Dalam cerita Dewa Ruci ada sebuah kisah Bima mencari Tirta Pawitra yang melambangkan secara filosofis bagaimana manusia harus melakukan perjalanan batin untuk menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi bisa disebut juga dengan asal dan tujuan hidup manusia atau manunggaling kawula Gusti.

Pesan yang termuat dalam kisah ini adalah ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan amanat bagaimana manusia kembali menuju Tuhannya. Dalam konsep manusia dapat diuraikan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dalam konsep Tuhan disebutkan bahwa ia yang awal dan yang akhir, hidup yang menghidupkan, maha tahu dan maha besar.

Perjalanan Bima menuju Tuhan untuk menjadi manusia sempurna (insan kamil) harus dilakukan melalui empat tahapan, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa: sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa). Proses ini sering disebut sebagai proses identifikasi diri atau individualisasi.

Proses yang dilakukan Bima untuk mencari identitas diri ini merujuk pada hadis nabi yang berbunyi:

"من عرف نفسه، فقد عرف ربّه"

Artinya: barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.

Empat Tingkatan Bima Menjadi Manusia Sempurna

1). Syariat (Sembah Raga)

   Syariat atau sembah raga adalah proses perjalanan untuk menjadi manusia sempurna yang paling rendah, dengan cara melaksanakan amalan-amalan badaniah atau lahiriah dari segala hal hukum agama, amalan-amalan tersebut mencakup hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam.

Orang yang melaksanakan tingkatan syariat, dalam berhubungan dengan sesama manusia seperti dengan orang tua, pimpinan, guru, ia hormat serta taat. Ketika dia bergaul dengan siapa pun bersikap jujur, lemah lembut, sabar, saling mengasihi, dan beramal saleh.

2). Tarekat (Sembah Cipta)

Tarekat atau sembah cipta adalah tahapan yang lebih maju dari syariat. Dalam tahapan ini amalan syariat lebih diperdalam lagi dan ditingkatkan, dalam tingkatan ini lebih banyak menyangkut tentang hubungan dengan Tuhan daripada hubungan dengan manusia dan alam.

Dalam tingkatan ini manusia dituntut untuk menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan dan melepaskan perbuatan yang maksiat, dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Dalam cerita Bima kepada gurunya ia berserah diri laksana mayat dan menyimpan ajarannya dari orang lain.

Dalam tingkatan ini bukan hanya salat wajib yang dilaksanakan akan tetapi juga memperbanyak salat sunah, memperbanyak doa, berzikir, selalu mengingat kepada Tuhan. Bukan hanya puasa wajib saja yang dilakukan akan tetapi juga memperbanyak puasa sunah.

Mengurangi makan dan lebih banyak menahan lapar, malam hari berjaga untuk melakukan ibadah bukan untuk hanya sebatas begadang, serta tidak banyak bicara, melakukan uzlah, dan melakukan khalwat. Berpakaian sederhana kemudian ia hidup mengembara seperti fakir.

Bagian-bagian cerita Dewa Ruci yang menyatakan sebagian tahap Tarekat di antaranya terdapat pada pupuh II Pangkur bait 29-30. Bima setelah perang melawan raksasa digunung candramukah dan tidak mendapatkan air suci kemudian kembali ke gurunya.

Kemudian Bima bertanya kepada gurunya di mana letak air suci sesungguhnya, kemudian gurunya menjawab “tempatnya berada di tengah samudera” mendengar jawaban itu Bima tidak gentar dan tidak putus asa, ia menjawab “Jangankan di tengah samudra, di atas surga atau di dasar bumi sampai lapis tujuh pun ia tidak akan takut menjalankan perintah Sang Pendeta”.

3). Hakikat (Sembah Jiwa)

Setelah melalui tahapan syariat dan tarekat, kemudian memasuki tahapan Hakikat. Dalam tahapan ini dapat diperoleh dengan mengenal Tuhannya lewat dirinya, di antaranya dengan melaksanakan salat, berdoa, berzikir, atau menyebut asma Tuhan dengan terus menerus.

Amalan yang dilakukan dalam tahap ini hanya hubungan manusia dengan Tuhan. Hidupnya yang menyangkut tentang lahir ditinggalkan dan melaksanakan yang batin. Setelah melakukan cara seperti itu maka tirai (hijab) yang menghalangi Hamba dengan Tuhan akan terbuka (inkisyaf).

Penghalang hamba dengan Tuhan adalah hawa nafsu tentang duniawi. Setelah penghalang terbuka, hamba akan merasakan bahwa dirinya dan alam itu tidak ada, yang ada hannyalah yang ada, yang awal tidak ada permulaan dan yang akhir tidak yang terakhir.

Dalam tahapan ini biasanya disebut dengan keadaan mati dalam hidup dan hidup dalam kematian. Ketika tingkat hakikat tercapai, manusia akan mengalami suasana yang cerah atau terang sekali dan berkilau dalam rasa lupa, antara sadar dan tidak sadar. Dalam keadaan ini muncul nyala sejati atau Nur Ilahi. 

Pada tahap hakikat ini, tokoh Bima mengalami, di antaranya: mengenal Tuhan melalui dirinya sendiri, mengalami dan melihat dalam suasana alam yang kosong, dan melihat berbagai macam cahaya ( Pancarannya, empat warna cahaya, sinar tunggal berwarna delapan, dan benda bagaikan boneka gading yang bersinar).

4). Makrifat (Sembah rasa)

Makrifat atau sembah rasa adalah tingkatan menuju manusia sempurna yang paling tinggi, makrifat adalah ilmu atau mengetahui sesuatu dengan pasti. Dalam tasawuf makrifat yaitu mengenal atau mengetahui Tuhan secara langsung dengan sebenar-benarnya melalui wahyu atau petunjukNya, meliputi zat dan sifatnya.

Dalam tahapan ini dapat diperoleh melalui hakikat, yaitu ketika diketahui melalui terbukanya penghalang yang menutup hati yang menghalangi manusia dengan Tuhannya. Setelah penghalang terbuka maka hamba akan merasakan bahwa diri hamba dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada.

Dalam keadaan seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Keadaan seperti ini tidak dapat dijelaskan melalui akal, yang dirasakan hannyalah indah. Dalam masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula Gusti, pamoring Kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, warongko manjing curiga-curiga manjing warongko.

Keadaan yang dialami Bima yang menggambarkan bahwa ia telah mencapai makrifat, ketika ia merasa kondisinya bersama Tuhannya seperti air dan ombak, nikmat dan bermanfaat, semua yang diinginkan tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, dan bersinar seperti cahaya bulan purnama yang menyinari bumi.