Ketika memasuki tahun pertama di sekolah pascasarjana, saya diminta oleh pihak Senat Mahasiswa Ushuluddin untuk mengadakan bimbingan belajar tentang Ilmu Mantik (Ilmu Logika); satu mata kuliah yang dalam pandangan anak baru cukup terbilang sulit. 

Yang dimintai bimbingan, ketika itu, mahasiswi semua. Mahasiwi dengan tingkat kecantikan yang beranekaragam. Tanpa banyak pikir, saya sanggupi permintaan itu. Di samping mengisi waktu luang, pengajaran ilmu ini juga, pikir saya, dapat membantu dalam mematangkan wawasan terkait bidang yang saya tekuni di sekolah pascasarjana.

Sebagai lelaki yang normal, pasti Anda tahu bagaimana rasanya mengajar perempuan. Anda akan berusaha untuk menyuguhkan materi sebaik dan semantap mungkin, sekalipun wawasan Anda masih terbilang pas-pasan. Terus terang, ketika itu, wawasan saya tentang Ilmu Mantik masih terbilang mentah.

 Tapi, karena diminta untuk mengajar perempuan, maka setiap kali mau mengajar saya berusaha semaksimal mungkin untuk memantapkan penguasaan saya terhadap materi yang akan disampaikan dalam setiap pertemuan.

Perasaan semacam ini mungkin tidak akan saya temukan ketika saya diminta untuk mengajar laki-laki. Tapi itulah hikmahnya. Tawaran itu telah mendorong saya untuk memahami ilmu ini secara lebih serius. Sebab, kalau tidak, saya bisa malu. Soalnya depan cewek! 

Perlahan namun pasti, seiring dengan aktivitas pengajaran yang berkelanjutan, pintu-pintu pemahaman mulai terbuka lebar. Sejak saat itu juga saya berkesimpulan bahwa mengajar adalah salah satu metode terbaik dalam belajar.

Di samping mengajar di dalam ruangan, saya juga berusaha untuk mendokumentasikan hasil pengajaran itu kedalam berbagai tulisan. Setiap materi yang telah saya ajarkan, saya tuliskan ulang. Dan saya minta mereka untuk membaca tulisan-tulisan itu, baik sebelum maupun setelah saya masuk. 

Tulisan pertama saya, ketika itu, berjudul: Mengapa Kita Perlu Belajar Ilmu Mantik? Dan, di luar dugaan, tulisan ini dibaca oleh ribuan orang. Tulisan-tulisan selanjutnya juga lumayan banyak. Beberapa kali saya dihubungi oleh pembaca yang mengapresisasi tulisan-tulisan itu.

Dari mulai ustad, dosen, mahasiswa, santri, bahkan terakhir kali saya sempat dihubungi oleh salah seorang pegawai BUMN. Saya pikir, mungkin ini pertanda baik. Diakui atau tidak, sanjungan dan apresiasi dari pembaca itu sering memberikan motivasi khusus. Saya jadi lebih semangat lagi dalam menulis. 

Dan akhirnya, tulisan-tulisan yang saya muat secara berkala di website qureta itu saya koreksi ulang, saya lengkapi dengan tulisan-tulisan yang lain, saya sertakan referensi-referensi ilmiah, dan akhirnya jadilah buku tebal, seperti yang dicetak oleh Penerbit Keira sekarang.

Setelah jadi buku utuh, saya ajukan naskah itu ke salah satu penerbit di Mesir, yang cukup akrab dengan mahasiswa-mahasiswa asing. Penerbit Darusshalih. “Saya tidak paham bahasa kalian. Naskahnya mau saya serahkan dulu kepada seorang ahli untuk diteliti. Kalau dia setuju, akan kita cetak.” Begitu jawaban ustad Taufiq, pemilik Darusshaleh, ketika saya ajukan tawaran itu. 

Setelah dicetak, buku itu terjual laris. “Terjual dalam setahun saja”, kata beliau, “sudah bagus. Sementara ini kurang dari dua bulan. Ini buku terlaris dari sekian buku yang pernah saya jual.” Itulah kata-kata beliau yang masih saya ingat sampai sekarang.

Betapa terharunya saya ketika itu. Untuk pertama kalinya, setelah buku terjual, saya mendapatkan royalti dari apa yang saya tulis. Uang royaltinya, ketika itu, saya gunakan untuk membeli laptop. Sebab, selama ini, saya lebih banyak menulis dengan menggunakan komputer salah seorang teman. 

