Beberapa tahun yang lalu, seorang penulis anonim melesatkan kisah-kisah satire sufistik di media sosial dalam kisah antologi “Wali Paidi” yang sangat kocak dan kacau. Kisah-kisahnya dapat Anda ikuti di sini.

Namun, sayang sekali serinya tidak berlanjut. Mungkin penulisnya kehabisan ide atau mengalami writer’s block, sesuatu yang sering menghantui penulis, yaitu putusnya ilham dan ide cerita dari Tuhan Yang Maha Esa. 

Rata-rata begitulah ketika penulis, terutama yang mengambil basis ide dari dunia sufistik, pada akhirnya terbentur pada buntunya ide. Hal ini terjadi karena kurang pengalaman dan terlalu banyak mengumbar absurditas. Sesuatu yang “ajaib” atau “mukjizat” akan habis juga pada waktunya.

Jika Anda tekuni kisahnya yang sampai hari ini pada seri ke-40 itu, dijamin menghasilkan beberapa residu yang mengendap dengan berbagai wacana dan pergulatan nalar yang menarik.

Mumpung juga ramai-ramainya pembicaraan tentang lem Aica-Aibon, kurang pas rasanya untuk tidak ikut membicarakannya. Tentunya dengan sudut pandang yang berbeda dan khas.

Lem Aica-Aibon yang ramai digugat itu adalah urusan duit besar, uang rakyat; atau lebih halusnya, uang negara.

Apakah ada bagian lem Aica-Aibon untuk seorang yang bernama Wali Paidi tersebut? Mari kita jemput keduanya dalam sebuah pertarungan absurditas ala Albert Camus dan kegilaan ala Michael Angelo yang biasa disebut sebagai agony dan ecstasy.

Ambil saja kisah seri saru yang berjudul Berkumpulnya 40 Wali Allah pada Hari Arofah, pembaca akan dihadapkan pada kenyatan indrawi empiris, nalar rasionalis yang bergulat dengan absurditas yang menghibur dari sebuah fiksi energik. 

Pada seri judul tersebut, tampak adanya pergulatan antara ide-ide dan pengetahuan manusia untuk mencari kebenaran. Objek yang menjadi pergulatan manusia dapat berupa suatu keadaan nyata, jelas, pasti, yaitu realitas dan sebaliknya. Ketiadaan dari suatu kenyataan, kejelasan, dan kepastian dapat dikatakan sebagai absurditas.

Pada kisah Wali Paidi seri ke-1, contoh absurditasnya, semisal, bagaimana tertatihnya dan susah payahnya sang pimpinan para wali yang bergelar Sulthon ul Auliyah itu saat menaiki bukit, di mana pertemuan akbar para wali dunia digelar.

Sedang, wali-wali lainnya dengan seenaknya saja mencapai puncak bukit dengan hanya sekali pejam mata, naik burung, keluar dari bumi, atau cara-cara lain yang jelas sangat nyaman dibanding sang pimpinan yang tertatih itu.

Pun begitu, kisah lem Aica-Aibon yang sedang ramai, nilai absurditasnya adalah ketika yang berkepentingan dan yang berseteru akan dengan susah payah dan tertatih menggapai puncak pembelaan dengan versi kebenaran masing-masing, bak sang pimpinan wali saat menuju puncak bukit.

Sementara yang lainnya (komponen yang tidak ikut campur plus yang apatis), dengan seenaknya akan menilai pula sesuai dengan parameter kebenaran masing-masing. Seperti halnya para anggota wali lainnya yang dengan seeenaknya mencapai bukit dengan segala fasilitas supergaib dan kesaktian masing-masing.

Keabsurdan yang mirip dengan cerita Albert Camus dalam Mitos Sisifus. Di mana Sisifus berulang kali menaiki bukit dengan tujuan yang ia yakini kebenarannya. Dengan kata lain, Sisipus mengalami agony (kesakitan susah payah) yang nikmat atau (ecstasy). Sementara, orang lain akan menilai tindakan Sisipus sebagai sebuah absurditas atau kesia-siaan belaka.

Ekstasi dan agoni akan beriringan dengan absurditas; yang rata-rata sulit dimengerti orang lain. Karena basis bertolaknya yang berlainan, atau diukur dengan kebenaran masing-masing.

Begitu pun tentang anggaran lem-lem dan lainnya itu merupakan absurditas yang sangat nikmat (ekstasi) dari sebuah susah payah (agoni) untuk mempertahankan hidup.

Lem dan anggaran lainnya yang mungkin aneh bagi sebagian orang adalah keadaan seperti yang dikatakan Nietzsche: kita memiliki seni agar tidak mati, karena dengan itu kita mengenal kebenaran. Seni apa pun, termasuk seni korupsi, atau seni menggelembungkan sesuatu agar tidak mati (lapar, tak kebagian uang rakyat).

Kebenaran merupakan suatu hal yang berada di tengah kesenian dan kematian. Maka dengan kaidah tersebut, legenda Wali Paidi (yang putus seri) dan yang akan jadi “legenda” lem Aica-Aibon, keduanya sama-sama melakukan seni sesuai dengan ketakutan akan kematian (putus seri atau tak kebagian uang rakyat). 

Albert Camus dalam Mitos Sisifus mencoba merumuskan absurditas yang menjadi pergulatan manusia selama ini. Bagaimana cemasnya ketika manusia menghadapi kondisi di mana realitas dan patokan idealisme sedang bertabrakan. Manusia akan mencari keuntungan dan kepentingan pribadi yang terlihat ditawarkan oleh suatu kenyataan.

Apabila nalar belum menemukan jawaban, maka manusia itu mengambil tambahan data (korup, intrik, pembusukan) melalui akibat yang muncul dari kondisi tersebut.

Ketika titik absurditas mencapai kulminasinya, nalar yang waras sering kali menggerakkan dan menghidupkan manusia melebihi apa yang dapat dilakukan oleh imajinasi. Termasuk, membuat anggaran lem Aica-Aibon dan tetek bengek-nya. Pun, si Wali Paidi dengan segala kelebihan dan kesaktiannya.

Untungnya, kisah Wali Paidi masuk genre fiksi thriller yang kadang horor, hehehehe. Tapi, yang ini, yang Aica-Aibon ini, hampir saja menjadi genre romantic drama yang bikin kepayang.