“Lebay!”; “alay!”; “ilpil!”; “muak!”; “tukang drama!”cibir netijen mahabacot di hampir seluruh medsos yang dialamatkan kepada walikota Surabaya, Tri Risma Harini. Apa pasal? Emak e Suroboyo ini sudah terlalu sering beradegan ngamuk-ngamuk, pake sujud segala di depan forum yang terekam oleh media.

Memang iya sih, setidaknya tiga kali Bu Risma beradegan ujug-ujug sujud yang bikin gatel mulut orang buat nyinyir. Jujur, saya pun salah satunya.

Sebagai penonton yang gak ngapa-ngapain, mudah saja kita eh saya ngomentarin kelakuan siapa atau apa aja. Yaiyalah! Gampang banget, gratis kok, gak perlu bayar. Saya jadi ingat curhatan Yumna anak didik saya beberapa waktu yang lalu saat dia masih SD.

Yumna disuruh gurunya untuk nyapu kelasnya karena kelas masih kotor. Hari itu adalah giliran piket Yumna. Setelah dirasa bersih, Yumna kembali ke bangkunya.

Tiba-tiba, "Kamu nyapunya gimana sih, Yum, itu pojokan masih kotor, masak cewek gak bisa nyapu!”kata Pak guru sambil nunjuk pojok kelas dekat meja guru.

“Huuuuuuu!” terdengar suara anak-anak lain kompak mencibir hasil kerja Yumna yang dinilai jelek. Walaupun selama ini prestasi akademis Yumna selalu mengungguli teman-teman sekelasnya.

Belum selesai rasa malu dikritik guru di depan teman-temannya, Yumna dapat bonus paduan suara cibiran yang gak ada merdu-merdunya pulak!

Mungkin kejadian di kelas Yumna adalah penggambaran kecil dari yang sebenarnya tengah terjadi di masyarakat kita belakangan ini. Kita terbiasa menilai kekurangan lebih cepat daripada kelebihan. Tak peduli apa pun perolehan orang tersebut sebelumnya. Kita sangat menikmati menyoraki pemain yang bermain payah daripada memberi semangat kepadanya supaya bangkit kembali.

Kembali ke Bu Risma. Tak bisa lagi disangkal blio memang super lebay. Tapi sebagai walikota tugas blio untuk publik itu bukanlah menghindari ke-lebay-an, tugas blio adalah melayani. Selama pelayanannya utuh untuk warga Surabaya, mau lebay, mau jungkir walik yaa terserah!

Kurang lebay apa coba? Gara-gara Bu Risma saya hampir gagal kawin ehm nikah! 9 tahun yang lalu saya harus 3 kali bolak-balik Surabaya-kota asal, karena dokumen pindah berkali-kali ditolak dispenduk Surabaya sebab masih dianggap manual, ketinggalan jaman, gak sesuai standar Surabaya yang saat itu sudah computerized dan internet based. Sampai-sampai carik di desa asal sebal, "Makanya kalo nikah jangan sama orang Surabaya, (administrasinya) ribet!”

Tentu saja saya gak langsung mengiyakan. Karena cinta harus diperjuangkan. Ini prinsip.

Selain sistem administrasi, walikota lulusan S2 manajemen pengembangan kota ITS ini juga lebay kalo bicara masalah taman dan tanaman. Ambisi Bu Risma terlihat di taman-taman kota yang menjamur di seluruh penjuru Surabaya. Bikin kota panas ini sedikit cooling down. Bukan hanya sejuk karena rimbunan pohon, tapi juga menyejukkan isi dompet yang panas karena ingin hiburan atau olah raga tapi tak mampu bayar.

Jadi saat blio muntab, "Sialan, bajingan semua…lihat itu rusak semua!” Orang-orang yang menonton, baik itu panitia ataupun warga yang nggragas es krim limaribuan, cuma bisa melongo, dan buru-buru menyadari, "Oh iya yaa…hehe aku salah.”

Kok gitu?

