Researcher
11 bulan lalu · 604 view · 3 menit baca · Filsafat 38819_39578.jpg
www.absolutearts.com

Sukmawati dan Sebuah Puisi

Ibu Indonesia dan Kritik Kebudayaan

Puisi ciptaan Sukmawati Soekarno yang dibawakannya dalam acara Indonesia Fashion Week 2018 banyak menuai beragam komentar, bahkan tak lekang dari kritik dan hujatan. Puisi itu berjudul “Ibu Indonesia”, sebuah puisi yang memuat kritik kebudayaan dimana warisan tradisi dan budaya bangsa Indonesia kini semakin pudar bahkan asing di mata masyarakat Indonesia sendiri.

Yang disasar dalam puisinya ialah proses “Arabisasi” yang gencar dilakukan akhir-akhir ini. Kata-kata yang banyak dimaknai sebagai simbol keagaman yang termaktub dalam puisi Sukmawati seperti cadar, dan alunan adzan sejatinya adalah metofora dari proses arabisasi yang sedang berjalan yang vis a vis dengan budaya lokal yang diungkapnya dalam wujud konde, kidung hingga tari. Dengan kata lain, cadar dan alunan adzan dalam puisi Sukmawati bukanlah hadir sebagai simbol keagaman melainkan hadir sebagai produk kebudayaan, sebagai proses arabisasi dalam konteks kebudayaan.

Bahkan lebih jauh, puisi tersebut juga bisa bermakna sebuah bentuk keresahan sang penyair akan proses arabisasi yang kerapkali berkedok purifikasi agama, yang berusaha menjadikan agama menjadi satu-seragam yang berpotensi membuat generasi muda Indonesia saat ini kehilangan identitas bangsanya karena melupakan akar budayanya. Padahal apa yang disebut identitas adalah sepenuhnya merupakan konstruksi sosial dan tidak mungkin eksis di luar representasi budaya. Karena identitas diri seseorang atau sebuah bangsa adalah bagian dari produk kebudayaan. Sehingga ketika budaya dan tradisi itu pudar maka identitas pun terancam bias.

Sehingga kritik dalam puisi Sukmawati bukanlah kritik teologis, melainkan kritik kebudayaan, yang jika kita tempatkan dalam konteks ruangnya sesuai dengan tema dalam Indonesia Fashion Week 2018 yakni Cultural Identity. Lebih tepatnya, puisi tersebut adalah upaya mengingatkan kembali pada rahim yang melahirkan kita, pada tempat dimana kita dilahirkan, pada bumi dimana kita berpijak, yakni Indonesia. Puisi tersebut adalah bentuk pengingat pada warisan tradisi dan budaya luhur bangsa kita, yang menjadi sumber identitas dan kepribadian bangsa, yang tak boleh kita tinggalkan.

Dan keresahan semacam ini bukanlah hal yang baru. Mangkunegara IV dalam karyanya; Serat Wedhatama mengungkapkan hal yang sama. Dalam bait-bait Wedhatama, ia mengungkapkan:

Durung pecus

Kesusu keselak besus

Amaknani rapal

Kaya sayid weton Mesir

Pendhak-pendhak angendhak gunaning janma

Pada masa itu dengan masygul ia saksikan anak-anak muda memamerkan keislaman mereka dengan pongah: mengunggulkan diri dengan menghafal ayat (mundhi dhiri rapal makna). Dengan pengetahuan yang terbatas, tapi tak sabar untuk memperlihatkan keunggulan diri, mereka tafsirkan ayat dengan sikap seperti "sayid dari Mesir". Lalu ia dengan mudah menilai orang.

Sikap beragama semacam inilah yang merisaukan sang penyair Wedhatama. Ia cemas ketika Islam jadi identitas yang dikibar-kibarkan generasi baru, yang dapat mengancam dasar-dasar kearifan dan budaya yang berlaku di lingkungannya. Sikap semacam ini tak menandakan bahwa sang penyair tak beragama atau tak mengenal Tuhan. Dalam diri penyair, agama adalah penghayatan. Iman tumbuh dalam dunia yang ia terima dengan akrab, bukan datang dari luar. Maka ia kritik mereka yang memiliki sebuah sikap yang "paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah", memaksakan diri mengambil pengetahuan di Mekah.

Wedhatama adalah ungkapan bahwa sang penyair merasakan agama dengan isyarat dari Tuhan di mana-mana, tanpa penghalang (tan pangaling-aling). Artinya, di sanalah tumbuh sesuatu yang universal, yang melebihi rumusan ajaran. Sehingga bait-bait daslam Wedhatama justru sebagai bentuk pengharapan religius yang sedang terancam oleh gelombang politik kebudayaan yang berkedok purifikasi agama.

Keresahan akan Arabisasi juga pernah diungkapkan oleh Gus Dur, yang ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Dalam buku ini, Gus Dur mengkritik adanya upaya penyamaan antara Arabisasi yang disamakan dengan Islamisasi. Disini posisi Gus Dur sama dengan Imam Ghazali yang membuat garis demarkasi secara tegas antara mana yang “Arabis” dan mana yang “Islamis”. Dalam proses Arabisasi ini, Gus Dur menemukan bentuk “inferiority complex” dalam diri umat islam. Seolah-olah Islam akan kalah dari peradaban Barat yang sekuler, jika segala sesuatunya tidak berbau Arab atau Timur Tengah.

Menurut Gus Dur, sejatinya Arabisasi adalah bentuk ketidakmampuan untuk mengatasi masalah-masalah hidup, sebuah kompensasi dari rasa kurang percaya diri terhadap kemampuan bertahan dalam menghadapi kemajuan Barat. Bentuk mensubordinasikan diri ke dalam konstruk Arabisasi yang diyakini sebagai langkah ke arah Islamisasi. Maka yang muncul seringkali anti terhadap segala sesuatu yang bukan Arab, yang bukan Timur Tengah. Segala sesuatu yang bukan Arab dan bukan Timur Tengah, dengan mudah dimaknai bukan Islam.

Dari sinilah Gus Dur menawarkan konsep “Pribumisasi Islam”, yakni bagaimana Islam sebagai ajaran normatif yang berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya. Mungkin ini pula yang hendak diungkapkan oleh Sukmawati dalam puisinya. Ia resah dengan proses Arabisasi, dan resah dengan generasi muda yang semakin asing dengan budaya bangsanya. Mungkin ia ingin mengungkapkan bagaimana ajaran agama tak melupakan budaya bangsa, hanya mungkin keresahan itu diucapkan dengan cara dan pada momen politik yang berbeda dengan Gus Dur dan Wedhatama.