Wayang kulit Jawa termasuk seni tradisional yang masih populer di kalangan masyarakat Jawa.  Selain karena lahir dari tradisi lisan Jawa, juga karena sudah sangat lama sekali menjadi milik bangsa dan diwariskan secara turun-temurun kepada tiap generasi.

Namun keberadaannya kini ibarat telur di ujung tanduk. Eksistensinya berada di area yang mengkhawatirkan karena sikap para generasi muda mengindikasikan sudah mulai menjauhi kesenian tertua di Jawa ini. 

Jika disuruh untuk memilih, mereka akan cenderung lebih memilih hiburan semacam orkes dangdut dan sejenisnya meskipun harus merogoh kocek daripada harus menonton pagelaran wayang kulit secara gratis.

Jika kita mau menelusuri, banyak hal yang menjadi sebab mengapa para generasi muda sekarang tidak begitu menyukai seni wayang kulit. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa kesenian wayang kulit sudah sangat ketinggalan zaman, tidak up to date, jadul, dan masih banyak lagi alasan yang mengesankan ketidaktertarikan.

Rata-rata mereka yang tidak menyukai wayang kulit merasa tidak paham dengan bahasa yang dipakai sang dalang dalam percakapan wayang yang masih menggunakan bahasa Jawa kuno (kawi) dan bahasa rinengga (jenis sastra jawa). 

Selain itu, instrumen penggiring sebuah pagelaran wayang kulit yang berupa gamelan tidak begitu familiar di telinga generasi muda yang notabene saat ini lebih banyak yang menggandrungi musik-musik populer dan mendewakan lagu berbau mancanegara.

Dalam sebuah pembelajaran di kelas, seorang guru bahasa Jawa di salah satu SMA di Lamongan pernah bertanya pada para peserta didiknya, adakah di antara mereka yang pernah menonton pertunjukan wayang kulit secara langsung? Dari 30 anak yang hadir, yang angkat jari cuma tiga anak. Memprihatinkan, bukan?

Selebihnya, mereka ditanya lagi, pernahkah secara sengaja melihat pagelaran wayang kulit di TV, kaset DVD, maupun via YouTube? Dari 27 anak, hanya ada dua yang pernah. Miris, nggak? 

Cerita ini bukan rekaan semata. Pengalaman ini di alami langsung oleh penulis ketika sedang berada dalam proses kegiatan pembelajarannya.

Hal ini sangat ironi sekali. Padahal, dunia internasional, melalui UNESCO, telah mengakui wayang kulit pada tanggal 7 November 2003 sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Maksudnya kurang lebih, karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah serta berharga. Sungguh prestasi yang membanggakan bangsa Indonesia di kancah dunia.

Wayang kulit penuh dengan nilai-nilai. Hal ini tercermin pada karakter tokoh, cerita, maupun berbagai unsur lain yang mendukung. Semua unsur tersebut sangat cocok jika dijadikan sebagai rujukan pengembangan dan penguatan karakter bangsa. Wayang kulit diakui sebagai karya agung karena mempunyai nilai tinggi bagi peradaban umat manusia.

Dari segi karakter tokoh pewayangan, adanya bala tengen dan bala kiwa menjadikan wayang kulit seperti halnya cerminan kehidupan. Bala tengen adalah sebutan untuk tokoh-tokoh wayang yang mempunyai sifat dan watak yang baik, seperti para pandawa dan keturunannya. 

Begitu pun sebaliknya, bala kiwa dikenal oleh para penggemar wayang kulit sebagai tempatnya para tokoh pewayangan yang berwatak jahat dan angkara murka. Jadi, dalam dunia pewayangan, tidak ubahnya seperti kehidupan manusia di alam nyata.

Bagi penggemar wayang kulit, tokoh-tokoh dalam pewayangan tidak hanya sekadar cerita fiktif belaka. Mereka umumnya sangat tersugesti seolah-olah tokoh pewayangan tersebut benar-benar ada dan nyata. 

Tidak jarang ketika menonton pagelaran, jika mendapati kisah-kisah yang menyedihkan, para penonton akan terbawa suasana yang sedih juga. Jika jagoan mereka, toko bala tengen dicurangi atau kalah dalam peperangan, mereka juga ikut gusar dan kecewa.

Saking senangnya para penggemar terhadap tokoh wayang kulit, biasanya mereka memajang tokoh-tokoh, baik seperti Werkudara, Gathotkaca, Kresna, arjuna, dan lain-lain baik di ruang tamu, kamar ataupun tempat kerja. 

Bahkan ada juga yang menamai anak mereka dengan nama tokoh pandawa dan tokoh lainnya yang berwatak baik. Tidak pernah ada orang tua yang memberi nama anak mereka dengan nama dari tokoh-tokoh jahat, seperti Dasamuka, Sengkuni, duryudana, dan lain-lain.

Dari segi penceritaannya, sumber cerita yang paling populer umumnya berasal dari wiracarita Mahabaratha dan Ramayana. Inti cerita dari kedua sumber cerita tersebut sejatinya menampilkan dua kepentingan dari dua kubu yang bertentangan, yaitu kelompok baik dan jahat. Kelompok baik dilakonkan oleh para tokoh yang berkarakter baik, sedang kelompok jahat diperankan oleh para tokoh berkarakter jahat.

Ada banyak tokoh pada kedua kelompok tersebut masing-masing dengan karakter khasnya. Tokoh-tokoh baik inilah yang pantas dijadikan contoh dalam bertingkah laku, dijadikan fokus pencarian nilai-nilai kebajikan, dan dijadikan inspirasi pendidikan karakter. 

Di pihak lain, sebagai sebuah cerita, tokoh-tokoh karakter jahat juga dibutuhkan. Karena tanpa mereka, cerita tidak akan berkembang dan tidak menarik. Selain itu, keberadaan karakter baik justru akan makin terlihat jika berada dalam pertentangannya dengan yang jahat.

Karakter tokoh-tokoh baik inilah yang banyak mengilhami dan dijadikan tuntunan dalam pengembangan dan penguatan karakter. Tokoh Pandawa (lima orang bersaudara), anak keturunan, dan kerabatnya biasa dijadikan teladan dalam upaya pencarian nilai-nilai keluhuran. 

Para penonton pertunjukan wayang akan berpihak kepada para tokoh baik ini. Mereka akan membenci para tokoh Kurawa karena sifatnya yang menyalahi naluri kemanusiaan, wataknya jahat, tamak, dan merebut yang bukan haknya.

Jadi, dalam sebuah pertunjukan, pagelaran wayang kulit ini tidak hanya sebagai tontonan, melainkan juga tuntunan dan secara tidak langsung mampu mensugesti masyarakat untuk mempunyai kepribadian dan karakter yang selalu menjunjung tinggi kebaikan.