Kadang, di sela-sela memakai, ada perasaan tidak enak. Tapi, apa mau dikata. Memang begitulah keadaannya. Setelah mendapatkan laptop (sekalipun second), saya sangat gembira. Karena setelah itu saya bisa berkarya dengan alat tulis hasil jerih payah saya sendiri.   

Saya kirim dua naskah buku itu ke Indonesia. Pertama, ke kiai saya yang ada di Babus Salam. Dua, ke ibu saya yang berdomisil di kota Tangerang. Bersamaan dengan buku, saya mengirim surat ke pak kiai. Tak disangka, surat itu, berdasarkan penuturan salah seorang teman, ditempel di halaman pondok. Dibaca oleh santri-santri. 

Dan saya bahagia bukan main ketika mendengar kabar itu. Ketika pulang ke Indonesia, saya berkunjung ke pondok. Dan benar. Saya melihat surat itu di majalah dinding pondok. Sulit dibayangkan, seperti apa bahagianya saya waktu itu. Apalagi ketika mendengar buku saya dibawa-bawa oleh pak kiai, sambil ditunjukkan kepada guru-guru.

Ibu saya juga menangis ketika buku itu sampai ke tangan beliau. Maklum, selama enam tahun lebih saya tidak pernah sekalipun pulang kerumah. Namun, meski jasad tak kunjung pulang, karya tak menolak untuk hadir dan datang. Dan dengan karya sederhana itu, paling tidak, saya sudah membuat ibu saya bangga dan bahagia. 

Cetakan kedua, ketiga, saya mendapatkan royalti lagi. Sebagian royalti dari cetakan kedua saya serahkan kepada ibu saya. Sementara royalti dari cetakan ketiga, saya gunakan sedikit-sedikit untuk menambah biaya pernikahan.

Tahu kalau di Mesir mendapat sambutan yang baik, saya tawarkanlah naksah itu ke penerbit Keira. Meski buku ini berukuran tebal, dengan tema yang kurang populer di kalangan masyarakat awam, saya coba meyakinkan mas Yusuf Arbi (direktur Keira) ketika itu bahwa buku ini dikemas dengan bahasa yang mudah dengan contoh-contoh yang sederhana dan lekat dengan kehidupan anak muda. 

Setelah negosiasi, penerbitan buku ini pun akhirnya disepakati. Dan lahirlah seperti yang Anda lihat sekarang ini. Buku ini adalah karya pertama yang mengawali perjalanan intelektual saya, yang saya harap bisa diikuti oleh karya-karya intelektual selanjutnya. Di balik jumlah halamannya yang tebal, penulisan buku ini menyimpan sejumlah kisah memilukan yang sampai sekarang masih terekam dalam ingatan. 

Ada yang bisa saya ceritakan, ada yang tidak. Saya, misalnya, pernah tidak keluar rumah selama berhari-hari. Menulis dari pagi sampai malam. Berhenti hanya untuk salat, makan, pergi ke warung, dan istirahat-istirahat ringan. Sangat melelahkan.

Dari situ saya mulai sadar. Ternyata, menulis sebuah karya ilmiah yang serius itu bukanlah perkara mudah. Tapi justru dengan kelelahan itu saya mulai merasakan nikmatnya menulis. Menggaruk itu kadang menyakitkan. Tapi enak. Menulis juga begitu. Kadang terasa susah, tapi nikmat. 

Ya, saya benar-benar merasakan nikmatnya menulis setelah merampungkan penulisan buku ini. Sampai sekarang, saya merasa, kalau menulis sudah menjadi bagian dari oksigen kehidupan saya.

Alhamdulillah, kalau sekarang Anda bertanya kepada saya, kenapa saya rajin menulis, jawabannya, saya menulis karena kebutuhan, bukan karena paksaan apalagi tekanan. Sama halnya seperti minum dan makan. Sehari terlewat, pasti ada yang terasa kurang. Kecanduan tak selalu berkaitan dengan hal-hal negatif, tapi kecanduan juga bisa terlahir dari kegiatan-kegiatan yang bernilai positif. 

Selama dilakukan secara berkelanjutan, kegiatan positif seperti membaca dan menulis juga bisa jadi kecanduan. Paling tidak, saya sudah merasakan itu. Bagaimana dengan Anda? Tidakkah Anda tertarik untuk merasakan kecanduan serupa?