"Nak kamu kok main hp terus, kok tidak belajar itu bagaimana? Mau jadi apa?"

"Kamu tidak ingin seperti anaknya Bu Retno itu apa? bisa mengikuti olimpiade, dapat banyak piagam, aktif organisasi sana sini, jadi anak yang berprestasi dan bisa membanggakan orang tua"

Begitulah rata-rata celotehan orang tua yang kerap sekali kita dengar.

Apalagi ketika kita tengah bermain hp, pasti tak jarang orang tua kita itu sering membanding-bandingkan kita dengan anak orang lain atau anak tetangga kita .


Bahkan bisa dikatakan bahwa 9 dari 10 orang tua yang ada di Indonesia itu, suka membanding-bandingkan kemampuan anaknya sendiri dengan kemampuan anak lain.

Mengapa begitu? kok bisa orang tua kita membandingkan kita dengan anak orang lain?

Padahal setiap anak itu pasti dikaruniai kelebihan dan keahlian masing-masing.

Namun, terkadang orang tua kita itu tak menyadari kelebihan yang dimiliki anaknya sendiri dan justru lebih fokus dan bangga terhadap prestasi yang dimiliki oleh anak orang lain.

Nah, jadi hampir sebagian besar anak-anak di Indonesia itu, sering sekali dibanding-bandingkan bahkan direndahkan oleh orangtuanya sendiri.

Saya sendiri pun juga tak lepas dari situasi seperti ini, apalagi ketika orang tua saya melihat saya sibuk bermain hp.

“Mbak, kok main hp terus dari tadi, kamu itu lo yang rajin belajarnya. Apa beres-beres sana membantu Ibuk."

"Seharusnya kamu itu mencontoh anaknya Bu Rini itu, sudah pintar, cantik, rajin, disiplin, banyak menjuarai lomba-lomba, dan sekarang kuliahnya di UGM pula."

"Pokoknya ya pinter, beda jauh dibandingkan dengan kamu yang suka malas-malasan dan suka main hp terus. Toh, kamu ini apa tak pingin masa depan yang gemilang nantinya?"

Kurang lebih seperti itulah kata-kata yang sering dilontarkan oleh ibu saya sendiri, padahal ketika kita dibanding-bandingkan dengan orang lain itu pasti rasanya sangat menyakitkan hati dan perasaan kita.

Bahkan bisa menjadi beban pikiran yang sangat berat untuk kita .

Jikalau hal ini terus-menerus dilakukan oleh para orang tua, tentunya hal ini akan berdampak pada kondisi mental dan psikis anaknya sendiri.

Dikarenakan ketika orang tua membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain itu dapat membuat anak terkadang merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk membanggakan orangtuanya.

Bahkan bisa membuat mereka merasa stres karena sering dibanding-bandingkan dengan anak lain.

Ya mungkin sebenarnya orang tua kita bermaksud baik , ingin memberikan motivasi dan nasihat kepada kita.

Supaya kelak anaknya itu bisa menjadi lebih baik ke depannya dan dapat membanggakan kedua orang tuanya.

Namun, bila hal tersebut terus-menerus dilakukan kepada anak, ditambah dengan luapan emosi, sudah pasti hal ini dapat membuat mental anak menjadi down dan membuat mereka patah semangat.

Selain itupun merasa juga akan merasa bahwa dirinya sudah tak akan mungkin berguna lagi untuk keluarganya.

Bila dari pengalaman saya pribadi, saya merasakan banyak hal buruk pada diri saya, ketika orang tua saya mebanding-bandingkan saya dengan teman sebaya saya.

Saat itu teman saya mendapat peringkat lebih baik dari saya, tetapi waktu itu memang baru pertama kalinya saya mendapat peringkat di bawahnya, karena biasanya peringkat saya selalu lebih baik.

Nah, pada saat itulah orang tua saya mulai aktif membanding-bandingkan saya dengan teman saya itu.

Bahkan hampir setiap menit dan setiap detik, orang tua saya selalu menyanjung teman saya untuk menjelek-jelekkan saya dan merendahkan saya.

Hingga kadang-kadang saya merasa muak dan kesal dengan orang tua saya sendiri, karena hampir tak ada hentinya mereka itu selalu menjelek-jelekkan dan menganggap remeh kemampuan saya.

Bahkan bila berkumpul dengan tetangga pun saya juga selalu dijelek-jelekkan.

Namun, bagaimanapun juga setiap anak pasti tak akan mau jika dia dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Jadi, semakin sering dibanding-bandingkan dengan anak lain, maka akan semakin besar pula rasa kebencian anak terhadap orangtuanya maupun pada teman yang dibandingkan dengannya.

Jika hal ini terus dibiarkan, anak bisa saja akan melakukan suatu hal yang buruk pada dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain menimbulkan rasa benci pada seseorang, secara perlahan hal ini akan membuat pikiran anak penuh dengan pikiran negatif.


Hal negatif yang dimaksudkan di sini ialah misalnya anak cenderung merasa takut untuk melakukan suatu hal. Mereka akan takut gagal, takut dibandingkan, dipandang rendah dan semacamnya.

Membandingkan anak sama saja dengan memberikan memasukkan aura negatif ke dalam pikirannya sehingga mereka tidak bisa menerima tantangan serta tugas baru yang positif.

Ada satu hal yang harus disadari dari kebiasaan membandingkan anak. Hubungan orang tua dan anak akan merenggang, di sinilah akan muncul jarak yang membuat anak dan orang tua semakin sulit untuk berkomunikasi.

Konflik akan selalu muncul, dan masalah yang sama akan sulit terselesaikan.

Kualitas hubungan orang tua dan anak pun jadi semakin menurun. Rumah tak akan lagi terasa menyenangkan bagi anak dan dia cenderung menutup diri untuk berkomunikasi.

Selain itu, anak akan berkembang menjadi pribadi yang mudah gelisah. Jadi apapun yang dilakukan anak akan menjadi masalah besar baginya. Hal ini akan membuatnya sulit berkembang.

Saat memiliki rencana ke depan, level kegelisahan akan membuatnya semakin takut.

Takut di sini ialah takut dibandingkan, takut disalahkan, dan takut akan kegagalan, serta sikap orang tua yang selalu membandingkannya akan selalu menghantuinya.

Nah, dari hal tersebut saya sendiri pun belum bisa mengatasi nya, karena pandangan orang tua dengan anaknya pasti akan selalu berbeda dan bertentangan.

Ya mungkin, orang tua kita berkeinginan agar kita menjadi anak yang pandai, berprestasi, dan dapat membanggakan kedua orangtuanya seperti anak-anak lain.

Namun, jika cara untuk menasihati anak adalah dengan membanding-bandingkannya dengan anak lain, hal ini tentunya sangat tidak baik dilakukan dan kelak dapat berdampak buruk bagi anak kedepannya.