahui bahwa perjuangan pahlawan negara mencapai sebuah kemerdekaan.

Pahlawan kita bertarung habis-habisan, meski harus gugur di medan perang. Adanya kekerasan, kerja paksa, dan sampai pembunuhan. Itu memang dialami para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan. Hingga pada akhirnya kita merdeka di tanggal 17 Agustus 1945.

Kalau dikaitkan dengan perjuangan tim Prabowo-Sandi, maka hampir mirip-mirip juga. Mereka berjuang mati-matian untuk mencapai keadilan karena dugaan adanya kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) menurut mereka.

Meski berbagai pihak tidak percaya seratus persen mengenai apa yang mereka katakan. Opini yang mereka bangun, di mana ada kecurangan TSM tidak dipercayai masyarakat seluruhnya.

Kemungkinan besar hanya dipercaya oleh pendukung, relawan, dan tim mereka saja. Apa pun itu, tetapi patut kita apresiasi perjuangan yang tiada habisnya mereka lakukan.

Memainkan narasi kecurangan, aksi demonstrasi juga sudah, meski sangat mengecewakan karena adanya kerusuhan. Upaya hukum ke MK sedang dilakukan, hingga tak tahu lagi upaya apa yang akan mereka lakukan jika seandainya kalah di MK.

Mungkin mereka akan terus berjuang sampai mencapai keadilan yang mereka inginkan. Atau sampai Prabowo-Sandi menang, padahal sebenarnya kalah karena minimnya dukungan kepada mereka.

Demi kekuasaan

Sulitnya melumpuhkan Prabowo-Sandi dikarenakan adanya hasrat dan ambisi untuk berkuasa. Mengatakan narasi kecurangan TSM, demokrasi yang buruk selama ini, sampai memainkan demonstrasi adalah bentuk hasrat ingin berkuasa. Namanya orang berhasrat, tentu dia akan memperjuangkan segala cara untuk dapat mencapai cita-cita itu.

Kita kembalikan saja pada diri kita masing-masing. Kita semua tentu punya cita-cita yang ingin digapai. Kita akan terus berjuang dengan belajar sampai mengikuti bimbingan khusus untuk mencapainya. 

Habis-habisan berjuang, meski akhirnya harus gagal. Tapi akan mencoba lagi di tahun-tahun berikutnya, jika saat ini gagal. Pokoknya berjuang tanpa henti.

Begitu juga dengan Prabowo-Sandi yang berjuang untuk menang, meski harus memainkan berbagai cara. Tidak ada kata menyerah, harus berjuang sampai titik darah penghabisan. Cita-cita Prabowo-Sandi yang saya lihat adalah agar mereka berkuasa.

Narasi yang dibangun untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh bangsa, tetapi cara yang dipakai tidak etis. Perjuangan mereka malah membuat persatuan kita retak. Awalnya mau demonstrasi damai, tetapi ada “penumpang gelap” yang menduduki aksi bahkan sampai ricuh.


Ini yang sangat disayangkan sekali. Hasrat dan ambisi bersatu padu bagaimana agar bisa memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Keinginan kuat mendorong segala upaya dilakukan. Hingga timbul pertanyaan, bagaimana kalau seandainya di MK Prabowo-Sandi kalah? Apa yang akan mereka lakukan lagi?

Pertanyaan itu akan terjawab setelah keluarnya putusan MK. Kita akan melihat narasi apa lagi yang mereka bangun nantinya. Bisa jadi ada narasi baru yang dibangun, sehingga masalah pemilu ini tidak selesai-selesai. 

Ada juga dugaan Prabowo-Sandi tak akan mengucapkan selamat kepada pemenang pemilu hasil kedaulatan rakyat dan tetap mencari cara untuk dapat berkuasa.

Saya berpikiran seperti itu. Akan ada narasi baru yang diambil, yang dapat mengguncang emosi kita. Hasrat berkuasa itu tak dapat dimusnahkan dalam hati dan pikiran capres Prabowo dan tim, sehingga kita ribut dengan narasi yang tidak sedap. Pikiran kita menjadi terganggu dan bisa-bisa aktivitas kembali terganggu.

Saya cuma berpesan, hentikan narasi busuk setelah putusan MK dibacakan. Jika harus kalah, ya terima saja kekalahan. Sambut pemimpin terpilih dengan lapang dada. Jika Prabowo dilumpuhkan dengan cara yang demokratis, maka terima saja.

Artikel Terkait