Semua juga tau Taman Bungkul yang gratis itu bikinnya gak gratis, sis! Pake duit orang banyak. Yang kerja Bu Risma, pas dapat penghargaan sebagai taman terbaik se-Asia yang bangga siapa? Ya warganya. Lho kok yang ngrusak juga warganya. Emang sialan, kan?

Lain lagi cerita bapak mertua (75 th). Beliau yang tidak mengenal email apalagi medsos nekat mengirimkan surat ke Bu Risma karena eneq dengan aliran sungai yang dibendung cukup lama tapi gak kunjung dibangun. Akibatnya, sungai menjadi tempat sampah, berlumpur dan bau.

Tak lama setelah itu, petugas kecamatan datang ke rumah, "Kenapa harus lapor Bu Risma sih, Pak! Kita semua kena semprot ini!" protesnya kepada mertua. Sabodo! Gak lama setelah itu sungai pun beres. Dan daerah langganan banjir tempat tinggal kami mengalami perbaikan.

Pegawai pemkot, kecamatan maupun kelurahan gak bisa lagi boboci alias bobo bobo ciang sekarang karena walikota menyediakan Media Center tempat warga Surabaya boleh mengadukan semua hal yang berkaitan dengan layanan pemerintahan. Ketauan tidur, siap-siap aja lihat sapu sepatu terbang!

Pemimpin kok sensi, baperan! Makanya jangan pilih pemimpin perempuan!

Top birokrat Surabaya yang gak birokratis ini mengakui dirinya sensitif dan mudah marah. Bisa jadi blio termasuk Higly Sensitive Person (HSP).

Istilah HSP ini diperkenalkan oleh Dr. Elaine Aron dalam bukunya The Highly Sensitive Person: How to Thrive When the World Overwhelm You. Dia menyebutkan bahwa HSP adalah kondisi sesorang dengan genetik tertentu yang membuat proses sensoris terhadap bidang tertentu (seni, budaya, politik, lingkungan maupun sosial) menjadi sangat sensitif.

Jangan salah, HSP itu di kalangan pemimpin gak melulu didominasi perempuan lho! Banyak juga di antaranya laki-laki seperti Abraham Lincoln, Gandhi dan Malcolm X terindikasi sebagai HSP. Trus kenapa bisa jadi begitu emosional? Karena tidak semua orang engeh dengan keberadaan suatu masalah yang bagi HSP ini sangat serius, jadi kesannya dia buru-buru take action untuk menyelesaikannya.

Menjadi pemimpin yang HSP seperti Bu Risma bagaikan pisau bermata dua. Satu sisi berupa kekuatan karena blio segera bertindak supaya masalah cepat kelar. Di sisi lain bisa jadi senjata bunuh diri karena tak semua masalah harus diselesaikan dengan cepat dan tidak semua orang di sekitarnya bisa dan senang bekerja cepat.

Terlepas dari itu, sikap emosional Bu Risma yang meledak-ledak, selalu disusul adanya perubahan riil yang bisa dilihat dan dinikmati masyarakatnya secara langsung. Masih ingat adegan sujud ketiga yang diiringi ndlosor Bu Risma pekan lalu? Adegan itu sukses menuai kecaman karena merusak nilai relijies dalam pandangan pihak tertentu.

Tapi yang terjadi setelah itu? Jalan keluar tentunya. Pemkot siap menanggung semua biaya pasien RS Dr. Sutomo yang sudah negatif, supaya makin banyak ruang untuk warga Surabaya yang terinfeksi lainnya dan belum tertangani.

Covid memang menguji ke-lebay-an Bu Risma di akhir masa jabatannya. Cak Malcolm X di alam sana mungkin akan turut mengomentari atraksi melodrama Risma dengan berkata, "Ngamuklah, mba Risma, selama ada yang bisa diubah.” Sementara saya hanya akan berdiri di baris paling depan memberikan tepuk tangan, ketika semua penonton di belakang riuh-rendah menertawakan.