Siapa yang tidak mau sukses? Sepertinya tidak seorang pun yang tidak ingin sukses. Sukses bisa jadi impian dan tujuan hidup seseorang, misalnya: karir, rumah tangga, pendidikan, usaha, dan sebagainya. Setiap orang memiliki impiannya masing-masing, sehingga mereka akan selalu berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Seseorang bisa dikatakan sukses ketika ia telah berhasil meraih mimpi-mimpinya tersebut.

Setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing terkait sukses. Ada yang beranggapan bahwa seseorang bisa sukses karena memiliki bakat-bakat tertentu yang melekat pada dirinya. Sehingga ia tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam mencapai kesuksesan, karena sudah memiliki kemampuan yang mumpuni.

Ada juga yang mengatakan bahwa sukses bukan karena bakat, tetapi hanya dapat diperoleh jika seseorang bekerja keras. Pendapat ini sejalan dengan kata-kata bijak yang mengatakan “bekerjalah 2/3 kali lebih banyak dari orang lain, karena usaha tidak pernah membohongi hasil. Ada juga yang berpendapat bahwa sukses merupakan sebuah keberuntungan yang hanya memerlukan sedikit usaha.

Pendapat-pendapat tersebut ada benarnya, karena seseorang dapat meraih sukses jika ia berbakat, seseorang bisa sukses jika ia mau bekerja keras, dan seseorang bisa memperoleh kesuksesan apabila ia memperoleh keberuntungan. Tetapi, jangan lantas ditelan mentah-mentah, karena kenyataannya tidak selamanya seperti itu. Coba pahami dulu dari sudut pandang yang berbeda.

Banyak juga orang-orang yang berbakat tetapi tidak sukses, tidak sedikit orang-orang yang sudah bekerja keras bahkan siang dan malam tetapi hidupnya belum berubah, dan banyak juga orang-orang yang memiliki keberuntungan sedari kecil, misalnya terlahir dari keluarga orang yang berpunya tetapi tidak sukses di masa depannya.

Sukses adalah tentang membangun mindset. Mindset atau pola pikir yang benar tentang sukses akan mempengaruhi pola perilaku dan mental yang positif, misalnya: tidak mudah menyerah atau pasrah dengan keadaan, memiliki daya juang yang tinggi, fokus pada tujuan, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Jika mindset ini dibangun dengan benar, maka dapat mendorong seseorang untuk memaksimalkan bakat yang dimilikinya, mengoptimalkan kerja kerasnya dan mendekatkannya pada keberuntungan.

Pertama, sukses berkaitan erat dengan bakat. Selama ini, pemikiran kita dikerucutkan dengan penjelasan-penjelasan mengenai bakat, seperti pendapat yang mengatakan seseorang dikatakan berbakat jika ia memiliki keahlian fisik yang secara alami dapat terlihat, contohnya: pandai bernyanyi, ahli bermain bola, jago sains dan matematika, dan mahir memainkan alat musik.

Pemikiran yang seperti ini, akan melahirkan stigma bahwa orang-orang yang berbakat adalah mereka yang memiliki kemampuan seperti contoh di atas. Sedangkan mereka yang tidak memilikinya adalah orang-orang yang tidak memiliki bakat. Dengan demikian, akan terbangun mindset yang sangat jauh berbeda antara orang-orang yang berbakat dengan yang tidak berbakat.

Mereka yang berbakat akan memiliki dorongan yang besar untuk terus berusaha karena merasa memiliki kemampuan, sedangkan mereka yang dicap tidak berbakat tidak memiliki dorongan yang kuat untuk meraih sukses. Mereka pasrah dengan keadaan begitu saja dan tidak berusaha memaksimalkan kemampuannya.

Padahal kita meyakini bahwa Allah SWT menciptakan manusia seutuhnya berikut dengan potensi kemampuan masing-masing. Ingat, kemampuan, bukan ketidakmampuan. Artinya, setiap manusia pasti memiliki kemampuan atau bakat. Di mana bakat itu bersifat unik dan tidak sama satu dengan yang lainnya. Jadi, kita tidak perlu membanding-bandingkan kemampuan, tugas yang terpenting adalah menemukan bakat-bakat terpendam yang sudah tersemat di dalam diri kita.

Kedua, sukses membutuhkan kerja keras. Betul, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi harus disertai kerja keras. Bakat adalah modalitasnya sedangkan kerja keras adalah jembatannya. Misalnya, seseorang telah memahami jika bakat-bakatnya sesuai dengan bidang tertentu, tetapi ia tidak berusaha untuk mewujudkannya, maka sia-sia saja ia memiliki segudang kemampuan karena tidak akan berkontribusi besar dalam kehidupannya.

Sebaliknya, seseorang berusaha sekuat tenaga agar ia dapat berhasil mewujudkan impiannya tanpa memahami bakat-bakat yang dibutuhkan usahanya tersebut, maka ia akan banyak mengorbankan sumber daya dalam dirinya baik berkaitan dengan waktu, pikiran, tenaga maupun harta benda. Ia tidak dapat memfokuskan diri terhadap tujuan dan mudah teralihkan di setiap keadaan.

Setiap orang pasti akan menemui jalan yang berliku dan penuh ketidakpastian dalam usahanya. Orang-orang yang memahami kemampuan dirinya akan dapat bertahan dan tetap fokus di berbagai situasi dan kondisi karena ia memiliki keyakinan yang besar bahwa usahanya akan berhasil, ia mampu menikmati proses dan kerja kerasnya. Sedangkan mereka yang tidak memahami bakatnya, mereka tidak merasakan nikmatnya proses dan kerja keras yang mereka lakukan.  

Ketiga, sukses adalah keberuntungan. Keberuntungan adalah kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Keberuntungan bisa diperoleh begitu saja tanpa usaha, dan bisa jadi karena adanya ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Keberuntungan merupakan hak prerogatif Allah SWT yang bersifat rahasia, tidak diketahui oleh siapapun, kepada siapa dan kapan akan diberikan-Nya.

Langkah yang paling penting untuk kita lakukan saat ini adalah bukan menunggu keberuntungan itu datang, tetapi berusaha dengan maksimal dan sepenuh hati disertai doa sebagai pengakuan atas segala kekurangan dan kelemahan diri. Berusaha dan berdoa yang kita lakukan akan lebih mendekatkan kita kepada keberuntungan.

Sukses tidak bisa diraih jika kita hanya mengandalkan bakat atau kerja keras atau keberuntungan saja. Tetapi sukses hanya dapat diraih dengan memadukan ketiganya. Gali dan pahami kemampuan atau bakat, kemudian selaraskan dengan kerja keras, dan terakhir berdoa kepada Allah SWT agar memperoleh keberuntungan.